SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di Kota Malang masih akan dievaluasi secara menyeluruh sebelum diperluas ke sekolah lain, menyusul temuan sejumlah aspek teknis yang perlu disempurnakan, terutama terkait pengelolaan waktu belajar siswa.
Program MBG prasmanan tersebut pertama kali diterapkan di MIN 2 Kota Malang pada Kamis (2/4/2026) dan dihadiri langsung oleh Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersama jajaran perangkat daerah serta anggota DPRD.
Evaluasi MBG Prasmanan dan Efektivitas Waktu
Wali Kota Malang menekankan bahwa meskipun konsep prasmanan memberikan keleluasaan bagi siswa dalam memilih menu dan porsi, terdapat konsekuensi terhadap durasi kegiatan belajar mengajar.
“Yang harus diperhatikan adalah soal waktu. Karena ini antre dan makan butuh waktu, tentu ada potensi jam pelajaran tersita. Ini yang harus diatur,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, sistem distribusi makanan secara langsung seperti pada model nasi kotak dinilai lebih efisien karena tidak memerlukan antrean panjang, sehingga siswa dapat segera kembali ke kegiatan belajar.
Namun demikian, ia mengakui bahwa pendekatan prasmanan menghadirkan kualitas makanan yang lebih baik karena disajikan dalam kondisi hangat dan lebih segar.
“Karena tidak langsung dimasukkan ke kotak, makanan lebih fresh. Ini yang membuat siswa juga lebih menikmati,” tambahnya.
Skema Kebijakan dan Peluang Perluasan
Hasil evaluasi dari uji coba ini akan dihimpun oleh Pemerintah Kota Malang untuk kemudian dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bahan pertimbangan kebijakan lanjutan.
Keputusan untuk memperluas penerapan sistem prasmanan akan bergantung pada hasil kajian tersebut, termasuk kesiapan masing-masing sekolah dari sisi fasilitas dan pengaturan teknis.
Wali Kota juga membuka peluang penerapan di sekolah lain, dengan catatan mempertimbangkan kondisi riil di lapangan agar tidak mengganggu proses pembelajaran.
Implementasi Lapangan dan Tantangan Teknis
Di sisi pelaksanaan, Kepala SPPG Kota Malang wilayah Sukun, Gadang 2, Ita Herlistyowati, menjelaskan bahwa uji coba ini melibatkan sekitar 1.600 porsi makanan yang disiapkan untuk siswa dan tenaga pendidik.
Menu yang disajikan menyesuaikan momentum Lebaran, seperti ayam, sayur, telur kecap, kerupuk, hingga es buah, dengan sistem pengambilan mandiri oleh siswa melalui beberapa jalur antrean.
Pengawasan dilakukan oleh tim SPPG dan guru untuk memastikan porsi tetap terkendali dan tidak berlebihan.
Ita mengakui bahwa sistem prasmanan menghadirkan kompleksitas baru dalam aspek logistik, terutama pada tahap distribusi dan penataan makanan di lokasi.
“Kalau prasmanan ini memang lebih ribet di persiapan. Karena makanan dibawa dalam jumlah besar dan harus ditata di lokasi. Beda dengan ompreng yang sudah siap dibagikan,” jelasnya.
Menimbang Efektivitas Program MBG
Uji coba MBG prasmanan di Kota Malang mencerminkan upaya pemerintah dalam mencari model distribusi makanan yang tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga efektif secara operasional.
Di satu sisi, kualitas makanan dan pengalaman siswa menjadi nilai tambah, namun di sisi lain efisiensi waktu dan kesiapan infrastruktur menjadi faktor krusial yang tidak dapat diabaikan.
Keputusan akhir terkait model yang akan diterapkan secara luas akan sangat ditentukan oleh hasil evaluasi komprehensif, termasuk keseimbangan antara kualitas layanan, efisiensi pembelajaran, dan kapasitas teknis sekolah
