SUARAMALANG.COM, Kota Batu– Kota Batu kembali menjadi sorotan internasional dengan terselenggaranya Forum Asian Creative Landscape Association (ACLA) dan Asian Agricultural Conference (AAC) 2025. Pertemuan akademik berskala internasional ini mempertemukan lebih dari 100 peserta dari 10 negara Asia, meliputi akademisi, peneliti, seniman, pelajar, pembuat kebijakan, hingga tokoh budaya.
Forum yang digelar di Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) ini bertujuan memperkuat kolaborasi lintas negara, berbagi pengetahuan, serta merumuskan strategi bersama menghadapi tantangan pembangunan global di bidang arsitektur lanskap, perencanaan kota, pertanian berkelanjutan, hingga pengembangan kota kreatif.
Batu Sebagai Creative City Berbasis Pertanian
Wali Kota Batu, Nurochman, dalam sambutannya menekankan pentingnya pertemuan internasional semacam ini untuk menyatukan gagasan dari berbagai latar belakang.
“Kehadiran dan partisipasi setiap pihak sangat dibutuhkan dalam komunitas global yang terus berkembang,” ujarnya, Kamis kemarin
Ia menegaskan, Kota Batu memiliki potensi pertanian yang bukan hanya sebagai sektor produksi, tetapi juga ruang inovasi.
“Pertanian di Batu berkembang menjadi agrowisata, kuliner, teknologi pertanian, dan sektor kreatif. Inilah kekuatan Kota Batu sebagai creative city berbasis pertanian, budaya, dan ekologi,” tambahnya.
Nurochman juga menyebut keberhasilan Kota Batu tidak lepas dari harmonisasi masyarakat, perpaduan budaya, dan agrowisata yang telah dikenal hingga tingkat internasional.
Apresiasi dari Tokoh Internasional
Forum ACLA–AAC turut dihadiri tokoh internasional, di antaranya Chairman ICF Mr. Chun Hong Duck, Anggota DPR Korea Jung Eun Hye, President ACLA Prof. Chun Hyun Jin, Prof. Nappy L. Navarra (University of the Philippines), Dr. Siti Nurisjah (IPB Bogor), serta Dr. Ngo Viet Nam Son (Van Lang University, Vietnam).
President ACLA, Prof. Chun Hyun Jin, mengapresiasi Kota Batu sebagai tuan rumah forum ini.
“Kota Batu adalah contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat menjadi dasar membangun kota yang kreatif dan berkelanjutan. Ini menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Asia,” jelasnya.
Senada, Dr. Ngo Viet Nam Son menekankan pentingnya forum ini untuk memperkuat jejaring lintas negara. “Batu memiliki reputasi global di bidang agrowisata. Kolaborasi semacam ini membuka peluang baru bagi penelitian, inovasi, serta pertukaran pengetahuan,” ujarnya.
Harapan untuk Pembangunan Berkelanjutan
Melalui simposium internasional ini, Pemerintah Kota Batu berharap lahir gagasan-gagasan inovatif, perluasan jaringan kerja sama, serta kontribusi positif bagi pembangunan berkelanjutan, baik di level lokal, nasional, maupun internasional.
Wali Kota Batu juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) yang menjadi tuan rumah akademik kegiatan tersebut.
“Perguruan tinggi adalah sumber intelektual dan inovasi yang akan memperkuat Kota Batu. Kehadiran generasi penerus yang berdaya saing dan berwawasan global, namun tetap berpegang pada kearifan lokal, adalah kunci masa depan kota ini,” tutupnya
Pewarta : *Solihin