Usia 36 Tahun, PJT I Tancap Gas Perkuat Ketahanan Air Nasional

SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Langkah besar penguatan tata kelola air nasional digaungkan dalam peringatan hari jadi ke-36 Perum Jasa Tirta I (PJT I) di Bendungan Sutami, Kabupaten Malang, Senin (16/2/2026). Di tengah tantangan perubahan iklim dan lonjakan kebutuhan air, BUMN pengelola sumber daya air itu menegaskan arah barunya, yakni memiliki sistem terintegrasi berbasis data.

Bagi pemerintah, pengelolaan air bukan lagi sekadar urusan teknis bendungan dan saluran irigasi. Ia menjadi fondasi ketahanan pangan sekaligus energi nasional.

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Muhammad Rachmat Kaimuddin, menegaskan bahwa presisi data menjadi pijakan utama pembangunan berkelanjutan.

“Penguatan sistem pengelolaan air yang terintegrasi dan berbasis data menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan pembangunan Indonesia,” ungkap Rachmat Kaimuddin, dikutip beritajatim, Senin (16/2/2026).

Ia menambahkan, kebijakan pemerintah ke depan diarahkan pada penguatan infrastruktur dasar serta modernisasi operasi dan pemeliharaan sistem air. Menurutnya, tanpa data yang akurat, perencanaan hanya akan berjalan setengah hati.

Direktur Utama PJT I, Fahmi Hidayat, menyebut usia ke-36 menjadi momentum refleksi sekaligus percepatan transformasi. Tantangan yang dihadapi perusahaan, kata dia, tak lagi sederhana.

“Pondasi kokoh merupakan fondasi tata kelola, sistem operasional yang andal, serta kapasitas SDM yang adaptif terhadap perubahan,” kata Fahmi.

Ia menilai percepatan transformasi menjadi kebutuhan mendesak agar perusahaan tetap relevan di tengah dinamika zaman. Perubahan iklim, peningkatan konsumsi air, hingga tuntutan industri memaksa pengelolaan dilakukan lebih presisi dan terukur.

Sebagai tindak lanjut, PJT I menandatangani Clear Cut Wilayah Sungai (WS) Brantas Tahun 2026. Penandatanganan ini menjadi penegasan batas tanggung jawab operasional sekaligus simbol pembenahan tata kelola yang lebih sistematis dalam mengoptimalkan potensi Sungai Brantas.

Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat koordinasi pengelolaan air di Jawa Timur agar lebih efektif dan minim tumpang tindih kewenangan.

Dalam rangkaian peringatan tersebut, PJT I juga memberikan penghargaan Lifetime Achievement Award kepada dua tokoh yang dinilai berjasa besar dalam perjalanan perusahaan.

Penghargaan pertama diberikan kepada almarhum Roedjito Dwidjomestopo, Direktur Utama PJT I periode 1990-1996. Ia dikenang sebagai figur yang merintis fondasi organisasi di masa awal pengembangan perusahaan.

Sementara penghargaan kedua dianugerahkan kepada Soetarno Said, Koordinator Jaring-Jaring Komunikasi Pemantauan Kualitas Air (JKPKA) periode 1997-2022. Ia dianggap berperan besar dalam memajukan pendidikan kualitas air sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap pelestarian sumber daya air.

Apresiasi ini menjadi penegasan bahwa pengelolaan air bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang komitmen dan dedikasi panjang individu-individu di baliknya.

Di usia ke-36, PJT I menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Pengelolaan sumber daya air, menurut manajemen, harus menjadi gerakan kolektif, bukan sekadar tugas institusi teknis.

Stabilitas air yang terjaga diyakini berdampak langsung pada ketahanan industri, sektor pertanian, hingga kesejahteraan sosial masyarakat. Ketika air dikelola dengan baik, produksi pangan terjaga dan pembangkit energi tetap berjalan.

Exit mobile version