Berita  

Turki Tolak Kapal Pesiar Berisi Komunitas LGBTQ+, Ribuan Wisatawan Gagal Singgah di Dua Pelabuhan

SUARAMALANG.COM, Mancanegara – Pemerintah Turki menolak kapal pesiar yang mengangkut komunitas LGBTQ+ asal Amerika Serikat untuk bersandar di dua pelabuhan negaranya. Kebijakan itu diambil dengan alasan menjaga standar moral dan mempertahankan nilai-nilai keluarga yang dianut pemerintah setempat.

Keputusan tersebut berdampak pada sekitar 1.900 wisatawan yang mengikuti pelayaran wisata selama 10 hari. Mereka akhirnya harus mengubah rute perjalanan setelah otoritas Turki mencabut izin kapal untuk singgah.

Kapal Dilarang Bersandar di Kuşadası dan Istanbul

Kapal pesiar Scarlet Lady milik Virgin Voyages sebelumnya dijadwalkan berlayar dari Athena, Yunani, pada 5 Juli. Pelayaran yang diselenggarakan Atlantis Events itu sedianya singgah di Kuşadası pada 7 Juli sebelum melanjutkan perjalanan menuju Istanbul.

Namun, pemerintah daerah setempat membatalkan izin sandar. Otoritas menyebut kapal tersebut disewa kelompok yang dinilai memiliki aktivitas yang tidak sejalan dengan tatanan masyarakat dan nilai moral di Turki.

Akibat keputusan itu, kapal tidak lagi memasukkan Turki dalam rute pelayarannya. Sebagai gantinya, kapal diarahkan menuju Kairo, Mesir, dan Pulau Kreta di Yunani.

Penyelenggara Sebut Larangan Belum Pernah Terjadi

CEO Atlantis Events, Rich Campbell, mengaku terkejut dengan keputusan tersebut. Menurutnya, selama lebih dari tiga dekade perusahaan menggelar pelayaran wisata, baru kali ini mereka secara terbuka ditolak karena identitas para penumpangnya.

“Alasannya karena ini adalah kelompok gay. Sangat mengkhawatirkan ketika sebuah negara memutuskan bisa memilih wisatawan mana yang boleh masuk dan mana yang tidak,” ujar Campbell, dikutip dari CNN International, Senin (6/7/2026).

Campbell mengatakan, selama 36 tahun beroperasi, Atlantis Events belum pernah menerima pemberitahuan resmi yang menyatakan kapal mereka dilarang bersandar hanya karena mayoritas penumpangnya merupakan komunitas LGBTQ+.

Wisatawan Nilai Pelaku Usaha Lokal Ikut Dirugikan

Dari total 1.900 peserta pelayaran, sekitar 1.100 orang berasal dari Amerika Serikat. Sisanya berasal dari Inggris, Kanada, Australia, serta sejumlah negara lainnya.

Salah seorang penumpang, Randy Slovacek, mengaku pernah mengikuti pelayaran Atlantis yang juga singgah di Turki tanpa menemui hambatan apa pun.

> “Tidak pernah ada masalah sama sekali. Tapi tiba-tiba sekarang mereka mempermasalahkannya. Kami hanya sekelompok orang yang ingin berkeliling dunia dan mengunjungi berbagai tempat,” katanya.

Ia menilai keputusan pemerintah Turki justru membuat pelaku usaha lokal kehilangan potensi pemasukan dari ribuan wisatawan yang semestinya berbelanja dan menggunakan berbagai layanan selama kapal bersandar.

Sikap Turki terhadap LGBTQ+ Makin Tegas

Pemerintah Provinsi Aydin, lokasi Pelabuhan Kuşadası berada, menegaskan rombongan tersebut tidak akan diizinkan menggelar kegiatan apa pun di wilayahnya.

Di Istanbul, aparat kepolisian juga dilaporkan menggerebek sebuah bar setelah beredar brosur yang mempromosikan pesta yang dikaitkan dengan Atlantis Events. Namun, pihak penyelenggara menegaskan materi promosi tersebut tidak diterbitkan maupun berafiliasi dengan perusahaan.

Penolakan terhadap kapal pesiar ini mencerminkan sikap pemerintah Turki yang dalam beberapa tahun terakhir semakin keras terhadap komunitas LGBTQ+. Di bawah pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdoğan, parade Pride di Istanbul juga telah dilarang sejak 2015 dengan alasan keamanan dan ketertiban umum.

Exit mobile version