Berita  

Limbah Dapur MBG Disorot: Dari Ancaman Tersembunyi hingga Peluang Ekonomi

SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Pengelolaan limbah dapur dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) masih menyisakan persoalan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyoroti potensi pencemaran yang kerap diabaikan.

Penyuluh Lingkungan Hidup DLH, Sayyidatul Azizah, menyebut bahan pembersih tertentu masuk kategori limbah B3. Ia menegaskan pemisahan harus dilakukan sejak awal.

“Sabun dan cairan pembersih bisa jadi limbah B3,” ujarnya.

Pemilahan Belum Konsisten

Azizah juga menemukan sistem pemilahan belum berjalan konsisten. Sampah yang sudah dipisah sering tercampur kembali saat pengangkutan.

“Itu kesalahan fatal. Sistem jadi tidak berguna,” tegasnya.

Limbah Cair Berisiko Tinggi

Narasumber teknis DLH, Sunarno, menyoroti limbah cair dapur yang kerap dianggap sepele. Padahal, air bekas cucian beras, minyak, dan sisa makanan mengandung zat pencemar.

“Air bisa berubah hitam, berbau, dan berbusa,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi itu menandakan turunnya kadar oksigen dalam air dan membahayakan ekosistem.

Dorong Pengolahan Mandiri

DLH mendorong setiap SPPG memilah sampah menjadi organik, anorganik, dan B3. Pengelolaan mandiri melalui biopori, komposter, hingga biodigester juga dianjurkan.

Selain mencegah pencemaran, pengolahan limbah dinilai bisa memberi nilai ekonomi.

Exit mobile version