Harga Cabai Rawit Naik 99,5 Persen, Risiko Inflasi Pangan Mengintai hingga Akhir 2026

Harga cabai rawit nasional mencapai Rp91.850 per kilogram pada 9 Oktober 2026. Dewan Ekonomi Nasional menilai kemarau panjang dan penurunan produksi berisiko memperpanjang tekanan harga pangan hingga akhir tahun. (Foto: Ilustrasi/Ist)

SUARAMALANG.COM – Harga cabai rawit nasional melonjak 99,5 persen secara tahunan pada minggu kedua Oktober 2026. Tekanan harga pangan ini berisiko berlanjut hingga akhir tahun karena El Niño dengan intensitas sangat kuat masih bertahan, sementara awal musim hujan diperkirakan mundur di sebagian besar wilayah Indonesia.

Laporan Food Price Brief Dewan Ekonomi Nasional (DEN) tertanggal 12 Oktober 2026 mencatat harga rata-rata cabai rawit di pasar tradisional mencapai Rp91.850 per kilogram berdasarkan data 9 Oktober 2026. Secara bulanan, harganya meningkat 15,2 persen, sedangkan cabai merah naik lebih tajam sebesar 35,1 persen menjadi Rp80.950 per kilogram.

Kenaikan tersebut berkaitan dengan menurunnya produksi dan menipisnya pasokan. DEN mencatat panen cabai masih bergantung pada tanaman lama, sementara tanaman baru belum menghasilkan. Kondisi cuaca kering dan kemarau panjang ikut mengganggu produksi di sejumlah daerah.

El Niño Berpotensi Memperpanjang Tekanan Harga

Tekanan harga cabai tidak hanya terlihat dalam pergerakan bulanan. Secara tahunan, kenaikan harga cabai merah tercatat 39,7 persen. Sementara itu, harga cabai rawit hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dampak kenaikan juga meluas secara geografis. Pada minggu kedua Oktober 2026, kenaikan Indeks Perkembangan Harga cabai merah tercatat di 314 kabupaten/kota atau 87,2 persen wilayah yang dipantau. Untuk cabai rawit, kenaikan terjadi di 268 kabupaten/kota atau 74,4 persen wilayah.

DEN menilai El Niño yang masih kuat berpotensi menghambat pemulihan pasokan cabai. Prediksi mundurnya awal musim hujan 2026/2027 di 61,1 persen wilayah Indonesia dapat memperpanjang tekanan harga hingga akhir tahun, bertepatan dengan meningkatnya permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru.

Selain cuaca, biaya logistik dan panjangnya rantai distribusi turut memengaruhi harga. Perbedaan harga antardaerah masih lebar. Berdasarkan pemantauan 9 Oktober 2026, harga cabai rawit berkisar Rp51.250 per kilogram di Nusa Tenggara Barat hingga Rp158.750 per kilogram di Maluku Utara.

Risiko inflasi juga datang dari komoditas pangan lain. Harga daging ayam ras tercatat Rp41.350 per kilogram, melampaui Harga Acuan Penjualan sebesar Rp40.000 per kilogram. Secara tahunan, harga daging ayam naik 8,7 persen, antara lain dipengaruhi kenaikan harga pakan.

Harga minyak goreng juga meningkat 9,5 persen dibandingkan setahun sebelumnya, meskipun harga minyak sawit mentah atau CPO dunia tercatat turun 3,2 persen secara tahunan. DEN menilai penurunan harga CPO belum sepenuhnya diteruskan ke harga minyak goreng domestik.

Pemerintah Percepat Distribusi dan Stabilisasi Pangan

Menghadapi tekanan harga, Badan Pangan Nasional (Bapanas) berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memperkuat distribusi dan menjaga keterjangkauan pangan. Cabai rawit merah masuk dalam komoditas yang perlu diintervensi karena harganya pada minggu kedua Oktober mencapai 61,1 persen di atas Harga Acuan Penjualan.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah Fasilitasi Distribusi Pangan untuk mengirim cabai ke wilayah yang mengalami harga tinggi, termasuk Sulawesi Utara, Kabupaten Minahasa, dan Kabupaten Halmahera Utara. Hingga 9 Oktober 2026, realisasi fasilitasi distribusi cabai mencapai 320,8 ton atau 35,65 persen dari target 900 ton.

Pemerintah juga menjalankan Gerakan Pangan Murah dan mendorong kerja sama antar daerah dengan petani di wilayah prioritas. Untuk komoditas lain, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan beras telah menyalurkan 33.500 ton hingga 8 Oktober 2026 untuk periode penyaluran 1 Oktober–20 November 2026. Sementara itu, realisasi SPHP jagung mencapai 190.400 ton atau 78,9 persen dari target tahap pertama.

DEN memperkirakan inflasi komponen harga pangan bergejolak pada Oktober 2026 berpotensi meningkat sekitar 2,3 poin persentase, dengan dampak terhadap inflasi Indeks Harga Konsumen sekitar 0,4 poin persentase. Cabai rawit, daging ayam ras, beras, dan cabai merah diperkirakan menjadi penyumbang utama.

Perkembangan harga dalam beberapa pekan mendatang akan menjadi penentu penting bagi tekanan inflasi menjelang akhir tahun. Pemulihan produksi, kelancaran distribusi, dan efektivitas intervensi pemerintah akan memengaruhi seberapa cepat pasokan kembali membaik dan kenaikan harga pangan mereda.

Exit mobile version