Berita  

Dituding Bikin Kaya Mendadak, Ternyata Mitos Tuyul Punya Jejak Sejarah Kesenjangan Sosial

 

SUARAMALANG.COM – Tuyul selama ini dikenal sebagai sosok makhluk gaib yang dipercaya mencuri uang demi memperkaya orang yang memeliharanya. Namun, di balik cerita mistis tersebut, tersimpan penjelasan sosial yang menarik dari sejarah masyarakat Jawa.

Kepercayaan terhadap tuyul tidak hanya berkaitan dengan dunia gaib. Sejarawan Ong Hok Ham menafsirkan mitos tersebut sebagai gambaran kecemburuan sosial terhadap kelompok yang mengumpulkan kekayaan. mengulas pemikiran Ong mengenai hubungan mitos tuyul dan kesenjangan ekonomi masyarakat Jawa.

Tuyul dan Kecurigaan terhadap Orang Kaya

Dalam cerita rakyat, tuyul digambarkan sebagai makhluk kecil yang mampu mengambil uang tanpa diketahui pemiliknya. Sosok ini kemudian identik dengan praktik pesugihan untuk memperoleh kekayaan secara instan.

Cerita tersebut juga melahirkan kecurigaan terhadap orang yang mendadak kaya. Ketika sumber kekayaannya sulit dipahami lingkungan sekitar, sebagian masyarakat menghubungkannya dengan bantuan makhluk gaib.

Ong Hok Ham melihat kepercayaan itu melalui konteks masyarakat Jawa yang agraris. Akumulasi kekayaan oleh kelompok pedagang dapat memunculkan kecemburuan di tengah masyarakat yang hidup dengan penghasilan terbatas.

Baca Juga:  Libur Sekolah Dongkrak Penumpang Stasiun Malang 8 Persen, KAI Perkuat Pengawasan Keselamatan Perjalanan

Dengan demikian, tuyul dapat dibaca sebagai simbol kecurigaan terhadap kekayaan yang dianggap tidak wajar. Penafsiran ini menjelaskan fungsi sosial mitos tersebut, bukan membuktikan keberadaan makhluk gaib.

Jejak Mitos Tuyul dalam Sejarah Jawa

Kepercayaan terhadap makhluk halus merupakan salah satu bagian dari kehidupan budaya masyarakat Jawa. Berbagai cerita diwariskan melalui tradisi lisan dan berkembang mengikuti pengalaman sosial masyarakat.

Antropolog Clifford Geertz turut mendokumentasikan kepercayaan terhadap roh, sihir, dan praktik mistis dalam bukunya, The Religion of Java, yang terbit pada 1960. Penelitian tersebut berangkat dari kajian kehidupan keagamaan masyarakat Mojokuto, yang dikenal sebagai Pare, Jawa Timur. menjelaskan cakupan penelitian Geertz mengenai kehidupan keagamaan masyarakat Jawa.

Kajian tersebut memberi gambaran mengenai beragam kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat. Namun, penjelasan khusus tentang hubungan tuyul dan kesenjangan ekonomi perlu ditempatkan pada analisis Ong Hok Ham, bukan dianggap sebagai kesimpulan langsung Geertz.

Mengapa Cerita Tuyul Bertahan hingga Sekarang?

Mitos tuyul bertahan karena ceritanya mudah dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari. Uang yang hilang, kekayaan yang meningkat, atau kejadian yang belum diketahui penyebabnya dapat memicu penjelasan mistis.

Baca Juga:  Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya, Batik Dibawa Lebih Dekat ke Gen Z

Selain itu, cerita tuyul terus hidup melalui obrolan masyarakat, film horor, dan konten digital. Penggambaran sosoknya pun berkembang mengikuti imajinasi setiap generasi.

Meski demikian, cerita turun-temurun tidak otomatis menjadi fakta. Uang yang hilang tetap perlu ditelusuri melalui kemungkinan nyata, seperti kelalaian penyimpanan, akses orang lain, atau pencurian.

Pada akhirnya, mitos tuyul bukan hanya menarik sebagai cerita horor. Kisah tersebut juga membuka ruang untuk memahami cara masyarakat memaknai kekayaan, ketimpangan ekonomi, dan sesuatu yang dianggap berada di luar penjelasan sehari-hari.