SUARAMALANG.COM, Kota Malang– Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Ilfi Nur Diana, menegaskan semangat emansipasi yang diwariskan Raden Ajeng Kartini tetap relevan di tengah perkembangan zaman, khususnya bagi Generasi Z yang hidup di era digital.
Hal itu disampaikan Prof. Ilfi dalam refleksi Hari Kartini 2026 bertajuk Kartini Reborn: Saat Gen-Z Menggugat Ulang Makna Kesetaraan. Menurutnya, perjuangan Kartini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan energi moral yang harus terus dihidupkan dalam kehidupan modern.
“Nilai-nilai Kartini hari ini hadir dalam cara generasi muda memandang pendidikan, identitas, keadilan sosial, dan relasi antarmanusia,” ujarnya
Ia menjelaskan, Kartini pada masanya berjuang membuka akses pendidikan bagi perempuan dan menolak keterbatasan berpikir. Semangat itu, kata dia, kini menemukan bentuk baru melalui teknologi yang membuka ruang belajar lebih luas.
Prof. Ilfi mengingatkan masih adanya kesenjangan akses pendidikan akibat faktor ekonomi, geografis, dan literasi digital. Karena itu, generasi muda didorong tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga agen perubahan.
“Gen Z harus mampu memanfaatkan ruang digital untuk menyebarkan pengetahuan, membuat konten edukatif, dan membangun komunitas belajar yang inklusif,” tegasnya.
Selain pendidikan, Prof. Ilfi menilai semangat Kartini juga tercermin dalam keberanian generasi muda mengekspresikan identitas diri di tengah keberagaman budaya dan pemikiran.
Meski begitu, ia menekankan bahwa kebebasan berekspresi tetap harus dibarengi tanggung jawab sosial dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan.
“Kebebasan harus tetap menjaga etika, menghargai orang lain, dan tidak merendahkan sesama,” katanya.
Prof. Ilfi juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda di ruang publik dan kepemimpinan. Menurutnya, media sosial kini menjadi ruang baru bagi anak muda untuk menyuarakan gagasan, terlibat dalam gerakan sosial, hingga mendorong perubahan.
Ia menegaskan ruang publik digital harus dikelola secara sehat, terbuka, dan memberi kesempatan yang sama bagi semua pihak.
“Semangat Kartini mendorong hadirnya ruang yang adil, di mana setiap orang punya kesempatan didengar dan berpartisipasi,” ujarnya.
Dalam konteks sosial, Prof. Ilfi menyebut nilai Kartini juga berkaitan dengan relasi setara dalam keluarga, pertemanan, maupun dunia kerja. Hubungan yang sehat, menurut dia, dibangun atas dasar saling menghormati, bukan dominasi.
Lebih jauh, ia mengingatkan tantangan besar di era digital saat ini adalah maraknya hoaks, disinformasi, dan bias algoritma. Karena itu, generasi muda dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis.
“Kesetaraan juga berarti memberi ruang bagi setiap orang untuk berpikir mandiri dan tidak terjebak dalam narasi menyesatkan,” jelasnya.
Prof. Ilfi menilai semangat Kartini kerap direduksi hanya sebagai seremoni tahunan. Padahal, yang lebih penting adalah bagaimana nilai kesetaraan diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari.
Ia mengajak generasi muda menjadikan Hari Kartini sebagai momentum untuk memperjuangkan masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan bermartabat.
“Jika Kartini hidup hari ini, mungkin beliau hadir lewat platform digital, memimpin gerakan sosial, dan menginspirasi jutaan orang. Tetapi esensinya tetap sama, yakni memperjuangkan kemanusiaan yang adil dan beradab,” pungkasnya.
Pewarta: *Ali Halim























