Kabupaten Malang
Opini  

Alarm Pendidikan: Menjaga Adab Generasi Alpha di Tengah Arus Digital

Iklan

Oleh: Ahmad Alif Riyan Mahdy, S.P., M.P.
Dosen lnstitut Pertanian STIPER Yogyakarta

Dunia pendidikan saat ini sedang menghadapi transisi antargenerasi yang ekstrim. Selain Generasi Z (1995–2009) yang sudah berada di perguruan tinggi, kini Generasi Alpha (lahir 2010–2024) mulai memasuki jenjang SMP dan SMA. Pergeseran karakter dan nilai sosial pada fase mereka menjadi penuntut ilmu, kini menjadi persoalan yang perlu untuk dibahas.

Iklan

Karakter dan nilai sosial adalah daya pembeda bagi seseorang dalam berinteraksi di lingkungan akademik. Adab dan etika menjadi fondasi yang perlu diimplementasikan dengan baik.

Dari apa yang saya amati di lapangan, terdapat tiga hal mencolok yang perlu untuk disampaikan yaitu :

Pertama: Penurunan Adab terhadap Tenaga Pengajar.

Sangat prihatin jika saat ini di mana siswa maupun mahasiswa cenderung melihat guru dan dosen hanya sebatas “penyedia informasi” semata. Hilangnya rasa hormat, membuat hubungan antara 2 pihak terasa hambar dan malah terkesan transaksional. Jika hal ini berlanjut pada Generasi Alpha yang sudah banyak bergantung pada teknologi, saya khawatir sosok pengajar nantinya akan semakin terpinggirkan.

Kedua: Krisis Kedisiplinan dan Skala Prioritas.

Disiplin terhadap waktu dan kesempatan adalah modal utama dalam menuntut ilmu. Namun, masih banyak pelajar saat ini yang belum mampu menentukan skala prioritas. Fokus belajar sering teralihkan oleh hal-hal yang tidak relevan dengan studi, seperti adiksi permainan daring hingga penggunaan media sosial yang tidak terkontrol. Pada Generasi Alpha, tantangan ini menjadi semakin berat sebab mereka telah terpapar dunia digital sejak usia dini.

Ketiga: Memudarnya Batas Sosial dan Etika Digital.

Hadirnya Generasi Alpha ini membawa urgensi baru terkait etika. Mereka sudah terbiasa berinteraksi melalui layar, sering kali terjadi bias dalam membedakan bagaimana cara berkomunikasi di dunia maya dan dunia nyata. Sehingga memicu pudarnya sopan santun saat berinteraksi tatap muka dengan orang yang lebih tua atau sesama rekan di lingkungan sekolah dan kampus.

Terus terang, pergeseran karakter ini akan memberikan dampak negatif yang masif jika tidak ada peran aktif dari keluarga serta dukungan dari pihak institusi pendidikan. Kita tidak boleh membiarkan nilai-nilai luhur para pendahulu tergerus oleh kebiasaan baru yang muncul akibat ketidakmampuan pelajar dalam mengontrol diri di tengah arus teknologi informasi.

Sebagai akademisi, saya memandang perlu adanya penataan ulang kebijakan pendidikan yang mampu meluruskan kembali arah moral pelajar dari kedua generasi ini. Tujuannya jelas yaitu agar iklim pendidikan kita kembali memiliki jati diri dan martabat yang kuat, bukan hanya mencetak lulusan yang cerdas namun juga bisa seimbang dalam berkarakter sosial.

*) Penulis : Ahmad Alif Riyan Mahdy, S.P., M.P. Dosen lnstitut Pertanian STIPER
Yogyakarta

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Iklan
Iklan
Iklan