Universitas Brawijaya Fasilitasi Layanan Eazy Passport, Permudah Dosen dan Tendik Urus Paspor

SUARAMALANG.COM, Kota Malang–Universitas Brawijaya (UB) melalui UPT Global Partnership and Reputation (GPR) bekerja sama dengan Kantor Imigrasi Malang menghadirkan layanan Eazy Passport bagi sivitas akademika. Kegiatan dilaksanakan Rabu kemarin (29/04/2026) di Gedung GPR UB.

Program ini bertujuan mempermudah dosen dan tenaga kependidikan dalam pembuatan maupun perpanjangan paspor tanpa harus datang langsung ke kantor imigrasi.
Wakil Rektor I UB, Prof. Imam Santoso, menjelaskan bahwa layanan ini merupakan bentuk kolaborasi antara International Office UB dan Kantor Imigrasi Malang untuk memberikan kemudahan akses administrasi bagi sivitas akademika.

“Program ini dirancang untuk memfasilitasi dosen dan tenaga kependidikan agar dapat mengurus paspor secara lebih praktis. Mereka tidak perlu antre di kantor imigrasi, karena seluruh proses dilayani di lingkungan kampus,” ujarnya.

Menurutnya, kemudahan ini penting mengingat kebutuhan paspor menjadi hal mendasar, terutama bagi dosen yang terlibat dalam kegiatan akademik internasional. Dengan kepemilikan paspor yang siap digunakan, mobilitas dosen dalam mengikuti program kolaborasi luar negeri dapat lebih optimal.

“Kami berharap layanan ini tidak hanya membantu secara administratif, tetapi juga berdampak pada penguatan reputasi akademik UB melalui peningkatan partisipasi dosen dalam kegiatan internasional,” tambahnya.

Layanan Eazy Passport sendiri merupakan program jemput bola dari Direktorat Jenderal Imigrasi, di mana petugas datang langsung ke lokasi pemohon untuk melayani pengurusan paspor secara kolektif. Program ini memiliki kuota minimal peserta dan biasanya ditujukan bagi instansi atau komunitas.

Staf UPT GPR yang bertugas Lukman Hidayat, menjelaskan bahwa pelaksanaan program di UB merupakan yang pertama kalinya. Prosesnya dimulai sejak Februari 2026 dengan tahap pengumpulan data peserta, hingga akhirnya kuota terpenuhi pada Maret.

“Total pendaftar awal sekitar 60 orang, namun yang mengikuti hingga tahap akhir sekitar 45 peserta. Setelah kuota terpenuhi, proses dilanjutkan dengan pemberkasan dan pengambilan foto yang dilakukan di kampus,” jelasnya.

Ia menambahkan, karena bersifat kolektif dan bergantung pada kuota, layanan ini tidak dapat dilakukan secara instan seperti pengurusan paspor individu. Namun demikian, pihaknya berupaya memberikan jadwal yang terstruktur agar peserta tetap dapat menyesuaikan dengan aktivitas kerja.
Ke depan, UB berencana membuka batch lanjutan apabila program ini berjalan lancar dan mendapat respons positif dari sivitas akademika.

Salah satu peserta, Sakunda Anggarini, S.TP.,M.Sc., Ph.D. dosen Fakultas Teknologi Pertanian UB, mengaku sangat terbantu dengan adanya layanan ini. Ia sebelumnya mengalami kesulitan mendapatkan jadwal pengurusan paspor melalui aplikasi M-Paspor karena tingginya jumlah pemohon.

“Saya sudah mencoba hampir dua bulan untuk mendapatkan jadwal, baik di Malang maupun di luar kota, tapi tidak berhasil. Dengan adanya layanan ini, prosesnya jadi lebih pasti dan terjadwal,” ungkapnya.
Ia juga menilai layanan yang disediakan di kampus jauh lebih praktis karena tidak mengganggu waktu kerja.

“Saya bisa mengurus paspor di sela-sela pekerjaan tanpa harus keluar kantor. Waktunya jelas, kuotanya terbatas, jadi lebih tertata dan tidak perlu antre panjang,” tambahnya.

Melalui layanan Eazy Passport, UB berharap dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada sivitas akademika sekaligus mendukung aktivitas internasional yang menjadi bagian penting dalam pengembangan institusi. (KAN/CHA/ UB)

Exit mobile version