SUARAMALANG.COM, Kota Malang– Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menyiapkan pola baru penataan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Alun-Alun Merdeka. Skema ini disiapkan untuk menjawab dua kepentingan sekaligus: ruang usaha tetap tersedia, sementara trotoar kembali steril dan aman bagi pejalan kaki.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menegaskan, rencana penempatan PKL di Jalan Merdeka Selatan belum final dan akan dibahas dalam Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Forum tersebut melibatkan unsur perguruan tinggi, Organda, pemerintah, LSM, hingga perwakilan Masjid Jami’ Malang.
“Nanti kami bahas bersama di forum. Semua unsur ada di sana, supaya keputusannya komprehensif,” ujar Wahyu.
Dalam rancangan awal, area depan Kantor Pos dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) akan disterilkan dan dijadikan zona khusus PKL. Rekayasa lalu lintas pun disiapkan agar arus kendaraan tetap mengalir.
Kendaraan dari arah timur atau depan Pendopo Kabupaten Malang direncanakan tetap bisa melaju lurus menuju Jalan Kawi. Sementara dari arah utara, pengendara menuju Jalan Kawi dapat melintas di depan Masjid Jami’ atau berbelok kanan menyesuaikan pengaturan yang ditetapkan.
Dalam hal ini, Pemkot Malang tidak ingin bertindak secara terburu-buru. Skema ini akan diuji coba lebih dulu pada akhir pekan, khususnya malam Minggu, mulai pukul 06.00 hingga sekitar pukul 09.00 atau 10.00 WIB.
Setelah jam operasional berakhir, kawasan harus kembali bersih dan tertib. Wahyu mengatakan, seluruh skema yang dirancang tentu akan dikoordinasikan bersama Forum Lalu-Lintas terlebih dahulu.
“Kalau forum memperbolehkan, kami uji coba dulu. Kalau hasilnya baik, bisa saja ditambah hari, mungkin Jumat, Sabtu, Minggu,” jelas Wahyu.
Tak hanya aspek ketertiban, Pemkot juga menghitung dampak ekonomi dari kebijakan tersebut. Uji coba ini diharapkan tetap memberi multiplier effect bagi pelaku UMKM tanpa mengorbankan hak pengguna jalan.
Khusus selama Ramadan, pola serupa juga akan diterapkan. Selama ini, trotoar di sekitar alun-alun kerap dipenuhi PKL hingga memaksa pejalan kaki turun ke badan jalan.
“Trotoar itu fungsi utamanya untuk pedestrian. Kalau dipakai jualan, orang jalan kaki jadi turun ke jalan, itu berbahaya,” tegas Wahyu.
Senada, Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang Widjaja Saleh Putra mengakui setiap Ramadan kawasan Alun-alun Merdeka selalu padat PKL dan parkir liar. Kondisi itu berdampak pada perlambatan arus lalu lintas.
Meski begitu, menurutnya, aktivitas ekonomi warga tetap harus difasilitasi dengan penataan yang terukur.
“Intinya kami atur satu titik, ada pembatasan. Nanti kami uji coba dan evaluasi,” kata Jaya, sapaan akrabnya.
Dengan pendekatan bertahap ini, Pemkot Malang berharap kawasan ikon kota tetap hidup secara ekonomi, tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang publik yang aman dan nyaman bagi semua.
Pewarta: *MS Al Katiri
