SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Belasan siswa kelas 4 SDN 2 Klepu, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, masih menjalani kegiatan belajar mengajar di ruang kelas yang kondisinya membahayakan. Plafon yang rapuh hanya disangga bambu, sementara sebagian material atap mulai berjatuhan.
Sedikitnya 18 siswa setiap hari menempati ruang kelas tersebut. Kondisi bangunan yang terus memburuk memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan siswa maupun tenaga pendidik.
Kerusakan terlihat jelas di bagian plafon. Kayu penyangga sudah lapuk, sedangkan beberapa lembar asbes lepas dan meninggalkan lubang di bagian atas ruang kelas.
Situasi itu membuat siswa belajar dalam rasa waswas. Mereka khawatir material bangunan sewaktu-waktu runtuh saat proses pembelajaran berlangsung.
“Saya khawatir asbes ini jatuh pada saat jam belajar,” ujar siswi kelas 4, Vera Dhanisa Anjellina.
Merasa tak memiliki pilihan lain, para siswa menyampaikan permohonan terbuka kepada Pemerintah Kabupaten Malang. Mereka meminta ruang kelas segera diperbaiki agar kegiatan belajar berlangsung dengan aman.
> “Kami murid kelas 4 SDN 2 Klepu memohon kepada Bapak Bupati Malang, Bapak Camat, Bapak Lurah, dan Bapak Kepala Dinas Pendidikan agar segera memperbaiki ruang kelas kami karena sudah rusak parah dan tidak layak digunakan untuk belajar,” ucap para siswa.
Wali Kelas 4 SDN 2 Klepu, Holland Silaen, mengakui kondisi tersebut sudah lama menjadi kekhawatiran sekolah. Namun, keterbatasan ruang membuat proses belajar tetap berlangsung di kelas yang rusak.
Menurut Holland, bambu hanya menjadi penyangga sementara agar plafon tidak langsung ambruk. Ia mengakui solusi tersebut tidak dapat menjamin keselamatan siswa dalam jangka panjang.
“Yang kami khawatirkan jika masuk musim penghujan nanti. Hal ini sangat berbahaya dan mengancam keselamatan,” katanya.
Mengantisipasi risiko yang lebih besar, pihak sekolah telah berkoordinasi dengan warga sekitar. Jika hujan mulai turun dan kondisi bangunan semakin memburuk, kegiatan belajar akan dipindahkan ke rumah warga.
“Jika musim hujan tiba, saya sudah berkoordinasi dengan warga sekitar untuk meminjam rumah sebagai tempat belajar sementara demi keamanan anak-anak,” ungkap Holland.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa kerusakan bangunan sekolah tidak lagi sekadar mengganggu kenyamanan belajar. Tanpa penanganan cepat dari Dinas Pendidikan maupun Pemerintah Kabupaten Malang, aktivitas belajar puluhan siswa akan terus berlangsung di bawah ancaman bangunan yang sewaktu-waktu dapat membahayakan keselamatan mereka.
