Program Bongkar Ratoon Kembali Digenjot, Petani Kalipare Optimistis Dongkrak Produksi Gula

SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu di Kabupaten Malang kembali dipercepat setelah sempat diwarnai persoalan komunikasi di tingkat pelaksana. Program yang digulirkan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan itu kini mendapat dukungan penuh dari petani di Kecamatan Kalipare.

Percepatan program tersebut terlihat di Desa Putukrejo, salah satu sentra tebu di wilayah selatan Kabupaten Malang. Mayoritas petani di desa tersebut menyatakan kesiapan untuk memperluas partisipasi dalam program peremajaan tanaman guna meningkatkan produktivitas kebun tebu.

Sebelumnya, program sempat menjadi sorotan akibat isu dugaan setoran dana insentif Hari Orang Kerja (HOK). Namun persoalan itu dipastikan telah selesai dan tidak memengaruhi pelaksanaan program di lapangan.

Komitmen petani diperkuat melalui pertemuan antara kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan). Forum tersebut menjadi langkah konsolidasi untuk memastikan target pengembangan lahan bongkar ratoon dapat tercapai pada musim tanam tahun ini.

Desa Putukrejo dinilai memiliki peran penting dalam pengembangan komoditas tebu. Sekitar 70 persen lahan pertanian di desa tersebut saat ini digunakan untuk budidaya tanaman tebu yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat setempat.

Sekretaris Desa Putukrejo Athok menilai keberhasilan program sangat bergantung pada kekompakan seluruh elemen pertanian. Menurut dia, kolaborasi antara poktan, gapoktan, penyuluh, dan pemerintah desa menjadi fondasi utama keberhasilan peremajaan tanaman tebu.

“Soliditas harus terbangun di semua lini, baik di dalam poktan, antar-poktan, hingga sinergi dengan Gapoktan dan pemerintah desa. Tentunya, hal ini menjadi kunci keberhasilan program bongkar ratoon tersebut,” ujar Athok, Selasa (2/6/2026).

Di sisi lain, Ketua Poktan Taruna Bakti Kalipare Agus Wiyono menyebut minat petani terhadap program tersebut terus meningkat. Antusiasme itu tidak hanya datang dari petani senior, tetapi juga generasi muda yang pernah mengikuti program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS).

Agus menjelaskan, pada tahun 2026 pihaknya mengusulkan 16 hektare lahan untuk program bongkar ratoon. Luasan tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan pengajuan pada tahun sebelumnya. Sementara berdasarkan data E-RDKK 2026, total potensi lahan tebu di wilayah itu mencapai 99 hektare.

“Kami terus bergerak menambah Calon Petani Calon Lahan (CPCL) di sisa waktu yang ada,” kata Agus.

Manfaat program juga dirasakan langsung oleh petani. Samsuri, salah satu peserta bongkar ratoon tahun lalu, mengaku produktivitas lahannya mengalami peningkatan setelah dilakukan peremajaan tanaman. Pengalaman itu mendorongnya mengajak petani lain untuk ikut bergabung.

“Hasil tahun lalu sangat membantu petani. Karena itu, pada tahun 2026 ini, saya mengajak petani lain untuk ikut. Saat ini sudah terkumpul lahan seluas 10 hektare milik petani yang siap di-ratoon,” ungkap Samsuri.

Sementara itu, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kalipare mendorong transformasi kelembagaan petani agar tidak hanya berfungsi sebagai wadah sosial. Poktan dan gapoktan diharapkan berkembang menjadi lembaga ekonomi yang mampu mengelola usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

Penguatan kelembagaan tersebut juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam membangun industri gula nasional. Dukungan permodalan dari pabrik gula setempat serta penguatan koperasi petani diharapkan mampu mempercepat target swasembada gula yang dipatok pemerintah pada 2028.

Exit mobile version