SUARAMALANG.COM, Yogyakarta – Peresmian monumen Komodor Udara (Anumerta) Husein Sastranegara berlangsung khidmat di Gowongan Lor, Yogyakarta, Selasa (7/4) pagi. Lokasi ini menyimpan sejarah penting bagi TNI Angkatan Udara.
Monumen berdiri tepat di titik jatuhnya pesawat Cukiu saat uji terbang. Peristiwa itu merenggut nyawa Husein Sastranegara dan mekanik Rukidi.
Representasi Keluarga dan TNI AU
Komandan Lanud Abd Saleh, Marsma TNI Reza R.R. Sastranegara hadir mewakili keluarga almarhum. Ia datang bersama Ketua Pia Ardhya Garini Cabang 4/D II.
Kegiatan ini diselenggarakan Akademi Angkatan Udara. Sejumlah pejabat TNI AU, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat turut hadir.
Pesan Keluarga untuk Generasi Muda
Dalam sambutannya, Reza menyampaikan rasa terima kasih atas penghargaan tersebut. Ia menilai monumen ini memiliki makna lebih dari sekadar simbol.
“Monumen ini bukan hanya simbol penghormatan, tetapi pengingat nilai perjuangan dan keberanian,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya menanamkan nilai pengabdian kepada generasi penerus. Menurutnya, semangat itu harus terus hidup di tubuh TNI AU.
Inspirasi dari Pengorbanan
Reza berharap monumen ini menjadi sarana edukasi sejarah. Ia juga ingin generasi muda meneladani semangat juang para pendahulu.
“Monumen ini diharapkan menginspirasi masyarakat untuk menjaga kedaulatan bangsa,” tegasnya.
Komodor Udara Husein Sastranegara dikenal sebagai pelopor penerbangan militer Indonesia. Ia gugur pada 1946 saat menjalankan misi uji terbang.
Penguatan Nilai Patriotisme
Peresmian monumen ini memperkuat ingatan kolektif tentang pengorbanan para pejuang udara. Nilai patriotisme kembali ditegaskan melalui momentum ini.
Sejumlah pejabat turut hadir, termasuk Gubernur AAU Marsda TNI Donald Kasenda. Hadir pula Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X dan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.
Kehadiran berbagai unsur memperlihatkan penghormatan lintas institusi. Momentum ini juga mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat.
Monumen ini kini menjadi penanda sejarah sekaligus ruang refleksi. Masyarakat dapat mengenang perjuangan melalui simbol yang nyata.
