SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Politik framing yang cenderung negatif terhadap dunia Pesantren di Indonesia akhir akhir ini, mendapat reaksi serius dari Inisiator Hari Santri Nasional, KH.Thoriq bin Ziyad.
Menurut Gus Thoriq sapaan akrabnya, munculnya politik framing di pondok-pondokn pesantren, harus disikapi dengan bijaksana.
“Kami berepesan untuk seluruh pondok pesantren di tanah air agar menghadapi politik framing ini dengan bijaksana. Artinya kembali lagi kepada sejarah orang tua-orang tua kita terdahulu, kakek moyang kita. Dimana pesantren itu didirikan untuk membangun moral dan etika,” tegas Gus Thoriq, Sabtu (13/6/2026) siang.
Gus Thoriq membeberkan, dunia pesantren adalah warisan para leluhur untuk menjaga akidah dan moral anak bangsa.
“Bagaimanapun sejarah di Indonesia ini membuktikan, bahwa faktanya pondok pesantren itu garda terdepan dalam menghadapi penjajahan. Dan seluruh santri saat itu mampu menghadapi penjajahan, sehingga membawa Indonesia ini menjadi satu-satunya negara yang merdeka dengan cara mengusir penjajah. Ini satu-satunya negara di dunia yang mampu mengusir penjajah adalah Indonesia. Dan itu garda terdepan adalah para santri,” ucapnya.
Gus Thoriq tak memungkiri bahwa bentuk penjajahan baru yang terjadi saat ini, lebih pada mengedepankan ideologi. Memaksa ideologi anak anak bangsa yang cinta NKRI, justru sebaliknya.
“Jadi untuk framing-framing yang tidak baik terhadap pondok pesantren, mari kita sama-sama sekarang bagaimana mengcounter itu dengan cara yang elegan. Cara yang penuh dengan estetika dan keindahan. Satu-satunya jalan ya Pancasila. Bagaimanapun Pancasila itu sudah terbukti dan teruji dengan berbagai macam banyak kasus di Indonesia saat itu, bagaimanapun potensi perpecahan di Indonesia, mampu disatukan dengan Pancasila,” katanya.
Gus Thoriq yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Babussalam Banjarejo, Kabupaten Malang itu bilang, dirinya berharap setiap pondok pesantren saat ini untuk bersatu, semakin kuat, dan menjadi tutor tentang makna sejati Pancasila yang baik dan benar, sesuai dengan ke Indonesiaan.
“Pancasila adalah pemersatu bangsa. Pesantren harus menanamkan makna sejati Pancasila. Kita, rakyat Indonesia, sebagai pelaku utama dari Pancasila harusnya sudah siap untuk membentengi penjajahan gaya baru yang coba masuk menggunakan berbagai model ideologi yang tidak Pancasilais. Sehingga, kami berharap Kabupaten Malang, untuk menjadi pilot project terhadap pesantren yang menjadikan Pancasila itu sebagai pengajaran dan juga pengamalan di dalam pondok pesantren,” tuturnya.
Untuk mewujudkan hal itu, sambung Gus Thoriq, juga dibutuhkan suport dari pemerintah daerah. “Kedepan kami berkeinginan Kabupaten Malang itu dikenal sebagai kabupaten pesantren Pancasila. Sehingga dari luar pulau, dari luar daerah, di luar Kabupaten Malang, jika ingin mempelajari tentang Pancasila, monggo, kami persilahkan untuk ikut belajar tentang Pancasila di pesantren yang ada di Kabupaten Malang,” tuturnya.
Gus Thoriq menambahkan, kenapa harus di Kabupaten Malang, karena hal itu lebih pada fakta dan sejarah.
“Artefak yang sekarang masih ada, yakni di Candi Jago Malang itu menjadi inspirasi bagi salah satu penggagas Pancasila. Bung Karno, Insinyur Soekarno itu dengan Candi Jago mampu, beliau itu terinspirasi tentang Pancasila. Dan fakta sejarahnya Candi Jago dari dulu itu membuktikan bahwasannya Majapahit pernah menjadikan Kabupaten Malang atau wilayah Malang ini menjadi wilayah belajarnya para pangeran tentang etika dan estetika kemajapahitan. Kalau tidak salah begitu,” ujarnya.
Soal campur tangan asing terkait banyaknya framing negatif terhadap Pesantren, Gus Thoriq menyebut bahwa yang bisa kami analisa, banyak orang-orang yang berkepentingan untuk membuat pesantren ini tidak kokoh lagi.
“Penjajah itu berupaya menjadikan pesantren rapuh. Karena pesantren menanamkan nilai moral akidah dan rasa cinta bangsa dan negara. Para penjajah dan agen-agen para penjajah, menurut data intelijen Belanda selama 80 tahun gen para pejuang dari kalangan Pesantren ini betul-betul diawasi oleh mereka.
Bagaimanapun gen-gen para pejuang ini akan menurunkan gen-gen para pejuang juga,” ungkapnya.
Sehingga, lanjut Gus Thoriq, tidak salah juga kalau mereka para penjajah atau siapapun tangan asing yang punya kepentingan terhadap buruknya pondok pesantren, ikut nimbrung dan melakukan framing negatif.
“Peran pemerintah harus ada, Jadi pemerintah juga ikut menjaga nilai-nilai kepesantrenan Dengan memasukkan Pancasila ke dalam kurikulum-kurikulum pondok pesantren untuk melawan dan membentengi ideologi bangsa ini dari wajah baru bentuk penjajahan. Pesantren harus kerjasama dengan pemerintah difasilitasi oleh PBNU. Karena rata-rata NU ini adalah orang-orang pesantren, maka NU harus menjadi garda terdepan untuk menjadikan pondok-pondok pesantren di bawah naungan NU atau segaris dengan NU, menjadi pondok-pondok yang bisa memberikan pengajaran dan memberikan contoh pengamalan Pancasila yang baik dan benar,” bebernya.
Terakhir, Gus Thoriq menegaskan, yang sudah terbukti dan teruji membentengi politik framing yang negatif terhadap Pesantren adalah NU.
“Kami ingin di tubuh NU itu tidak ada perpecahan lagi, karena sejarah sudah terbukti NU mampu menghadapi para penjajah,” pungkas Gus Thoriq.
