SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di tingkat Jawa Timur. Kampus Putih berhasil meraih Anugerah Kampus Unggulan 2026 dari LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur sebagai perguruan tinggi penerima Program Hibah Penelitian dengan pendanaan dan jumlah judul terbanyak kategori universitas/institut.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi (Rakerpim) LLDIKTI Wilayah VII pada 22 Juni 2026. Capaian ini semakin memperkuat posisi UMM sebagai salah satu perguruan tinggi dengan ekosistem riset yang produktif dan kompetitif di Indonesia.
UMM Bangun Ekosistem Riset yang Terstruktur
Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama (BRBK) UMM, Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.P.A., mengatakan penghargaan tersebut merupakan hasil dari sistem pendukung penelitian yang dibangun secara berkelanjutan oleh universitas.
Menurutnya, UMM tidak hanya menyediakan pendanaan internal, tetapi juga memberikan pendampingan intensif kepada dosen mulai dari penyusunan proposal hingga pelaksanaan penelitian.
“Yang pertama berkait dengan dukungan universitas terhadap program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang sangat komprehensif. Ada pendanaan internal, kemudian pendampingan proposal mulai dari tingkat fakultas sampai universitas, termasuk klinik proposal yang dilakukan secara terpusat di LPPM,” ujarnya.
Selain dukungan pendanaan, UMM juga memperkuat budaya riset melalui berbagai unit pendukung seperti Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Bursa Intelektual, KPI, hingga pusat-pusat studi yang mendorong produktivitas dosen.
Melalui sistem tersebut, para dosen memperoleh dukungan yang berkelanjutan dalam melaksanakan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat.
Penelitian Harus Berdampak bagi Masyarakat
Salahudin menegaskan bahwa penelitian dan pengabdian merupakan bagian penting dari tridarma perguruan tinggi sehingga menjadi kewajiban setiap dosen.
Karena itu, universitas terus menghadirkan berbagai skema pendampingan agar produktivitas penelitian terus meningkat.
“Penelitian dan pengabdian itu merupakan urusan wajib yang harus dilaksanakan oleh dosen karena menjadi bagian dari tridarma perguruan tinggi. Karena itu, UMM mendukung Bapak-Ibu dosen dengan berbagai cara, mulai dari pendampingan, pendanaan, hingga struktur organisasi yang mendukung pelaksanaan penelitian,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan riset tidak hanya diukur dari jumlah penelitian yang dihasilkan.
Lebih dari itu, penelitian harus mampu memberikan solusi terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
UMM pun membentuk berbagai klaster riset unggulan serta memetakan wilayah sasaran pengabdian berdasarkan kebutuhan masyarakat.
“Lokasi penelitian dan pengabdian harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat. Misalnya, ketika UMM mengirim tim penelitian dan pengabdian ke Nusa Tenggara Timur, itu karena daerah tersebut memang membutuhkan. Jadi, penelitian dan pengabdian tidak hanya ditentukan oleh dosen, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan masyarakat agar benar-benar berdampak,” jelasnya.
Mahasiswa Wajib Terlibat dalam Program Penelitian
UMM juga mewajibkan keterlibatan mahasiswa dalam setiap program penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat.
Mahasiswa dilibatkan sejak penyusunan proposal, pelaksanaan kegiatan, hingga penyusunan luaran penelitian berupa publikasi ilmiah, poster akademik, maupun hasil riset lainnya.
Kebijakan tersebut bertujuan membangun budaya riset sejak dini sekaligus meningkatkan kompetensi akademik mahasiswa.
Ke depan, UMM berkomitmen terus meningkatkan kualitas penelitian melalui optimalisasi seluruh potensi dosen, baik dosen muda maupun dosen senior.
Universitas menilai keberhasilan riset tidak hanya ditentukan oleh jumlah hibah yang diperoleh, tetapi juga kualitas penelitian serta dampaknya dalam memberikan solusi bagi masyarakat dan pembangunan nasional.
