SUARAMALANG.COM, Jawa Timur – Gunung Semeru selalu punya daya tarik tersendiri. Statusnya sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa membuat banyak orang memasukkannya ke dalam daftar pendakian impian.
Belakangan, tren mendaki gunung juga semakin populer di media sosial. Tak sedikit orang yang tertarik naik gunung setelah melihat unggahan foto atau video perjalanan para pendaki. Namun bagi yang baru pertama kali mendaki, Semeru bukanlah tempat yang disarankan untuk belajar.
Di kalangan pegiat alam bebas, Semeru sejak lama dikenal sebagai gunung yang menuntut kesiapan fisik, mental, dan pengalaman. Bukan tanpa alasan.
Ketinggiannya Bisa Bikin Tubuh Kaget
Dengan ketinggian mencapai 3.676 meter di atas permukaan laut, Semeru berada pada level yang membuat kadar oksigen di udara mulai berkurang cukup signifikan.
Akibatnya, tubuh harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan pasokan oksigen. Pada sebagian orang, kondisi ini bisa memicu gejala Acute Mountain Sickness (AMS) atau penyakit ketinggian.
Gejalanya beragam, mulai dari pusing, mual, sesak napas, cepat lelah hingga sulit berkonsentrasi. Bagi pendaki berpengalaman, kondisi tersebut mungkin sudah bisa diantisipasi. Namun bagi pemula, pengalaman pertama menghadapi AMS bisa sangat mengganggu bahkan membahayakan.
Jalur Puncaknya Tidak Semudah yang Terlihat di Media Sosial
Banyak foto puncak Mahameru terlihat indah dan menenangkan. Namun medan menuju titik tertinggi Semeru justru menjadi salah satu tantangan terberat.
Jalur dari Kalimati menuju Mahameru didominasi pasir vulkanik dan kerikil yang mudah longsor. Tidak sedikit pendaki yang mengibaratkan dua langkah naik dibayar satu langkah turun karena kaki terus melorot.
Secara ilmiah, medan seperti ini membuat tubuh mengeluarkan energi jauh lebih besar dibanding berjalan di jalur biasa. Itulah sebabnya banyak pendaki yang merasa kuat saat latihan, tetapi kehabisan tenaga ketika menghadapi tanjakan pasir menuju puncak.
Dingin di Gunung Bukan Sekadar Masuk Angin
Kesalahan yang sering dilakukan pendaki pemula adalah menganggap udara dingin gunung sebagai hal biasa.
Padahal, semakin tinggi lokasi pendakian, suhu udara akan terus menurun. Saat dini hari, suhu di kawasan Semeru bisa turun drastis, terutama ketika angin sedang kencang.
Jika tubuh kelelahan, kurang makan, atau menggunakan perlengkapan yang tidak memadai, risiko hipotermia akan meningkat. Kondisi ini terjadi ketika suhu inti tubuh turun di bawah batas normal dan dapat menyebabkan gangguan kesadaran hingga kematian apabila tidak segera ditangani.
Kasus pendaki mengalami hipotermia menjadi salah satu insiden yang paling sering terjadi di berbagai gunung di Indonesia.
Gunung Aktif yang Tidak Bisa Diprediksi Sepenuhnya
Berbeda dengan banyak gunung lain yang sudah lama tidak aktif, Semeru merupakan gunung api aktif.
Aktivitas vulkanik, cuaca, hingga kondisi jalur dapat berubah dalam waktu singkat. Karena itu, setiap pendaki wajib mematuhi aturan yang ditetapkan pengelola dan otoritas vulkanologi.
Pengalaman membaca situasi lapangan sering kali menjadi faktor yang menentukan keselamatan pendaki saat menghadapi kondisi yang tidak sesuai rencana.
Bahaya Terbesar Justru Sering Berasal dari Mental FOMO
Banyak pegiat alam bebas menilai fenomena FOMO menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko saat pendakian.
Ketika seseorang naik gunung hanya karena sedang viral atau ingin mendapatkan foto puncak, fokusnya sering bergeser dari keselamatan menuju pencapaian semata.
Akibatnya, banyak yang memaksakan diri meski kondisi tubuh sudah tidak prima, mengabaikan cuaca buruk, atau tetap melanjutkan perjalanan meski seharusnya berbalik arah.
Padahal dalam dunia pendakian ada satu prinsip yang selalu dipegang: puncak bukan tujuan utama, pulang dengan selamat adalah keberhasilan yang sesungguhnya.
Bangun Jam Terbang Dulu
Bukan berarti pendaki pemula tidak boleh bermimpi naik Semeru. Justru sebaliknya, Semeru bisa menjadi target yang sangat layak dicapai.
Namun sebelum itu, calon pendaki disarankan menambah jam terbang terlebih dahulu melalui gunung dengan tingkat kesulitan yang lebih rendah. Pengalaman tersebut penting untuk melatih fisik, mengenali kemampuan tubuh, memahami manajemen logistik, hingga belajar menghadapi berbagai kondisi di alam bebas.
Karena pada akhirnya, Semeru bukan gunung yang sulit hanya karena ketinggiannya. Gunung ini menjadi berat karena menuntut kesiapan yang sering kali diremehkan oleh mereka yang datang hanya bermodal semangat dan unggahan media sosial.
