Wisata  

Hampir Setahun Diluncurkan, MaiA Bawa AI ke Pariwisata Indonesia, Sejauh Mana Dampaknya?

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana meluncurkan MaiA, asisten perjalanan berbasis kecerdasan buatan, sebagai bagian dari program Tourism 5.0 pada 28 November 2025. (Foto: Dok. Kemenpar)

SUARAMALANG.COM, Jakarta – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menjadi bagian dari transformasi digital pariwisata Indonesia melalui MaiA (Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia). Diluncurkan pada 28 November 2025, asisten perjalanan digital milik Kementerian Pariwisata ini dirancang membantu wisatawan menemukan destinasi, menyusun rencana perjalanan, hingga memperoleh rekomendasi sesuai minat mereka.

Menjelang satu tahun operasionalnya, MaiA tidak hanya diposisikan sebagai alat untuk mempermudah perencanaan liburan. Platform ini juga menjadi bagian dari pendekatan Tourism 5.0, yakni pemanfaatan teknologi digital dan data untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih personal, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan wisatawan.

MaiA dapat diakses melalui situs resmi Indonesia Travel. Wisatawan dapat menggunakannya untuk mencari inspirasi perjalanan, memperoleh rekomendasi destinasi, menyusun itinerary, serta memanfaatkan peta interaktif dan informasi dalam berbagai bahasa.

Saat peluncuran di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, pada 28 November 2025, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut MaiA sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata yang cerdas, inklusif, dan berkelanjutan.

Pengguna Domestik Mendominasi, Wisatawan Asing Ikut Memanfaatkan MaiA

Salah satu gambaran awal pemanfaatan MaiA terlihat dari profil penggunanya. Dalam keterangan yang disampaikan pada Juni 2026, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen pengguna MaiA berasal dari pasar domestik, sedangkan 40 persen lainnya dari pasar mancanegara.

Untuk pengguna dari luar negeri, wisatawan asal China, Singapura, dan Jerman termasuk kelompok yang mendominasi. Data ini memberi gambaran bahwa layanan perencanaan perjalanan berbasis AI berpotensi menjangkau wisatawan dalam negeri sekaligus calon pengunjung internasional yang mencari informasi tentang Indonesia.

Baca Juga:  Kota Malang Jadi Kota Pertama Gelar Festival Batik Tiga Kota 2025

Menurut Kementerian Pariwisata, MaiA juga dapat membantu memahami kecenderungan dan preferensi calon wisatawan. Informasi tersebut berpotensi menjadi masukan untuk menyusun promosi destinasi yang lebih relevan dengan minat pasar.

Meski demikian, data komposisi pengguna belum cukup untuk menyimpulkan bahwa MaiA telah meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan atau pendapatan sektor pariwisata. Untuk mengukur dampak tersebut, diperlukan indikator tambahan, seperti jumlah pengguna aktif, tingkat penggunaan rekomendasi, konversi menjadi pemesanan, serta kontribusi terhadap transaksi usaha pariwisata.

Peluang bagi Destinasi Daerah dan Pelaku Usaha Wisata

Penggunaan AI dalam pariwisata membuka peluang bagi destinasi di luar lokasi yang selama ini lebih dikenal wisatawan. Melalui rekomendasi yang disesuaikan dengan minat dan rencana perjalanan, wisatawan dapat memperoleh inspirasi untuk mengunjungi berbagai daerah, mulai dari destinasi alam dan budaya hingga kawasan wisata kuliner.

Bagi pelaku usaha lokal, perkembangan ini dapat menjadi peluang untuk meningkatkan visibilitas produk dan layanan. Penginapan, penyedia tur, restoran, pelaku ekonomi kreatif, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berpotensi memperoleh manfaat apabila informasi mengenai produk, lokasi, akses, dan pengalaman yang ditawarkan tersedia secara akurat dan mudah ditemukan dalam ekosistem digital pariwisata.

Namun, manfaat tersebut tidak muncul secara otomatis hanya karena sebuah destinasi terhubung dengan teknologi AI. Ketersediaan informasi yang mutakhir, kualitas layanan, akses transportasi, kesiapan infrastruktur, dan kemampuan pelaku usaha memanfaatkan kanal digital tetap menjadi faktor penting.

Baca Juga:  Konser Sambang Sambung Akan Hadirkan Talenta Lokal dengan Karya Orisinal

MaiA juga perlu dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti interaksi manusia dalam perjalanan wisata. Dalam pemberitaan ANTARA pada September 2026, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menekankan bahwa AI dapat membantu memberikan rekomendasi dan mempermudah perencanaan, tetapi tidak dapat menggantikan keramahan masyarakat serta peran pemandu wisata dalam menyampaikan informasi yang benar dan relevan.

Ke depan, dampak MaiA terhadap pariwisata Indonesia akan semakin ditentukan oleh kemampuannya menghubungkan kebutuhan wisatawan dengan informasi destinasi yang terpercaya dan layanan nyata di lapangan. Evaluasi berbasis data, perlindungan privasi, serta keterlibatan pelaku usaha daerah diperlukan agar transformasi digital tidak berhenti pada kemudahan mencari informasi, tetapi turut memberi nilai ekonomi bagi masyarakat.

Hampir setahun setelah diluncurkan, MaiA telah menunjukkan arah pemanfaatan AI untuk membantu wisatawan dan memahami profil pasar. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi tersebut benar-benar mendukung perjalanan yang lebih mudah, memperluas peluang destinasi daerah, dan memberikan manfaat yang terukur bagi ekosistem pariwisata nasional.