SUARAMALANG.COM, Malang – Prakiraan cuaca Malang Raya pada Kamis, 22 Oktober 2026, menunjukkan kondisi yang beragam. Sejumlah kecamatan di Kota Malang diprakirakan berawan hingga mengalami udara kabur, sedangkan Kota Batu berpotensi mengalami kabut atau asap. Warga perlu memperhatikan kondisi udara di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih meluas di kawasan Gunung Arjuno–Welirang.
Berdasarkan data prakiraan cuaca di situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk Kota Malang, suhu di lima kecamatan diperkirakan berada pada kisaran 20–32 derajat Celsius. Kondisi cuaca yang tercantum meliputi berawan dan udara kabur, dengan kelembapan relatif tinggi.
Di Kecamatan Blimbing, cuaca diprakirakan berawan dengan suhu 20–31 derajat Celsius. Kondisi serupa diperkirakan terjadi di Klojen dengan suhu 20–32 derajat Celsius. Sementara itu, Kedungkandang dan Sukun diprakirakan mengalami udara kabur dengan rentang suhu masing-masing 20–32 derajat dan 20–32 derajat Celsius.
Di Kecamatan Lowokwaru, BMKG juga mencantumkan prakiraan udara kabur dengan suhu 20–31 derajat Celsius. Prakiraan tersebut dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer, sehingga masyarakat disarankan memeriksa pembaruan cuaca sebelum beraktivitas.
Kota Batu dan Sejumlah Wilayah Kabupaten Malang Berpotensi Berkabut
Kondisi yang perlu diperhatikan juga terlihat dalam prakiraan untuk Kota Batu. BMKG mencantumkan potensi kabut atau asap pada 22 Oktober di Kecamatan Batu dan Bumiaji, dengan suhu sekitar 17–26 derajat Celsius. Sementara di Junrejo, kondisi yang diprakirakan adalah udara kabur dengan suhu 18–28 derajat Celsius.
Di Kabupaten Malang, prakiraan cuaca berbeda antarwilayah. Kecamatan Donomulyo diperkirakan mengalami udara kabur dengan suhu 23–29 derajat Celsius. Pagak diprakirakan berpotensi mengalami kabut atau asap dengan suhu 21–30 derajat Celsius. Adapun Bantur dan Sumbermanjing Wetan juga tercatat berpotensi mengalami udara kabur.
Istilah “kabut/asap” dalam prakiraan cuaca tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh kebakaran hutan. Penentuan sumber asap memerlukan informasi pendukung, seperti pemantauan sebaran asap, arah angin, dan hasil pengamatan lapangan.
Kualitas Udara Malang Kategori Sedang, Karhutla Masih Perlu Diwaspadai
Pada laman pemantauan partikulat PM2.5 BMKG, Kota Malang tercatat memiliki konsentrasi PM2.5 sebesar 32,8 mikrogram per meter kubik pada pukul 19.00 WIB. Nilai tersebut masuk kategori sedang berdasarkan klasifikasi yang ditampilkan BMKG. Angka ini merupakan hasil pemantauan pada waktu tersebut, bukan prakiraan kualitas udara khusus untuk 22 Oktober.
PM2.5 merupakan partikel halus berukuran hingga 2,5 mikrometer yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Kadar partikulat dapat berubah sesuai sumber emisi, kondisi cuaca, dan pergerakan udara. Karena itu, angka pemantauan perlu diperiksa kembali untuk mengetahui kondisi terbaru.
Perhatian terhadap kualitas udara muncul bersamaan dengan karhutla di kawasan Gunung Arjuno–Welirang. Pemberitaan pada 20 Oktober menyebut kebakaran meluas hingga sejumlah titik di Kabupaten Malang, termasuk kawasan Toyomarto di Kecamatan Singosari serta wilayah Lawang. Petugas masih melakukan penanganan, sementara kondisi medan yang curam menjadi salah satu kendala pemadaman.
Asap kebakaran berpotensi memengaruhi kualitas udara apabila terbawa angin ke kawasan permukiman. Namun, data yang tersedia belum cukup untuk memastikan besarnya dampak karhutla Arjuno–Welirang terhadap konsentrasi PM2.5 di seluruh Malang Raya. Masyarakat sebaiknya memantau pembaruan kualitas udara dan informasi sebaran asap dari sumber resmi.
Jika udara tampak berkabut atau tercium bau asap, warga dapat mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan dan menutup jendela ketika asap masuk ke rumah. Kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan, perlu lebih berhati-hati. Gunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus jika harus beraktivitas di luar saat berasap.
Prakiraan cuaca dan kualitas udara terbaru dapat dipantau melalui situs resmi BMKG, termasuk halaman pemantauan PM2.5 dan informasi karhutla.
Sumber: BMKG; pemberitaan perkembangan karhutla Arjuno–Welirang pada 20 Oktober 2026.












