Wisata  

Kemenpar Dorong Paket Wisata Tematik Yogyakarta-Borobudur, Bidik Tren Slow Tourism

Kegiatan famtrip Kementerian Pariwisata di Yogyakarta dan kawasan Borobudur memperkenalkan pengalaman wisata berbasis kuliner, sejarah budaya, dan mindfulness. (Foto: Dok. Kemenpar)

SUARAMALANG.COM, Yogyakarta – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong agen perjalanan dan operator tur dalam negeri mengembangkan paket wisata tematik berbasis gastronomi, mindfulness, dan sejarah budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) serta kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan familiarization trip (famtrip) bertajuk “Harmoni Raga, Rasa, dan Tradisi” pada 16–20 Oktober 2026. Program ini ditujukan untuk menghasilkan paket wisata berkualitas dan berkelanjutan yang dapat dipasarkan kepada wisatawan nusantara.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan, kegiatan tersebut merespons perubahan tren perjalanan masyarakat yang mulai bergeser dari wisata massal menuju pengalaman yang lebih mendalam dan bernilai.

Menurut Made, wisatawan, khususnya segmen menengah ke atas dari wilayah Jabodetabek, semakin mencari pengalaman yang menawarkan ketenangan, perawatan diri, serta cerita sejarah dan budaya yang kuat.

“Tren wisatawan nusantara, khususnya segmen menengah ke atas dari wilayah Jabodetabek, kini tidak lagi sekadar mencari destinasi untuk berfoto, melainkan pengalaman mendalam yang memberikan ketenangan jiwa dan narasi sejarah yang kuat,” kata Made dalam keterangan di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Famtrip Ditargetkan Hasilkan Paket Siap Jual

Kemenpar melibatkan 10 perwakilan biro perjalanan dan asosiasi pariwisata dalam kegiatan tersebut. Sejumlah organisasi yang berpartisipasi antara lain Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI), Aliansi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (AITTA), Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO), dan Asosiasi Kembali Berwisata Indonesia (KEMBERIN).

Baca Juga:  Penutupan Wisata Bromo Saat Yadnya Kasada 2026, Pengunjung Baru Bisa Masuk 3 Juni

Made menjelaskan, famtrip tidak hanya berfungsi sebagai pengenalan destinasi, tetapi juga mempertemukan agen perjalanan dengan pengelola atraksi lokal melalui pertemuan bisnis atau business-to-business (B2B).

Melalui mekanisme tersebut, Kemenpar menargetkan terbentuknya paket tur komersial baru, baik berupa open trip maupun perjalanan kelompok privat. Produk tersebut diharapkan dapat meningkatkan lama tinggal dan pengeluaran wisatawan di Yogyakarta serta Borobudur.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung target 1,18 miliar perjalanan wisatawan nusantara pada 2026. Setelah kegiatan berakhir, peserta diharapkan berkomitmen menyusun dan memasarkan sedikitnya dua paket wisata tematik baru.

Kuliner, Sejarah, dan Mindfulness Jadi Daya Tarik

Selama lima hari empat malam, peserta menjelajahi berbagai pengalaman yang memadukan kuliner, budaya, sejarah, dan kebugaran. Agenda antara lain mencakup Telusur Kampung Santan Spesial Ingkung di Bantul bersama Dje Djak Rasa serta Senja Gastronomy Walking Tour yang menyusuri kawasan Tugu dan Pecinan.

Peserta juga mengikuti perjalanan bertema “Tiga Wajah Mataram” bersama Remen Jawi, menikmati racikan teh personalisasi di Sadahurip, mengunjungi Kampung Wisata Purbayan, dan mencicipi hidangan gastronomi etnik di Dapur Alit Jogja.

Baca Juga:  Libur Nataru, Jumlah Penumpang Bandara Abd Saleh Melonjak hingga 20 Persen

Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi meditasi mindfulness yang memadukan relaksasi dan penuturan kisah budaya bersama Selaras Jiwo Journey.

Made turut menyoroti potensi walking tour atau wisata jalan kaki sebagai bagian dari slow tourism. Model perjalanan ini memungkinkan wisatawan berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat, mengenal kehidupan kampung, serta menikmati sejarah dan kuliner secara lebih santai.

“Melalui jalan kaki, wisatawan tidak hanya melintasi ruang kota, tetapi dapat berinteraksi langsung dengan warga lokal, menghirup suasana kampung, serta meresapi cerita sejarah dan kuliner secara autentik di setiap sudut yang dikunjungi,” ujarnya.

Kemenpar berharap pengembangan paket wisata tematik tersebut dapat memperluas pilihan pengalaman bagi wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha dan pengelola atraksi lokal. Pendekatan ini juga diharapkan mendukung pariwisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.