Opini  

Kreator Digital Antara Jam Kerja, Prestise dan Penghasilan yang Tidak Sebanding

SUARAMALANG.COM--Dimasa sekarang semua orang ingin menjadi konten kreator, semua ingin dikenal, viral di sosial media dan cerita sukses di media sosial. Namun sayangnya kenyataannya berbeda, dibalik layar banyak kreator bekerja setiap hari tanpa kepastian penghasilan. Platform tumbuh dengan cepat dan mengahruskan para Kreator menyesuaikan diri terus.

Realita yang terjadi di lapangan yang sering dialami pada industri kreatif digital Indonesia ada pada sistem platform yang menuntut produktivitas tinggi tanpa memberi rasa aman bagi kreator sehingga Kreator diperlakukan seolah oleh menjadi sebuah mesin konten.

Ada beberapa poin penting disini, pertama, tekanan unggah konten hadir tanpa berhenti. Kreator diharuskan untuk bangun dengan pikiran yang sama setiap hari. Harus unggah hari ini, Takut tertinggal, Takut dilupakan algoritma, Sekali berhenti, jangkauan turun drastis. Banyak kreator bekerja dari pagi sampai malam. Delapan jam tidak pernah cukup. Tidak ada jam pulang. Tidak ada hari libur. Kerja terasa bebas, tapi sebenarnya terikat.

Kedua, penghasilan bergerak tanpa pola yang bisa dipahami. Satu video bisa meledak dan memberi harapan. Puluhan video berikutnya sepi dan tidak menghasilkan apa apa. Kreator tidak tahu apa yang salah. Konten sama. Usaha sama, hasil berubah. Platform tidak memberi penjelasan yang masuk akal. Ketidakpastian ini memaksa kreator terus mencoba, terus memproduksi, meski lelah.

Ketiga, kelelahan mental dianggap risiko pribadi. Kreator harus selalu tampil menarik. Wajah boleh lelah, konten tidak boleh turun. Angka tayangan dan komentar menjadi penentu suasana hati. Saat angka turun, rasa gagal muncul. Saat respons negatif datang, tekanan bertambah. Sistem tidak menyediakan ruang istirahat. Tidak ada jeda aman untuk berhenti tanpa dihukum penurunan jangkauan.

Keempat, kreator tidak benar benar memiliki audiens. Pengikut ada, tapi kendali tidak di tangan kreator. Semua data dikuasai platform.Ketika akun dibatasi atau ditutup, seluruh kerja bertahun tahun bisa hilang dalam satu hari. Tidak ada penjelasan yang jelas. Proses banding sering tidak dijawab. Kreator kehilangan identitas digital dan sumber penghasilan sekaligus.

Kelima, negara hadir lebih banyak lewat kata kata. Pemerintah memuji industri kreatif dalam pidato dan kampanye. Di level kebijakan, kreator dibiarkan berjalan sendiri.

Tidak ada perlindungan pendapatan minimum. Tidak ada pengakuan sebagai pekerja digital. Kreator diposisikan sebagai individu mandiri, padahal mereka berada dalam sistem yang sangat terstruktur dan timpang.

Industri kreatif digital seharusnya berdiri di atas kerja manusia, bukan mengurasnya. Kreator bukan sekadar pengisi linimasa. Mereka pekerja yang menggerakkan trafik, iklan, dan keuntungan platform. Tanpa kreator, ekosistem digital tidak berjalan.

Platform perlu membuka cara kerja sistemnya. Kreator berhak tahu alasan jangkauan turun dan pendapatan berubah. Transparansi algoritma memberi kepastian kerja. Platform juga perlu menetapkan batas produktivitas yang sehat. Insentif tidak boleh hanya berbasis kuantitas unggahan. Kualitas dan keberlanjutan harus dihitung.

SKEMA MONETISASI HARUS DIBENAHI

Pembagian pendapatan harus lebih proporsional. Kreator kecil perlu akses monetisasi sejak awal, bukan setelah mencapai angka tertentu. Pendapatan dasar berbasis jam tayang atau kontribusi konten bisa menjadi opsi realistis. Negara harus hadir nyata. Kreator perlu diakui sebagai pekerja kreatif digital. Aturan soal transparansi platform dan mekanisme pengaduan harus jelas.

Akses jaminan sosial dan perlindungan pendapatan perlu dibuka. Pasalnya, ekosistem ini terus dibiarkan, industri kreatif digital akan melahirkan generasi pekerja lelah tanpa kepastian. Kreativitas tidak tumbuh dalam tekanan terus menerus. Industri ini hanya bisa bertahan jika manusia di dalamnya diperlakukan secara adil.

Penulis : Aji Hikmal, Mahasiswa FISIP Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang

Exit mobile version