Melepas Mahasiswa Bakti Desa 2026: UB Mengirim 1.140 Mahasiswa Bangun Desa, Perkuat Kolaborasi Internasional dan Living Laboratory

SUARAMALANG.COM, Kota Malang— Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) secara resmi melepas 1.140 mahasiswa peserta FISIP Bakti Desa 2026, sebuah program pengabdian masyarakat yang mengedepankan kolaborasi lintas sektor, internasionalisasi, dan pengembangan desa berbasis living laboratory, Jumat ( 26/06/2026).

Program yang berlangsung selama satu bulan menjadi salah satu implementasi tridarma perguruan tinggi melalui pemberdayaan masyarakat sekaligus memberikan pengalaman belajar langsung bagi mahasiswa di tengah kehidupan desa.

Dekan FISIP UB, Dr. Ahmad Imron Rozuli, S.E., M.Si., menegaskan bahwa mahasiswa hadir di desa bukan untuk menggurui masyarakat, melainkan belajar bersama memahami persoalan sekaligus menggali berbagai potensi yang dimiliki desa.

“Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat bukan untuk merasa paling tahu, tetapi belajar bersama masyarakat, memahami dinamika sosial, mengenali potensi lokal, serta bersama-sama menghadirkan solusi yang bermanfaat,” ujarnya.

Bakti Desa Melibatkan Mahasiswa Internasional

Ia menjelaskan, FISIP Bakti Desa 2026 melibatkan 1.122 mahasiswa FISIP UB angkatan 2024, mahasiswa internasional dari berbagai perguruan tinggi mitra di Polandia, Tiongkok, Pakistan, Malaysia, Filipina, serta 58 dosen pendamping, termasuk 11 dosen asing yang akan terlibat langsung dalam pendampingan di lapangan.

Menurut Ahmad Imron, keterlibatan mahasiswa dan dosen dari berbagai negara menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi internasional dalam menyelesaikan persoalan pembangunan desa.

“Kolaborasi multistakeholder ini diarahkan untuk mengembangkan potensi desa sekaligus mengurai berbagai persoalan masyarakat, mulai dari bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, hingga pengembangan desa wisata dan ekonomi lokal,” jelasnya.

Ia menambahkan, salah satu agenda strategis program tahun ini adalah pengembangan Living Laboratory, yaitu laboratorium lapangan yang menjadi pusat pembelajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, sekaligus pendampingan berkelanjutan.

“Program pengabdian memang berlangsung sekitar satu bulan, tetapi pendampingan akan terus dikembangkan selama lima hingga enam bulan berikutnya sebagai fondasi pengembangan desa secara berkelanjutan,” katanya.

Untuk mendukung keberhasilan program tersebut, FISIP UB menggandeng berbagai pihak, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah desa, TNI, Polri, organisasi nonpemerintah (NGO), hingga sektor korporasi.

Kolaborasi dengan dunia usaha diarahkan untuk mendukung pengembangan fasilitas desa wisata, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pemanfaatan potensi lokal agar memberikan manfaat yang lebih besar, khususnya bagi kelompok masyarakat miskin dan rentan.

Lokasi pelaksanaan FISIP Bakti Desa tersebar di Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar, serta Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Di Lombok Utara, fokus kegiatan diarahkan pada peningkatan motivasi melanjutkan pendidikan dari jenjang SMP menuju SMA hingga perguruan tinggi, sekaligus mendukung pengembangan sumber daya manusia di kawasan Indonesia Timur.

Sementara itu, di Kabupaten Malang, mahasiswa akan mengembangkan berbagai program sesuai karakteristik wilayah. Di kawasan daerah aliran sungai, kegiatan difokuskan pada ketahanan air, konservasi lingkungan, pengelolaan irigasi, serta rehabilitasi kawasan sempadan sungai bersama TNI dan Polri melalui kegiatan pengangkatan sedimentasi.

Sedangkan di Desa Pandansari, Kecamatan Jabung, dan Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, FISIP UB tengah menyiapkan pengembangan Living Laboratory yang terintegrasi dengan konsep desa wisata tematik sesuai potensi lokal masing-masing.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., memberikan pesan inspiratif kepada seluruh peserta agar memanfaatkan pengabdian masyarakat sebagai ruang belajar yang sesungguhnya.

Menurutnya, di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), mahasiswa ilmu sosial harus memiliki keunggulan yang tidak dapat digantikan teknologi.

“Indonesia mempertaruhkan masa depannya kepada generasi muda. AI mungkin mampu mengolah data, tetapi tidak mampu memahami dinamika sosial, memiliki empati, ataupun membangun kepemimpinan kolaboratif,” ujarnya.

Rektor Minta Desa sebagai Laboratorium Kehidupan

Rektor menekankan lima kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa, yakni kemampuan analisis sosial, komunikasi dan empati, kerja sama serta kepemimpinan kolaboratif, kemampuan adaptasi dan pemecahan masalah, serta integritas dan etika.

Ia juga mengingatkan agar mahasiswa menjadikan desa sebagai laboratorium kehidupan (living laboratory) untuk belajar memahami budaya, mendengarkan masyarakat, membangun solusi bersama, sekaligus memberikan dampak nyata.

“Jangan datang untuk menggurui masyarakat. Datanglah sebagai pembelajar yang mau mendengar, menghargai, dan tumbuh bersama masyarakat. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain,” pesannya.

Melalui FISIP Bakti Desa 2026, Universitas Brawijaya berharap mampu memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan mitra internasional dalam mewujudkan pembangunan desa yang berkelanjutan, sekaligus mencetak lulusan yang adaptif, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial tinggi.

Pewarta: *Halim Ali

Exit mobile version