SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyentuh kisaran Rp17 ribu dinilai belum mengarah pada krisis ekonomi serius. Namun masyarakat diminta tetap waspada dan tidak mudah terpengaruh persepsi negatif yang berlebihan.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Dr. rer. pol. Wildan Syafitri menilai optimisme publik menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global.
“Jangan terlalu terpengaruh berita negatif karena itu bisa membentuk ekspektasi buruk terhadap ekonomi,” ujar Wildan.
Menurutnya, persepsi masyarakat dan investor memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Ketika publik merasa kondisi ekonomi tidak aman, permintaan terhadap dolar akan meningkat karena dianggap lebih stabil untuk menyimpan aset.
Wildan menjelaskan bahwa kondisi tersebut akhirnya membuat rupiah semakin tertekan. Ia menyebut ekspektasi pasar menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi stabilitas kurs mata uang.
“Ketika orang merasa dolar lebih aman, maka permintaan dolar meningkat dan rupiah semakin tertekan,” katanya.
Capital Outflow dan Faktor Global
Wildan mengatakan pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya capital outflow atau arus modal keluar dari Indonesia. Investor asing, kata dia, cenderung memindahkan dananya ke negara yang dianggap lebih aman dan menguntungkan.
Kondisi tersebut dipicu kenaikan suku bunga Amerika Serikat serta ketidakpastian ekonomi global. Saat suku bunga AS meningkat, investor lebih tertarik menempatkan modal di negara tersebut karena risiko dinilai lebih rendah.
“Permintaan dolar meningkat karena adanya capital outflow dan ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi maupun geopolitik dunia,” jelasnya.
Selain faktor ekonomi, Wildan menilai kondisi geopolitik internasional juga memberi tekanan besar terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia. Konflik global hingga ketegangan perdagangan dunia membuat investor lebih berhati-hati menempatkan modalnya.
Ia menambahkan, kondisi pasar saham domestik juga ikut memengaruhi arus modal asing. Ketika kepercayaan terhadap pasar saham menurun, potensi capital outflow akan semakin besar dan berdampak langsung pada pelemahan rupiah.
“Kalau kepercayaan terhadap pasar saham menurun, capital outflow bisa meningkat dan itu memberi tekanan terhadap rupiah,” ujarnya.
Ketergantungan Impor Jadi Persoalan
Wildan menilai struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada impor menjadi salah satu penyebab rupiah rentan terhadap gejolak global. Ketergantungan itu mencakup pangan hingga bahan baku industri.
Ia menyebut komoditas seperti kedelai, gandum, terigu, hingga beberapa komponen bahan bakar minyak masih banyak didatangkan dari luar negeri. Akibatnya, pelemahan rupiah otomatis meningkatkan biaya produksi dalam negeri.
“Ketergantungan impor kita terhadap kedelai, terigu, hingga bahan baku industri itu tinggi,” katanya.
Menurutnya, kenaikan biaya produksi akhirnya dibebankan produsen kepada masyarakat melalui kenaikan harga barang. Situasi tersebut perlahan dapat menekan daya beli masyarakat.
Wildan mengatakan dampak pelemahan rupiah memang tidak selalu dirasakan secara langsung. Namun kenaikan harga kebutuhan pokok akan mulai terasa apabila nilai tukar terus melemah dalam jangka panjang.
“Kalau harga kebutuhan pokok naik akibat pelemahan rupiah, itu baru akan sangat dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Belum Seperti Krisis 1998
Meski demikian, Wildan memastikan kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih relatif terkendali. Ia menilai situasi sekarang berbeda jauh dibanding krisis moneter 1998.
Menurutnya, Indonesia kini memiliki regulasi ekonomi yang lebih kuat serta kemampuan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Pemerintah juga masih mampu mengendalikan inflasi melalui berbagai kebijakan sosial dan ekonomi.
“Kalau dibandingkan dengan tahun 1998 itu berbeda. Regulasi kita sekarang lebih kuat dan kebutuhan pokok masih bisa dijangkau masyarakat,” jelasnya.
Ia mengakui penurunan konsumsi memang mulai terlihat pada kelompok masyarakat tertentu, terutama kelas menengah. Namun kondisi tersebut dinilai masih dalam batas wajar dan belum mengarah pada krisis besar.
Wildan menegaskan ancaman krisis baru akan terasa apabila pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut disertai inflasi tinggi dan penurunan daya beli secara drastis.
“Potensi krisis tentu ada setiap saat, tetapi kondisi sekarang masih relatif aman dan terkendali,” katanya.
MBG Dinilai Investasi Jangka Panjang
Dalam wawancara tersebut, Wildan juga menanggapi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini menjadi salah satu program prioritas pemerintah.
Menurutnya, program tersebut sebaiknya dipandang sebagai investasi sumber daya manusia dalam jangka panjang, bukan solusi ekonomi instan.
“MBG itu sebenarnya human investment atau investasi sumber daya manusia. Dampaknya memang jangka panjang dan penting untuk masa depan,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah mampu menghadirkan kebijakan ekonomi yang kredibel untuk menjaga kepercayaan investor dan masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting guna menekan capital outflow serta memperkuat stabilitas rupiah.
“Pemerintah harus memiliki langkah yang dianggap kredibel oleh masyarakat dan investor,” tegas Wildan.
Di akhir wawancara, Wildan mengatakan arah pergerakan dolar AS masih sangat dipengaruhi kondisi global. Faktor geopolitik, harga minyak dunia, pasar saham, hingga kepercayaan investor disebut akan menentukan pergerakan rupiah ke depan.
“Naik turunnya dolar tidak bisa diprediksi secara pasti. Itu tergantung kondisi global dan bagaimana kepercayaan investor terhadap Indonesia,” pungkasnya.
