Pemerintah Kabupaten Malang-Ucapan Idul Fitri

Universitas Brawijaya Tingkatkan Penguatan Kesehatan Mental Mahasiswa Melalui Integrasi Layanan Kampus

Iklan

SUARAMALANG.COM, Kota Malang–Universitas Brawijaya (UB) menggelar kegiatan Sosialisasi Penguatan Mental Health Mahasiswa dalam Menghadapi Permasalahan Hidup pada Selasa (7/4/2026) di Gedung Widyaloka untuk memperkuat sistem penanganan kesehatan mental di lingkungan kampus.

Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc, menegaskan isu kesehatan mental merupakan persoalan yang kompleks dan sulit dideteksi secara langsung.

Iklan

Ia menilai dampak dari permasalahan mental tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga berpengaruh pada aktivitas akademik dan kehidupan sosial mahasiswa.

“Mental health sifatnya banyak dan sulit dideteksi. Karena itu, diperlukan keterlibatan komunitas agar penanganannya bisa berjalan lebih baik,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor III UB, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H., menyampaikan penguatan kesehatan mental menjadi bagian penting dalam membantu mahasiswa menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Ia menjelaskan tekanan yang berasal dari aspek akademik, keluarga, pertemanan, hingga ekonomi dapat memicu terganggunya stabilitas mental mahasiswa.

“Program ini penting karena menyangkut mental health dalam menghadapi permasalahan hidup yang beragam. Agar mental mahasiswa tidak down, penguatan ini perlu dilakukan sebagai bentuk komitmen UB,” jelasnya.

Ia menambahkan, UB menghadirkan berbagai layanan pendukung seperti ULTKSP dan e-konseling. Upaya tersebut juga diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari dosen, unit keagamaan untuk pendekatan spiritual, hingga pemanfaatan teknologi informasi guna mempermudah akses layanan konseling.

Selain itu, peran organisasi mahasiswa seperti DPM juga diharapkan mampu bersikap responsif dalam membantu mahasiswa yang mengalami permasalahan kesehatan mental.

Dalam pemaparan materi, Kepala Subdirektorat Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual dan Perundungan Direktorat Kemahasiswaan UB, Ulifa Rahma, S.Psi., M.Psi., menjelaskan UB terus mengembangkan program prioritas kampus tangguh dan sehat mental.

Berbagai layanan telah disediakan, seperti e-konseling serta layanan hotline melalui Lembaga Kedaulatan Mahasiswa (LKM) UB guna memberikan akses yang lebih luas bagi mahasiswa.

“Kami menghadirkan layanan yang mudah dijangkau agar mahasiswa memiliki ruang aman untuk menyampaikan permasalahan yang dihadapi,” katanya.

Selanjutnya, Kaprodi Psikiatri Fakultas Kedokteran UB, dr. Frilya Rachma Putri, Sp.KJ., menyoroti bahwa tantangan kesehatan mental mahasiswa semakin kompleks dan tidak dapat disederhanakan. Ia menegaskan bahwa krisis mental umumnya muncul akibat akumulasi berbagai tekanan.

“Mahasiswa jarang mengalami krisis karena satu sebab. Tekanan mental tumbuh dari tumpukan faktor seperti keluarga, relasi, akademik, hingga ketidaktahuan mencari bantuan,” jelasnya.

Menurutnya, kampus perlu mengubah pendekatan menjadi lebih proaktif dengan membangun sistem deteksi dini.

“Kampus tidak bisa hanya reaktif, tetapi harus memiliki radar untuk membaca sinyal awal,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun sistem layanan yang mencakup aspek promotif, preventif, dan kuratif, serta didukung dengan budaya pendengar aktif di lingkungan kampus.

Ketua Program Indonesia Sehat Jiwa, Sofia Ambarini, S.Kom., M.M., menambahkan bahwa penanganan kesehatan mental harus dilakukan secara menyeluruh. Ia menyebut bahwa kerja sama dengan UB mencakup dukungan tenaga ahli serta layanan darurat sebagai bagian dari sistem penanganan krisis.

“Penanganan kesehatan mental tidak bisa parsial, tetapi harus mencakup aspek promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif,” ujarnya.

Dari sisi teknologi, Direktur Teknologi Informasi UB, Dr. Raden Arief Setyawan, S.T., M.T., menjelaskan bahwa UB telah mengembangkan sistem informasi untuk mendukung pemantauan kondisi mahasiswa melalui platform seperti SIAM dan SIADO.

Sistem ini memungkinkan dosen, mahasiswa, hingga orang tua untuk memonitor aktivitas akademik yang berkaitan dengan kondisi mahasiswa.

“Kami juga mengembangkan pemanfaatan AI untuk merangkum hasil survei yang kemudian dikombinasikan dengan penilaian dosen dan pihak kemahasiswaan untuk analisis lebih lanjut,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, UB berharap dapat membangun ekosistem kesehatan mental yang lebih kuat dan terintegrasi, sehingga mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki ketahanan mental dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. (REV/UB).

Iklan
Iklan
Iklan