SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Universitas Negeri Malang (UM) terus mematangkan persiapan pelaksanaan Tes Mandiri Berbasis Komputer (TMBK) 2026. Kampus ini menargetkan proses seleksi berjalan transparan, berintegritas, dan mampu memberikan layanan terbaik bagi seluruh calon mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Berbagai aspek teknis dan nonteknis telah dipersiapkan sejak pelaksanaan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Mulai dari kesiapan sistem ujian, laboratorium komputer, tenaga teknis, hingga pengawasan pelaksanaan menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan seleksi tahun ini.
UM Siapkan Puluhan Laboratorium untuk TMBK 2026
Direktur Pendidikan UM, Prof. Evi Eliyanah, S.S., M.A., Ph.D., menjelaskan bahwa koordinasi dengan mitra penyelenggara di sejumlah daerah telah dilakukan sejak dua bulan terakhir. Persiapan tersebut meliputi penugasan pengawas, kesiapan teknisi, hingga serangkaian simulasi sistem guna memastikan ujian berlangsung lancar.
Pada tahun ini, Universitas Negeri Malang menggelar TMBK di enam kota, yakni Jakarta, Balikpapan, Bandung, Medan, Yogyakarta, dan Lombok. Pelaksanaan di Jakarta, Balikpapan, serta Bandung berlangsung pada 6–7 Juni 2026, sedangkan Medan, Yogyakarta, dan Lombok dijadwalkan pada 8–9 Juni 2026.
Sementara itu, pelaksanaan TMBK di kampus UM akan digelar pada 12–13 Juni 2026. Untuk mendukung pelaksanaan tersebut, universitas menyiapkan 67 ruang laboratorium komputer yang tersebar di berbagai fakultas dan unit kerja.
Selain itu, seluruh lokasi ujian menerapkan standar operasional yang sama. Standar tersebut mencakup aspek administrasi, teknis pelaksanaan, hingga prosedur penanganan apabila ditemukan indikasi pelanggaran selama ujian berlangsung.
Keamanan Seleksi Diperkuat, Soal Diacak Lebih Variatif
UM juga memperkuat sistem keamanan ujian melalui berbagai pembaruan teknologi. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kredibilitas penerimaan mahasiswa baru sekaligus mencegah potensi kecurangan selama pelaksanaan tes.
Menurut Prof. Evi, browser yang digunakan peserta telah diperkuat sehingga tidak memungkinkan akses ke aplikasi lain selama ujian berlangsung. Selain itu, sistem pengacakan soal dibuat lebih beragam agar peserta yang duduk berdekatan tidak memperoleh susunan soal yang sama.
“Kami memperkuat browser yang digunakan sehingga peserta tidak dapat membuka aplikasi lain selama ujian. Selain itu, sistem pengacakan soal dibuat lebih bervariasi sehingga peserta yang berdampingan tidak memperoleh soal maupun urutan soal yang sama,” ujarnya.
Tidak hanya mengandalkan teknologi, UM juga menerapkan prosedur keamanan yang mengacu pada standar pelaksanaan UTBK. Setiap peserta wajib menjalani pemeriksaan identitas dan pemeriksaan keamanan sebelum memasuki ruang ujian.
Universitas menegaskan tidak akan memberikan toleransi terhadap segala bentuk pelanggaran maupun praktik kecurangan yang berpotensi mencederai prinsip keadilan dalam seleksi.
Layanan Inklusif untuk Peserta Disabilitas
Selain memperkuat aspek keamanan, UM memastikan seluruh peserta memperoleh kesempatan yang setara. Karena itu, peserta penyandang disabilitas di seluruh lokasi ujian akan mendapatkan pendampingan serta fasilitas yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Prof. Evi juga mengimbau peserta yang nantinya dinyatakan lolos melalui jalur mandiri agar segera melakukan registrasi ulang sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Registrasi ulang dinilai penting sebagai bentuk komitmen calon mahasiswa terhadap pilihan pendidikan yang telah ditentukan.
Melalui berbagai langkah tersebut, UM berharap pelaksanaan TMBK 2026 mampu memberikan akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan tinggi berkualitas. Penguatan sistem keamanan, layanan inklusif, serta perluasan kesempatan masuk melalui jalur mandiri menjadi bagian dari upaya universitas dalam menghadirkan seleksi yang transparan dan berkeadilan.






















