SUARAMALANG.COM, Malang – Penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak serius terhadap ribuan jiwa yang bekerja sebagai relawan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur Umum di Jawa Timur.
Dampaknya, tak sedikit relawan dapur umum yang terpaksa memilih cabut dari pekerjaan utama mereka sebagai relawan SPPG.
Menurut Hani, salah satu SPPG di Malang menjelaskan, dapur miliknya terkena suspend dan belum lagi buka. Hal itu berakibat pada penghasilan utama para relawan karena belum ada kejelasan dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“Banyak kawan kawan kami terpaksa mencari pekerjaan lagi. Karena informasi dari dapur juga belum ada kepastian kapan dibuka lagi,” ungkap Hani, Kamis (2/7/2026).
Kata Hani, untuk mencukupi kebutuhan hidup, relawan dapur saat ini harus pontang panting. Beberapa relawan yang sudah terlanjur mengambil kendaraan kreditan contohnya, terpaksa harus mencari pemasukan untuk menutup biaya angsuran.
“Banyak relawan yang terlanjur ambil motor kreditan. Ternyata dapur kena penghentian sementara, tutup belum tahu kapan buka lagi. Sehingga gak bisa bayar cicilan,” beber Hani.
Mayoritas relawan dapur banyak yang sudah berkeluarga. Mereka, menjadikan pekerjaan sebagai relawan SPPG penghasilan utama. Sehingga, ketika belum ada kejelasan dari BGN soal nasib dapur mereka dibuka kembali, otomatis tidak ada pendapatan yang masuk.
Sebagai informasi, upah relawan dapur MBG berkisar Rp 75 ribu hingga Rp 150 ribu per hari. Terdapat bagian bagian pada pekerjaan yang dilakukan relawan. Mulai dari Tim Persiapan Bahan Baku. Mereka bertugas menyiapkan, membersihkan, mengupas, dan memotong bahan makanan. Kemudian Tim Memasak atau Juru Masak. Tugasnya yakni mengolah dan memproduksi makanan sesuai standar gizi. Kemudian ada Tim Pemorsian dan Packing. Tugas utama tim ini menakar porsi makanan dan mengemasnya secara higienis.
Lalu ada Tim Distribusi yang bertugas mengantar dan menyalurkan makanan kepada penerima manfaat. Serta, Petugas Kebersihan dan Pencuci Alat Makan. Dimana tugas utama mereka, menjaga sanitasi area dapur dan mencuci peralatan makan.
Terakhir yakni Petugas Keamanan yang bertugas menjaga ketertiban area operasional dapur. Serta Ahli Gizi dengan tugas mengawasi dan meracik menu agar sesuai kebutuhan gizi. Dampak dapur tutup, tidak ada penghasilan apapun yang diterima relawan.
Menanggapi hal itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (GAPEMBI) Jawa Timur, Machrus Sholeh menjelaskan, dampak perhentian operasional
SPPG oleh BGN memang dirasa bagi seluruh relawan.
“Kasihan kondisi relawan SPPG hari ini. Mereka gak kerja,” ucap Gus Machrus sapaan akrabnya, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, kemungkinan dapur SPPG kembali buka setelah tahun ajaran baru sekolah di mulai. “Nunggu sekolah buka,” kata Gus Machrus.
Gus Machrus menambahkan, pihaknya mendorong BGN melakukan evaluasi untuk segera menentukan langkah dengan membuka kembali suspend ketika SPPG sudah memenuhi kriteria dan prosedur tekhnis.
Sementara di Jawa Timur saat ini, terdapat 4100 SPPG yang sudah operasional. Satu SPPG atau dapur umur, memiliki 47 orang relawan. Sehingga, terdapat 192.000 relawan yang berhenti sementara tanpa memperoleh penghasilan.
“Khusus di Jawa Timur dapur yang sudah operasional sekitar 4100 SPPG. Bisa dihitung Kalau per SPPG terdapat 47 orang relawan, jadi sekitar 192 ribu relawan saat ini menganggur,” Gus Machrus menutup. (*)















