Riset UM Ungkap Miskonsepsi Evolusi pada Mahasiswa, Kembangkan Pembelajaran Biologi Berbasis Teknologi

SUARAMALANG.COMUniversitas Negeri Malang (UM) mengembangkan model pembelajaran evolusi berbasis teknologi setelah menemukan masih banyak mahasiswa yang salah memahami konsep dasar evolusi dan genetika populasi.

Melalui inovasi tersebut, UM ingin meningkatkan kompetensi calon guru biologi sebelum mereka terjun ke dunia pendidikan.

Tim peneliti melakukan riset terhadap mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi. Penelitian itu bertujuan memperkuat kualitas pembelajaran melalui asesmen diagnostik dan media belajar yang lebih interaktif.

UM Temukan Miskonsepsi pada Konsep Evolusi dan Genetika Populasi

Tim peneliti menelusuri tingkat pemahaman mahasiswa Pendidikan Biologi terhadap konsep evolusi, khususnya perubahan frekuensi alel dalam suatu populasi.

Hasil penelitian menunjukkan sebagian mahasiswa masih salah memahami sejumlah konsep genetika populasi.

Mahasiswa masih mengalami kesulitan memahami mekanisme seleksi alam, mutasi, genetic drift, serta prinsip keseimbangan Hardy-Weinberg.

Peneliti utama, Wachidah Hayuana, yang juga mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan Biologi UM, menilai temuan tersebut perlu mendapat perhatian serius.

Menurutnya, mahasiswa Pendidikan Biologi akan menjadi guru yang mengajarkan materi evolusi di sekolah.

“Melalui penelitian ini kami menemukan bahwa masih terdapat miskonsepsi pada mahasiswa terkait konsep evolusi dan genetika populasi. Oleh karena itu, diperlukan asesmen diagnostik yang mampu mengidentifikasi letak kesalahan pemahaman mahasiswa sejak awal sehingga strategi pembelajaran dapat disesuaikan dan lebih efektif dalam membangun pemahaman konseptual yang benar,” ujarnya.

UM Kembangkan Asesmen Diagnostik Berbasis Teknologi

Berdasarkan temuan tersebut, tim peneliti mengembangkan model pembelajaran yang lebih adaptif dengan memanfaatkan teknologi.

Salah satu inovasi utamanya berupa asesmen diagnostik yang mampu mengukur hasil belajar sekaligus memetakan pola pemahaman mahasiswa pada setiap materi.

Melalui pendekatan tersebut, dosen dapat mengenali konsep yang masih sulit dipahami mahasiswa. Selanjutnya, dosen dapat menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kebutuhan mereka.

Sejak Mei 2026, tim peneliti juga mengembangkan media pembelajaran interaktif berbasis teknologi untuk membantu mahasiswa memahami konsep evolusi dan genetika populasi yang bersifat abstrak.

Melalui media tersebut, mahasiswa tidak hanya menghafal istilah ilmiah. Mereka juga belajar menganalisis berbagai fenomena biologi secara logis dan berbasis bukti.

Perkuat Kompetensi Calon Guru Biologi

Wachidah menegaskan penelitian ini tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas pendidikan biologi secara berkelanjutan.

Asesmen diagnostik membantu dosen menyusun pembelajaran yang lebih personal sesuai kebutuhan setiap mahasiswa.

Selain itu, media pembelajaran berbasis teknologi mendorong mahasiswa lebih aktif selama proses belajar.

Pada akhirnya, calon guru biologi diharapkan memiliki pemahaman konseptual yang lebih kuat sebelum mengajarkan materi kepada peserta didik.

“Harapannya, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan pembelajaran biologi yang lebih inovatif, interaktif, dan berbasis teknologi sehingga calon guru memiliki pemahaman konseptual yang kuat sebelum mengajarkannya di sekolah,” kata Wachidah.

Melalui penelitian ini, UM kembali menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan inovasi pendidikan berbasis riset. Selain itu, pengembangan asesmen diagnostik dan media pembelajaran digital turut mendukung implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada aspek pendidikan berkualitas, inovasi, dan kolaborasi pengembangan ilmu pengetahuan.

Iklan
Iklan