SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Upaya menghadirkan teknologi yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat terus didorong oleh Universitas Brawijaya (UB). Melalui Program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) Batch 2, puluhan mahasiswa kini tengah menuntaskan berbagai solusi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung program Sekolah Rakyat, penyaluran bantuan sosial (bansos), hingga pemetaan kemiskinan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Workshop 3 AITF Batch 2 yang digelar di Auditorium Algoritma Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB pada 8–9 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi tahap krusial menjelang presentasi akhir berbagai proyek yang selama beberapa bulan terakhir dikembangkan peserta.
Program AITF merupakan kolaborasi antara Universitas Brawijaya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Kementerian Sosial, serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar membangun teknologi, tetapi juga ditantang menyelesaikan persoalan yang dihadapi pemerintah secara langsung.
Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital BPSDM Komdigi, Said Mirza Pahlevi, mengatakan workshop tersebut menjadi momentum penting untuk memastikan setiap tim mampu menghasilkan solusi yang memiliki manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurut Mirza, AITF dirancang bukan sekadar sebagai wadah pengembangan keterampilan teknologi, melainkan jembatan untuk melahirkan inovasi yang dapat dimanfaatkan dalam pelayanan publik.
“Workshop ini merupakan workshop ketiga untuk Batch 2 AITF di Universitas Brawijaya dan menjadi workshop pertama pada tahun 2026. Kami berharap melalui program ini lahir berbagai inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui pemanfaatan kecerdasan buatan,” ujarnya.
Fokus pada Sekolah Rakyat dan Ketepatan Bansos
Salah satu perhatian utama pemerintah dalam pelaksanaan AITF tahun ini adalah pengembangan sistem pendukung Sekolah Rakyat dan bantuan sosial yang lebih tepat sasaran.
Mirza menjelaskan, kedua proyek tersebut memiliki dampak langsung terhadap masyarakat sehingga hasil pengembangan mahasiswa menjadi sangat dinantikan oleh berbagai kementerian dan lembaga terkait.
“Program AITF dari Komdigi maupun universitas bertujuan menjembatani lahirnya inovasi untuk pelayanan kepada masyarakat. Khusus di Universitas Brawijaya, peserta sedang menyelesaikan use case yang sangat penting terkait Sekolah Rakyat dan bantuan sosial. Kedua use case ini sangat ditunggu hasilnya,” katanya.
Selain itu, sejumlah tim juga mengembangkan solusi untuk mendukung pemetaan kemiskinan yang lebih akurat. Teknologi AI diharapkan mampu membantu proses pengambilan kebijakan berbasis data sehingga program pemerintah dapat berjalan lebih efektif.
Demo Day Jadi Ajang Pembuktian
Seluruh hasil pengembangan peserta akan dipresentasikan dalam agenda Demo Day yang dijadwalkan berlangsung pada 29–30 Juni 2026.
Agenda tersebut direncanakan dihadiri sejumlah menteri, pemangku kepentingan nasional, serta perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Karena itu, kualitas solusi yang dihasilkan akan menjadi sorotan utama.
Mirza menyebut Demo Day bukan hanya ajang presentasi proyek, tetapi juga momentum untuk menunjukkan kesiapan solusi sebelum dipertimbangkan lebih lanjut oleh pemerintah.
“Acara ini cukup besar dan akan menjadi pertaruhan bagi Universitas Brawijaya untuk menunjukkan seberapa layak solusi yang dihasilkan. Hasil pekerjaan peserta nantinya akan dilihat langsung oleh para pengambil kebijakan,” ujarnya.
Ia menambahkan, apabila terbukti efektif, inovasi yang dikembangkan mahasiswa berpotensi menjadi fondasi awal pembangunan sistem digital untuk mendukung Sekolah Rakyat maupun program bantuan sosial di tingkat nasional.
Mahasiswa Didorong Menjawab Masalah Nyata
Wakil Dekan Bidang Akademik FILKOM UB sekaligus Ketua Pelaksana AITF, Sabriansyah Rizqika Akbar, menilai Workshop 3 menjadi fase penting karena peserta memasuki tahap penyempurnaan sistem menjelang presentasi akhir.
Menurutnya, AITF merupakan salah satu program unggulan yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat langsung dalam penyelesaian persoalan nyata yang dihadapi pemerintah.
“Melalui AITF, mahasiswa kami mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan berbagai studi kasus yang memiliki tantangan besar. Tahun ini fokus yang sedang dikerjakan antara lain terkait Sekolah Rakyat dan pemetaan kemiskinan di Jawa Timur,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama mengikuti program, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman teknis dalam pengembangan AI. Mereka juga mendapatkan masukan langsung dari kementerian dan instansi terkait mengenai kebutuhan pengguna serta tantangan implementasi di lapangan.
Pengalaman tersebut dinilai penting karena mahasiswa belajar memahami hubungan antara teknologi dan kebutuhan masyarakat secara langsung.
“Peserta mendapatkan banyak pencerahan dari berbagai instansi mengenai kebutuhan riil di lapangan. Hal ini menjadi pengalaman berharga karena mereka tidak hanya membangun teknologi, tetapi juga memahami bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat,” katanya.
Karantina dan Pendampingan Intensif
Untuk memastikan seluruh proyek selesai tepat waktu, panitia menyiapkan pendampingan tambahan bagi peserta. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah workshop lanjutan dengan skema karantina agar mahasiswa dapat lebih fokus menyelesaikan pengembangan sistem.
Sabriansyah mengatakan langkah tersebut diperlukan mengingat seluruh hasil pekerjaan akan dipresentasikan langsung kepada para pengambil kebijakan nasional.
“Di Universitas Brawijaya, kegiatan AITF dikonversi menjadi 12 SKS. Karena itu kami berharap seluruh peserta dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal. Akan ada workshop tambahan dan pendampingan intensif agar solusi yang dikembangkan benar-benar siap ditampilkan pada Demo Day,” ujarnya.
Selain fokus pada Sekolah Rakyat dan pemetaan kemiskinan, AITF juga menggarap berbagai studi kasus lain dari instansi pemerintah. Salah satu capaian yang disebut telah mendekati tahap peluncuran adalah solusi berbasis AI untuk mendukung penanganan judi online.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa program AITF tidak berhenti pada penelitian akademik semata. Berbagai inovasi yang lahir dari kampus mulai diarahkan menjadi solusi yang memiliki peluang untuk diterapkan secara nyata dalam mendukung transformasi digital nasional.






















