Survei CELIOS: 55% Pemilih Prabowo Ogah Memilih Lagi

SUARAMALANG.COM, Jakarta – Evaluasi pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memunculkan sejumlah catatan kritis. Survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mencatat tekanan psikologis, keluhan ekonomi, hingga perubahan preferensi politik responden.

Sebanyak 75 persen responden mengaku stres menghadapi kebijakan pemerintah. Selain itu, 55 persen responden yang sebelumnya memilih Prabowo menyatakan tidak ingin memilihnya kembali pada Pilpres 2029.

Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira memaparkan temuan tersebut saat peluncuran laporan Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran secara virtual, Minggu (11/10/2026). CELIOS memublikasikan hasil riset itu pada Senin (12/10/2026).

Menurut Bhima, tekanan masyarakat berkaitan dengan sejumlah persoalan mendasar. Kenaikan harga kebutuhan pokok, sulitnya memperoleh pekerjaan, dan penegakan hukum menjadi perhatian utama.

“Kami coba menanyakan terkait dengan perasaan stres terhadap kebijakan pemerintah. Dari 1.122 responden, jawabannya, 75 persen itu merasa stres dengan kebijakan pemerintah dan spesifik 67 persen stres dengan perilaku dari Prabowo Subianto,” kata Bhima.

Angka tersebut menggambarkan jawaban responden dalam penelitian CELIOS. Hasilnya tidak otomatis mencerminkan kondisi seluruh masyarakat Indonesia karena metode survei memiliki keterbatasan representasi.

Mayoritas Pemilih Prabowo dalam Survei Mengaku Berubah Pilihan

Temuan mengenai preferensi politik menjadi salah satu sorotan laporan CELIOS. Sebanyak 55 persen responden yang sebelumnya memilih Prabowo menyatakan tidak akan memilihnya kembali pada Pilpres 2029.

Sebaliknya, 27 persen responden masih menyatakan dukungan kepada Prabowo. Sementara itu, 19 persen lainnya belum mengetahui atau belum menentukan pilihan.

“Jadi jika ada pilpres mendatang, 55 persen itu bilang bahwa tidak akan memilih kembali Prabowo, dan 27 persen yang menjawab akan memilih kembali. Sisanya 19 persen tidak tahu,” ujar Bhima.

Temuan ini memperlihatkan adanya perbedaan sikap di antara responden yang sebelumnya mendukung Prabowo. Namun, angka tersebut bukan prediksi hasil Pilpres 2029.

Preferensi politik masih dapat berubah mengikuti dinamika pemerintahan, kondisi ekonomi, dan persaingan antarkandidat. Karena itu, hasil survei perlu dibaca sesuai cakupan responden dan metode penelitiannya.

Penilaian Kinerja Prabowo dan Gibran Berbeda

CELIOS juga mengukur penilaian terhadap kinerja Presiden Prabowo menggunakan skala 1–10. Kelompok ahli memberikan skor 2,8, sedangkan masyarakat umum memberikan skor 4,6.

Penilaian terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga menunjukkan perbedaan antarkelompok. Para ahli memberikan skor 2,2, sementara masyarakat umum memberikan skor 4,9.

Baca Juga:  Menkeu Ancam Potong Anggaran Makan Bergizi Gratis Jika Serapan Mandek Oktober 2025

Skor tersebut menunjukkan penilaian responden terhadap kinerja kedua pemimpin. Angka itu bukan peringkat resmi pemerintah ataupun hasil pengukuran objektif atas seluruh kinerja kabinet.

Harga Pangan dan Pajak Menambah Tekanan Ekonomi

Persoalan ekonomi turut mendominasi evaluasi CELIOS terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Sebanyak 78 persen responden menilai harga kebutuhan pokok sebagai masalah mendesak.

Selain itu, 58 persen responden menyoroti lapangan kerja dan perlindungan pekerja. Penegakan hukum serta reformasi birokrasi juga masuk dalam daftar persoalan yang mendapat perhatian.

Keluhan mengenai beban pajak dan pungutan pemerintah mencapai 82 persen. Sementara itu, 53 persen responden menilai kondisi ekonomi rumah tangga mereka memburuk dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pajak dan pungutan pemerintah makin memberatkan dan kondisi ekonomi rumah tangga dibandingkan setahun lalu, 53 persen menjawab lebih buruk,” kata Bhima.

Data tersebut memperlihatkan bahwa evaluasi responden tidak hanya menyasar kepemimpinan nasional. Tekanan pengeluaran rumah tangga dan terbatasnya kesempatan kerja juga menjadi persoalan penting.

Meski demikian, setiap persentase merujuk pada pertanyaan tertentu dalam survei. Keluhan terhadap satu persoalan tidak berarti responden menolak seluruh kebijakan pemerintah.

Mayoritas Ahli Mengkritisi Kapasitas Kepemimpinan Presiden

CELIOS bersama Kabinet Bayangan turut meminta penilaian kalangan ahli terhadap kepemimpinan Prabowo. Dari 129 ahli, sebanyak 71 persen menilai kapasitas kepemimpinan Presiden tidak memadai.

Penilaian terhadap gaya kepemimpinan dan komunikasi publik juga menunjukkan kekhawatiran tinggi. Sebanyak 83 persen ahli menyatakan sangat khawatir, sedangkan 10 persen lainnya mengaku khawatir.

Dengan demikian, total 93 persen responden ahli menyatakan khawatir atau sangat khawatir terhadap kedua aspek tersebut.

Survei itu juga menanyakan pandangan masyarakat umum mengenai kondisi fisik dan mental Presiden dalam menjalankan tugas. Sebanyak 38 persen menilai kondisinya kurang baik, sementara 23 persen menyebutnya tidak baik sama sekali.

Adapun responden yang menilai kondisi fisik dan mental Presiden sangat baik mencapai 8 persen. Angka tersebut mencerminkan persepsi responden, bukan diagnosis medis atau pemeriksaan kesehatan profesional.

Demokrasi dan Antikorupsi Masuk Kriteria Pemimpin 2029

Laporan CELIOS turut memetakan karakteristik pemimpin nasional yang diharapkan responden menjelang Pemilu 2029. Kalangan ahli menekankan komitmen terhadap demokrasi, kebebasan sipil, dan hak asasi manusia.

Integritas dalam pemberantasan korupsi serta kompetensi merumuskan kebijakan publik juga menjadi kriteria penting. Sementara itu, masyarakat umum menaruh perhatian pada kesediaan pemimpin mendengarkan aspirasi rakyat.

Baca Juga:  Seorang Korban Kapal Virgo Transport 8 Asal Pakisaji Belum Ditemukan 

Komitmen terhadap demokrasi dan pemberantasan korupsi turut masuk dalam pertimbangan masyarakat. Selain itu, sebanyak 38 persen responden menginginkan calon presiden yang bukan berasal dari kader partai politik.

Religiusitas dan usia muda juga muncul sebagai karakteristik calon pemimpin yang dipertimbangkan. Sebaliknya, latar belakang pengusaha dan penampilan fisik menarik relatif sedikit mendapat pilihan.

Temuan tersebut menggambarkan preferensi responden, bukan jaminan kemenangan kandidat dari luar partai politik. Peta dukungan pada pemilihan mendatang masih bergantung pada banyak faktor.

Metode Survei Menentukan Cara Membaca Hasil

CELIOS dan Kabinet Bayangan menyusun laporan Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran untuk mengevaluasi kebijakan publik, tata kelola, kepemimpinan, dan komunikasi pemerintah.

Pengumpulan data berlangsung pada 15 September hingga 9 Oktober 2026. Penelitian melibatkan kelompok ahli dan masyarakat umum dengan metode pengambilan sampel berbeda.

Untuk masyarakat umum, penelitian menggunakan non-probability sampling melalui Meta Ads. Sementara itu, peneliti menjangkau responden ahli menggunakan metode snowball sampling.

Dalam non-probability sampling, responden tidak dipilih secara acak dengan peluang terukur bagi setiap anggota populasi. Karena itu, hasilnya tidak otomatis mewakili seluruh penduduk Indonesia dengan margin of error seperti survei probabilitas.

Perbedaan jumlah responden juga perlu diperhatikan. Bhima menyebut 1.122 responden saat memaparkan temuan mengenai stres akibat kebijakan pemerintah.

Sementara itu, pemberitaan IDN Times menyebut 1.142 responden masyarakat umum dan 129 responden ahli. Perbedaan angka tersebut perlu dicocokkan dengan laporan metodologi resmi CELIOS.

Hasil evaluasi ini menempatkan tekanan ekonomi, penilaian kepemimpinan, dan preferensi politik sebagai isu utama. Namun, kekuatan kesimpulannya tetap bergantung pada metode penelitian serta karakteristik responden yang terlibat.