SUARAMALANG.COM, KOTA MALANG– Menyambut Hari Pahlawan 10 November 2026, Komandan Korem 083/Baladhika Jaya (Danrem 083/BDJ) Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan menginisiasi gagasan Malang Kota Pejuang.
Gerakan ini diarahkan untuk menghidupkan kembali sejarah perjuangan Malang sekaligus menjadikannya sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda Ngalam menuju Indonesia Emas 2045.
Inisiatif tersebut menempatkan Malang bukan sekadar sebagai kota yang memiliki banyak peninggalan sejarah. Lebih jauh, Malang Kota Pejuang dirancang menjadi gerakan bersama untuk mengenali, merawat, dan mewariskan nilai kepahlawanan kepada generasi berikutnya.
“Malang memiliki jejak panjang dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mulai dari pergerakan tentara, ulama, santri, pelajar, hingga masyarakat sipil yang mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan,” ujarnya dalam diskusi bersama insan pers, TNI, Polri, dan ormas di Kota Malang, 22 Oktober 2026.
Dua Pejuang di Malang Pahlawan Nasional
Menurut Danrem, dua tokoh penting yang memiliki keterkaitan erat dengan Malang adalah Pahlawan Nasional Mas Isman dan KH Masjkur.
“Beliau berdua mewakili tradisi perjuangan yang tumbuh dari lingkungan berbeda, tetapi bertemu dalam semangat mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” tandas Sam Ndan Wahyu.
“Mas Isman dikenal melalui perjuangan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), sedangkan KH Masjkur memiliki peran penting dalam perjuangan Laskar Sabilillah yang menghimpun kekuatan ulama dan masyarakat,” paparnya.
Jejak perjuangan tersebut juga terlihat dalam peristiwa Pertempuran Jalan Salak pada 31 Juli 1947.
Sebanyak 35 pejuang pelajar TRIP gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda, yang kini dikenang melalui Monumen Pahlawan TRIP di Kota Malang.
Malang dan Sejarah Panjang Perjuangan
Identitas Malang sebagai kota perjuangan juga berkaitan dengan perkembangan organisasi militer dan pertahanan rakyat.
Masih kata Danrem, pada masa pendudukan Jepang, Malang menjadi salah satu wilayah yang memiliki aktivitas Pembela Tanah Air (PETA).
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, sejumlah tokoh dan bekas anggota PETA terlibat dalam pembentukan kekuatan pertahanan Republik.
Malang juga menjadi bagian dari konsolidasi Laskar Sabilillah dan Hizbullah. “Kedua kelompok tersebut turut memberikan kontribusi dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, termasuk saat pertempuran di Surabaya pada November 1945,” kata Wahyu.
Hingga kini, Malang memiliki keberadaan satuan militer yang menonjol, termasuk Divisi Infanteri 2 Kostrad di Singosari, jajaran brigade infanteri, batalyon, serta Korem 083/Baladhika Jaya.
Jejak tersebut menjadi salah satu landasan historis untuk mengembangkan Malang Kota Pejuang sebagai gerakan yang tidak berhenti pada peringatan seremonial.
Melalui gagasan tersebut, sejarah perjuangan diharapkan semakin dekat dengan kehidupan generasi muda, terutama melalui pendidikan, kegiatan komunitas, dan penguatan ruang-ruang pembelajaran sejarah.
Kajian Malang Sebagai Kota Perjuangan Sangat Diperlukan
Sigit Raharjo, seorang jurnalis senior yang hadir dalam diskusi, menyambut baik usulan Danrem 083/BJ tersebut, namun jangan sampai hanya menjadi kegiatan seremonial semata dan harus diperjuangan secara nyata, juga secara terus menerus
” Jangan sampe setelah deklarasi atau inisiatif hanya sebatas seremonial kemudian tidak berkelanjutan, karena berganti pejabat” ujarnya
Hal yang sama juga disampaikan akademisi Dr.Drs.Mohammad Solikin., M.Si., sepakat usulan dan inisiatif Danrem tersebut, namun yang perlu dipahami dan ditelusuri secara jelas serta otentik adalah literatur sejarah perjuangannya di wilayah Malang sendiri. Mulai dari sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan, agresi Belanda maupun lainnya, sehingga bukti sejarahnya bisa dipertanggungjawaban secara moral dan intelektual.
” Saya sebagai orang Malang asli setuju bila Malang jadi Kota Perjuangan, seperti Malang sebagai Kota Pahlawan, tapi harus tetap objektif dalam penentuan tersebut,” ujar Mohammad Solikin, yang punya nama lain Solihin Bahari di kalangan jurnalis senior.
Menjadi Bagian DNA Identity Ngalam
Sementara, Wakil Ketua PCNU Kota Malang, Khoirul Anwar, menyampaikan, Malang Kota Pejuang tepat diberikan untuk Malang Raya.
Julukan baru ini juga menjadi salah satu dari tiga pilar besar DNA Identity Ngalam 2045 yang menghubungkan budaya, perjuangan, dan teknologi.
Pilar pertama adalah Ngalam Hebak (Malang Kabeh), gerakan identitas budaya yang diinisiasi Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo P.S.
Gerakan tersebut mengangkat Osob Kiwalan, kebudayaan lokal, dan nilai kebersamaan masyarakat Malang.
Pilar kedua adalah Malang Kota Pejuang, yang menempatkan sejarah kepahlawanan sebagai sumber keberanian, solidaritas, pengorbanan, dan integritas masyarakat.
Sedangkan pilar ketiga adalah AI untuk Osob Kiwalan, sebuah gagasan pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendokumentasikan bahasa, sejarah lisan, serta pengetahuan lokal agar dapat diwariskan secara digital.
“Ketiga pilar itu dikembangkan dalam satu kerangka identitas. Budaya menjelaskan siapa masyarakat Malang, sejarah perjuangan menjelaskan asal-usul karakter mereka, sementara teknologi membantu menjaga keberlanjutan warisan asli Ngalam untuk generasi masa depan,” jelas Anwar yang juga seorang jurnalis ini.
Hari Pahlawan, Titik Awal Keterlibatan Berbagai Pihak
Ketua Gerakan Ngalam Hebak Hanan Jalil menambahkan, pada momentum Hari Pahlawan 10 November diharapkan menjadi titik awal memperluas keterlibatan TNI, perguruan tinggi, sejarawan, komunitas, serta generasi muda dalam mengembangkan gagasan tersebut.
“Melalui Malang Kota Pejuang, memori sejarah diarahkan menjadi kekuatan pembentukan karakter, bukan sekadar nostalgia masa lalu,” katanya.
Sebab, masa depan identitas Malang tidak cukup dibangun dengan mengenang para pahlawannya, juga dengan mewariskan nilai perjuangan mereka dalam kehidupan generasi berikutnya.
Pewarta: *MS Alkatiri













