SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencatat capaian internasional dengan dikukuhkan sebagai pemegang mandat UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem Sustainability of Indonesia 2026, dalam momentum Wisuda ke-121 yang digelar Selasa (28/4/2026), sekaligus menegaskan peran strategis kampus dalam riset pengelolaan air berkelanjutan di tingkat global.
Pengakuan tersebut menjadi tonggak penting bagi UMM dalam memperluas kontribusi akademik dan riset, khususnya di tengah meningkatnya ancaman krisis air dunia akibat perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta keterbatasan akses air bersih yang masih dialami miliaran penduduk.
Krisis Air Global dan Peran Strategis Kampus
Dalam orasi ilmiahnya, Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, menyoroti kondisi global yang semakin mengkhawatirkan, mulai dari meningkatnya bencana banjir hingga ancaman kekeringan yang diproyeksikan berdampak luas terhadap populasi dunia dalam beberapa dekade ke depan.
Ia menyampaikan bahwa krisis air tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga berimplikasi langsung terhadap ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan stabilitas ekonomi global.
“UMM selalu gigih mendorong pengembangan ekosistem perairan, tidak hanya terfokus pada aspek pelestarian namun juga penguatan ekonomi masyarakat. Universitas ini mengambil langkah-langkah kecil yang kemudian menjadi bagian penting dari langkah besar dunia,” ujar Retno Marsudi dalam orasinya, Selasa (28/4/2026).
Melalui mandat UNESCO Chair tersebut, UMM diharapkan mampu menjadi pusat pengembangan inovasi teknologi air, termasuk efisiensi penggunaan air, sistem daur ulang, hingga solusi desalinasi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Strategi UMM: Integrasi Akademik dan Dampak Nyata
Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa capaian ini sejalan dengan arah transformasi kampus yang tidak lagi berfokus semata pada output akademik, melainkan juga pada dampak nyata bagi masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa pengembangan riset air di UMM dilakukan melalui pendekatan terpadu, mulai dari penguatan kurikulum berbasis ekosistem hingga implementasi teknologi seperti energi mikrohidro dan sistem pengelolaan air berkelanjutan.
“Pengelolaan air yang kami kembangkan tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi menjadi bagian dari solusi berkelanjutan yang langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Pendekatan ini juga membuka ruang kolaborasi lintas sektor, baik dengan lembaga internasional maupun komunitas lokal, guna memastikan solusi yang dihasilkan bersifat aplikatif dan berkelanjutan.
Implikasi dan Arah Pengembangan ke Depan
Mandat UNESCO Chair tidak hanya menjadi simbol prestasi, tetapi juga tanggung jawab besar bagi UMM untuk terus memperkuat posisi Indonesia dalam isu global terkait air dan lingkungan.
Dengan dukungan jejaring internasional, UMM berpeluang menjadi hub riset dan inovasi yang mampu menjawab tantangan krisis air secara komprehensif, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan berkelanjutan.
Di sisi lain, momentum ini juga mempertegas peran kampus sebagai agen perubahan yang tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga solusi konkret bagi persoalan mendasar umat manusia.



















