SUARAMALANG.COM, Nasional – Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp17.600 per dolar Amerika Serikat pada Senin (18/5) memunculkan kekhawatiran di berbagai sektor ekonomi. Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak luas, terutama bagi pelaku usaha yang masih bergantung pada barang impor.
Pakar ekonomi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Muhammad Ubaidillah Al Mustofa MSEI, menyebut depresiasi rupiah dapat menjadi indikator awal terhadap tekanan ekonomi nasional. Menurutnya, dampak pelemahan rupiah akan semakin terasa apabila kebutuhan konsumsi masyarakat masih didominasi produk impor.
“Jika rupiah terus terdepresiasi sedangkan kebutuhan konsumsi masih didominasi produk impor, maka kondisi ini dapat merugikan perekonomian dalam jangka panjang,” ujarnya.
Dosen Departemen Studi Pembangunan ITS yang akrab disapa Ubaid itu menjelaskan, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi berbagai faktor eksternal maupun internal. Dari sisi global, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah hingga potensi penutupan Selat Hormuz menjadi faktor yang memicu kenaikan harga minyak dan energi dunia.
Kondisi tersebut turut berdampak pada meningkatnya harga sejumlah komoditas utama yang bergantung pada perdagangan internasional. Kenaikan harga energi dan bahan baku industri dinilai dapat memperbesar tekanan terhadap perekonomian nasional.
Sementara dari faktor domestik, Ubaid menilai sentimen investor terhadap kebijakan pemerintah di sektor industri dan investasi turut memengaruhi stabilitas rupiah. Ketidakpastian kebijakan disebut dapat memicu capital outflow atau keluarnya modal asing dari Indonesia.
“Ketika investor menarik investasinya dalam bentuk dolar AS, maka permintaan dolar meningkat dan nilai rupiah semakin tertekan,” jelasnya.
Meski demikian, ia menilai ekonomi masyarakat di level grassroot masih relatif kuat karena ditopang sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kekuatan konsumsi domestik dan aktivitas UMKM dinilai menjadi bantalan penting di tengah tekanan ekonomi global.
Namun, Ubaid menegaskan perlunya peningkatan kapasitas UMKM agar mampu bersaing di pasar internasional. Menurutnya, UMKM harus mulai naik kelas dan memiliki orientasi ekspor.
“UMKM perlu naik kelas, memiliki pasar ekspor, dan mampu bersaing secara global,” tegasnya.
Selain penguatan UMKM, Ubaid juga menyoroti pentingnya hilirisasi sumber daya alam untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Selama ini, Indonesia dinilai masih terlalu banyak mengekspor bahan mentah dan mengimpor kembali produk olahan dengan harga lebih tinggi.
“Fokus pengembangan komoditas menjadi barang setengah jadi atau barang jadi dapat meningkatkan nilai tambah ekspor Indonesia,” tambahnya.
Di sektor industri, pelemahan rupiah diperkirakan akan meningkatkan biaya impor berbagai komoditas, terutama barang yang memiliki ketergantungan impor tinggi. Kondisi itu berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok dan menurunkan daya beli masyarakat.
“Kenaikan harga bahan baku energi hingga kebutuhan pokok lainnya dapat menurunkan daya beli masyarakat,” bebernya.
Karena itu, masyarakat diimbau lebih bijak dalam mengelola keuangan di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif. Ubaid mengingatkan agar masyarakat menghindari pola konsumsi berlebihan dan tidak mudah mengambil pinjaman berbunga tinggi.
ITS sendiri terus mendorong penguatan ekonomi berbasis inovasi dan pengembangan UMKM agar mampu beradaptasi menghadapi tantangan global. Langkah tersebut juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta poin ke-9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur berkelanjutan.(*/Riyanto)
