Memetri di Petren Jadi Penanda Dimulainya Bersih Desa Polowijen 2026

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Tradisi Memetri atau Barikan di Petren Situs Joko Lolo menjadi penanda dimulainya rangkaian Bersih Desa Kelurahan Polowijen Tahun 2026. Ritual adat yang digelar Minggu (21/6/2026) pagi di kawasan Situs Joko Lolo, Kompleks Makam Polowijen, berlangsung khidmat dan diikuti ratusan warga.

Sejak pagi, masyarakat tampak memadati lokasi dengan membawa berbagai sajian tradisional sebagai wujud rasa syukur. Nasi tumpeng, sego besek, aneka jajanan pasar hingga berbagai hidangan khas ditempatkan dalam encek atau wadah dari pelepah batang pisang. Suasana sakral semakin terasa dengan keberadaan sesaji cok bakal dan kepulan asap dupa di bawah pohon beringin yang berada di kawasan situs.

Antusiasme warga pada pelaksanaan tahun ini meningkat signifikan. Jumlah peserta yang hadir diperkirakan mencapai sekitar 300 orang atau hampir tiga kali lipat dibandingkan pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya.

Peningkatan partisipasi tersebut dinilai menjadi indikator semakin kuatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga tradisi warisan leluhur. Selain itu, kegiatan juga menjadi ruang pertemuan sosial yang mempererat hubungan antarmasyarakat di Kelurahan Polowijen.

Tokoh masyarakat Polowijen sekaligus Anggota DPRD Kota Malang, Eddy Wijanarko, mengatakan Bersih Desa merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat atas berbagai nikmat yang telah diterima selama ini.

“Bersih Desa adalah tradisi rasa syukur masyarakat. Polowijen telah diberikan rezeki, ketenteraman, dan pembangunan yang terus berjalan. Melalui Barikan dan Memetri di Petren ini, masyarakat dapat mempererat tali silaturahmi sekaligus menjaga warisan budaya leluhur,” ujarnya.

Menurut Eddy, tradisi tersebut tetap dilaksanakan meski masyarakat saat ini menghadapi berbagai tantangan ekonomi, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok hingga bahan bakar minyak. Baginya, kondisi tersebut tidak mengurangi semangat warga untuk tetap melestarikan budaya sekaligus mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Ia menambahkan, Bersih Desa tidak hanya memiliki makna spiritual dan budaya. Momentum tersebut juga menjadi sarana memperkuat semangat gotong royong dan kebersamaan warga dalam memperjuangkan pembangunan wilayah.

Salah satu aspirasi yang terus didorong masyarakat, lanjut Eddy, adalah hadirnya sekolah menengah pertama negeri (SMPN) di wilayah Polowijen. Keberadaan sekolah negeri dinilai penting untuk mendukung peningkatan akses dan kualitas pendidikan bagi masyarakat setempat.

Sementara itu, tokoh masyarakat Polowijen, Effendi, SH, menjelaskan bahwa wilayah Polowijen memiliki akar sejarah yang panjang. Nama Desa Panawidyan disebut dalam Prasasti Wurandungan Kanjuruhan B yang berangka tahun 865 Saka atau 943 Masehi pada masa pemerintahan Raja Mpu Sindok dari Kerajaan Mataram Kuno.

Menurut Effendi, prasasti tersebut menetapkan Panawijyan atau Panawidyan sebagai wilayah sima atau desa perdikan. Status tersebut diberikan kepada daerah yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak karena memiliki tugas khusus merawat bangunan suci atau mandala.

“Pada masa itu masyarakat Panawidyan dinilai memiliki kemampuan ekonomi yang baik. Sebelum memperoleh status sima, masyarakat diwajibkan memberikan upeti berupa seekor kerbau, sejumlah ayam, perak, serta berbagai kebutuhan lainnya. Setelah ditetapkan sebagai daerah sima, kewajiban tersebut dibebaskan karena wilayah ini dianggap mampu mengelola dan membiayai kebutuhan mandalanya sendiri,” jelasnya.

Tradisi Memetri dan Barikan sendiri telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Polowijen sebagai pembuka rangkaian Bersih Desa. Jika dahulu prosesi dilaksanakan setiap Jumat Legi, kini pelaksanaannya disesuaikan pada hari Minggu agar lebih banyak warga dapat berpartisipasi tanpa mengurangi makna dan nilai adat yang diwariskan para leluhur.

Exit mobile version