Oleh: Ahmad Alif Riyan Mahdy, S.P., M.P.
Dosen lnstitut Pertanian STIPER Yogyakarta
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) saat ini tengah melesat tajam. Penggunaannya telah merambah berbagai segmen masyarakat, mulai dari tingkat pendidikan menengah hingga perguruan tinggi. Kita tidak bisa memungkiri perubahan yang serba cepat ini, sehingga penyesuaian diri menjadi keharusan, khususnya bagi kalangan akademisi di pendidikan tinggi.
Merujuk pada data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), jumlah mahasiswa yang terdaftar di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Indonesia mencapai 7,2 juta orang. Hingga saat ini, mayoritas dari mereka sudah mulai memanfaatkan teknologi AI untuk menyelesaikan berbagai tugas kuliah hingga menyusun tugas akhir.
Sebagai seorang akademisi, saya melihat terdapat tiga hal krusial yang perlu menjadi perhatian bersama:
Pertama, Menurunnya Daya Kritis Mahasiswa.
Penggunaan AI memungkinkan pekerjaan diselesaikan dalam waktu singkat. Hanya bermodalkan perintah atau prompt, pengguna dengan mudah mendapatkan jawaban instan. Kemudahan ini berisiko membuat mahasiswa kehilangan proses berpikir mendalam dan daya analisis kritis karena terbiasa menerima hasil jadi.
Kedua, Penurunan Integritas Ilmiah.
Dalam dunia pendidikan tinggi, kelayakan ilmiah adalah bentuk tanggung jawab moral karena karya tulis akan menjadi acuan bagi akademisi lainnya. Penggunaan AI yang kurang bertanggung jawab berpotensi mencantumkan narasi yang menyesatkan (misleading) atau sulit dipertanggungjawabkan secara faktual, sehingga mencederai marwah kejujuran akademik.
Ketiga, Ketergantungan terhadap “Mesin”.
AI bekerja melalui pemrograman sistem yang mampu mengenali situasi dan pertanyaan pengguna. Namun, ketergantungan yang berlebihan pada sistem ini dikhawatirkan akan mematikan kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah secara mandiri. Mahasiswa tidak lagi mengandalkan intelektualitasnya, melainkan sangat bergantung pada algoritma mesin.
Banyaknya jumlah pengguna dan tantangan terhadap integritas ilmiah menjadikan penerapan AI di lingkungan kampus perlu ditinjau kembali. Kita perlu menyeimbangkan penggunaan teknologi ini agar manfaat positifnya tetap dominan tanpa mengorbankan kualitas pendidikan.
Saya berharap perguruan tinggi tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Namun, lembaga pendidikan harus tetap berdiri teguh dalam menjaga nilai-nilai integritas ilmiah agar kualitas intelektual generasi mendatang tetap terjaga
*) Penulis : Ahmad Alif Riyan Mahdy, S.P., M.P. Dosen lnstitut Pertanian STIPER
Yogyakarta
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis


















