SUARAMALANG.COM, Pati – Lonjakan harga solar nonsubsidi berdampak serius terhadap aktivitas nelayan di wilayah Juwana, Kabupaten Pati. Dalam tiga bulan terakhir, ribuan nelayan memilih berhenti melaut karena tidak sanggup menanggung tingginya biaya operasional, terutama untuk pembelian bahan bakar kapal.
Kondisi tersebut membuat ratusan kapal nelayan hanya bersandar di dermaga tanpa aktivitas. Ribuan anak buah kapal (ABK) ikut terdampak karena kehilangan pekerjaan dan penghasilan harian yang selama ini bergantung pada hasil tangkapan ikan.
Solar menjadi kebutuhan utama bagi nelayan untuk menjalankan kapal saat mencari ikan. Namun setelah harga solar nonsubsidi melonjak tajam usai Lebaran 2026, banyak nelayan mengaku tidak lagi mampu membeli bahan bakar dalam jumlah besar untuk kebutuhan operasional melaut.
Salah satu nelayan di Kecamatan Juwana, Tukidi, mengaku kenaikan harga solar nonsubsidi sangat membebani nelayan kecil. Ia mengatakan sudah tiga bulan tidak melaut karena biaya operasional yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil tangkapan yang belum tentu didapat.
“Sudah tiga bulan saya tidak melaut karena kalau berangkat sekarang harus spekulasi penuh. Hasil tangkapan tidak menentu sementara harga solar sangat tinggi,” ujarnya di Dermaga Bendar, Juwana melansir RMOLJateng Sabtu (16/5).
Ribuan ABK Kehilangan Penghasilan
Menurut Tukidi, pekerjaan nelayan memiliki risiko tinggi karena hasil tangkapan ikan tidak selalu sesuai harapan. Dengan harga solar yang terus naik, nelayan khawatir justru mengalami kerugian apabila hasil tangkapan minim.
“Kita di laut itu antara hidup dan tidak. Kalau harga solar setinggi ini jelas sangat membebani kami,” katanya.
Ia menyebut saat ini terdapat lebih dari 1.000 kapal nelayan di Juwana yang memilih tidak melaut. Setiap kapal rata-rata diisi 30 hingga 40 ABK, sehingga ribuan pekerja sektor perikanan ikut menganggur akibat kondisi tersebut.
Ketua Paguyuban Mitra Nelayan Sejahtera, Eko Budiyono, menambahkan sedikitnya 1.600 kapal nelayan terdampak kenaikan harga solar industri yang kini mencapai sekitar Rp30 ribu per liter. Kondisi itu dinilai membuat aktivitas melaut semakin sulit dilakukan oleh nelayan tradisional maupun kapal skala menengah.
Nelayan Minta Harga Solar Khusus
Eko mengatakan nelayan meminta pemerintah menetapkan harga khusus BBM solar bagi nelayan sebesar Rp13.600 per liter agar aktivitas melaut kembali normal. Menurutnya, kebijakan tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan sektor perikanan dan ekonomi masyarakat pesisir.
Ia menegaskan para nelayan masih menunggu langkah konkret dari pemerintah terkait persoalan tersebut. Jika dalam waktu dekat belum ada solusi, nelayan berencana kembali menggelar aksi demonstrasi dengan jumlah massa yang lebih besar.
