SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Harga daging ayam dan telur ayam ras di Pasar Kepanjen masih bertahan stabil. Kondisi itu terungkap dalam inspeksi mendadak yang dilakukan Satgas Pangan Polres Malang bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang, Kamis (9/7/2026).
Tim gabungan memeriksa harga sekaligus memastikan ketersediaan pasokan dua komoditas tersebut. Hasil pemantauan menunjukkan stok tetap aman dan tidak ditemukan gejolak harga maupun kelangkaan di tingkat pedagang.
Sidak dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan distribusi pangan. Pemerintah juga ingin memastikan masyarakat tetap memperoleh bahan pangan dengan harga yang terkendali.
Anggota Satgas Pangan Polres Malang, Iptu Andreas Surya Wiramakara Watratan, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan pasokan ayam dan telur masih mencukupi. Bahkan, stok di sejumlah titik dinilai melimpah.
“Kami bersama dinas terkait melakukan pengecekan harga dan ketersediaan telur ayam ras maupun daging ayam. Dari hasil pemantauan hari ini, stok tersedia dan harga relatif stabil. Tidak ditemukan adanya kelangkaan,” kata Andreas.
Ia menjelaskan ketersediaan komoditas tersebut masih terjaga mulai tingkat peternak, pengepul hingga pedagang. Kondisi itu membuat distribusi tetap berjalan normal.
“Ketersediaan stok sangat mencukupi. Tidak ada kelangkaan, baik bagi konsumen maupun di tingkat peternak hingga pengepul. Bahkan di beberapa lokasi yang kami pantau, stok tergolong melimpah,” ujarnya.
Berdasarkan hasil sidak, harga daging ayam berada di kisaran Rp28 ribu hingga Rp31 ribu per kilogram. Sementara telur ayam ras dijual antara Rp21 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram.
Di lapangan, pedagang mengakui harga sempat berubah ketika program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai beroperasi. Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama.
Pedagang ayam potong Pasar Kepanjen, Tunik, mengatakan kenaikan harga saat itu justru membuat daya beli masyarakat menurun. Penjualan juga tidak mengalami peningkatan meski harga lebih tinggi.
“Saat ini harga sudah turun. Dulu sempat naik ketika SPPG mulai beroperasi, tetapi penjualan saya tetap, bahkan cenderung sepi karena harga saat itu mahal,” ujar Tunik.
Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kabupaten Malang, Kamilin, membenarkan operasional SPPG sempat meningkatkan permintaan daging ayam. Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak memicu kenaikan harga di pasar tradisional.
Ia menjelaskan kebutuhan bahan baku SPPG dipasok langsung oleh distributor. Karena itu, aktivitas SPPG tidak memberikan dampak langsung terhadap transaksi pedagang di pasar.
“Memang ada kaitannya dengan operasional SPPG, tetapi tidak memengaruhi harga di pasar karena kebutuhan SPPG dipenuhi langsung oleh distributor. Di sisi lain, pedagang pasar juga tidak memperoleh manfaat secara langsung karena SPPG tidak membeli dari mereka, melainkan dari agen atau distributor,” kata Kamilin.
Stabilnya harga dan melimpahnya stok menjadi indikator distribusi pangan di Kabupaten Malang masih berjalan normal. Pemerintah memastikan pemantauan akan terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi gejolak harga pada komoditas pangan strategis.
