Dekan FISIP UB: Ngalam Hebak Bisa Menjadi Ruang Pertemuan Identitas Lokal dan Gerakan Sosial Mahasiswa

SUARAMALANG.COM, Kota Malang– Malang tumbuh sebagai kota pendidikan yang setiap tahun mempertemukan masyarakat lokal dengan ribuan mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah. Di tengah perubahan itu, identitas lokal membutuhkan ruang agar tetap hidup sekaligus mampu berinteraksi dengan generasi baru.

Semangat tersebut menjadi salah satu perspektif yang mengemuka dalam Ngalam Hebak 2026. Gerakan yang akan dideklarasikan di Sasana Krida Budaya Celaket, Kota Malang, Minggu (27/9/2026), itu tidak hanya membawa agenda pelestarian budaya, tetapi juga membuka ruang perjumpaan antara sejarah, identitas Malang dan masyarakat yang terus berubah.

Dekan FISIP Universitas Brawijaya (UB) Dr Imron Rozuli dijadwalkan menjadi salah satu tokoh yang hadir dalam deklarasi tersebut.

Kota Pendidikan Berkarakter Khas

Sebagai kota pendidikan, Malang memiliki karakter sosial yang khas. Mahasiswa dan masyarakat dari berbagai daerah datang, tinggal dan berinteraksi dengan warga lokal. Pertemuan tersebut membuat kebudayaan Malang berhadapan langsung dengan perubahan sosial antargenerasi.

“Malang adalah kota yang terus bertumbuh dan bertemu dengan banyak identitas. Tantangannya bagaimana keterbukaan itu tetap berjalan tanpa membuat masyarakat kehilangan akar sejarah dan kebudayaannya,” kata Imron.

“Salah satu identitas yang dibawa Ngalam Hebak adalah Osob Kiwalan atau Boso Walikan,” sambungnya.

Bahasa khas Arek Malang tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu. Dalam deklarasi Ngalam Hebak, pengunjung hingga pelaku UMKM justru didorong menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari. Pendekatan tersebut membuat pelestarian budaya bergerak dari seremoni menuju praktik sosial.

Baca Juga:  Wendit, Dari Tanah Ulayat Warisan Adat Menuju Tragedi Eksploitasi Ekonomi

Ruang Mahasiswa Berinteraksi dengan Budaya Malang

Bagi lingkungan perguruan tinggi, isu ini juga relevan dengan keberadaan generasi muda. Kampus menjadi ruang tempat mahasiswa dari berbagai daerah berinteraksi dengan masyarakat dan kebudayaan Malang.

“Generasi muda tidak cukup hanya diberi tahu bahwa Malang mempunyai sejarah dan budaya. Mereka perlu memperoleh ruang untuk mengenal, mengalami dan kemudian memberikan makna baru terhadap kebudayaan itu sesuai zamannya,” ujarnya.

Ngalam Hebak sendiri membawa konsep Malang Kabeh. Kebanggaan terhadap Malang tidak diarahkan menjadi identitas yang eksklusif.

Melalui Holopes Janji Ngalam Hebak, masyarakat justru diajak menjadikan Malang sebagai ruang bersama yang terbuka bagi siapa pun tanpa membedakan asal daerah, profesi, generasi maupun latar belakang.

Penghormatan Terhadap Berbagai Aspek 

Komitmen tersebut mencakup penghormatan terhadap martabat manusia, penolakan terhadap diskriminasi dan intoleransi, serta penguatan keamanan, kerukunan dan gotong royong.

Di sisi lain, identitas lokal tetap memperoleh tempat kuat. Sejarah Malang, Boso Walikan, sastra, seni, tradisi dan berbagai bentuk kearifan lokal didorong untuk terus dirawat.

“Identitas lokal dan keterbukaan tidak harus dipertentangkan. Justru masyarakat yang memahami identitasnya akan mempunyai fondasi yang lebih kuat ketika berinteraksi dengan masyarakat yang semakin beragam,” kata Sam Im, panggilan Dekan FISIP UB ini

Deklarasi Ngalam Hebak akan menghadirkan berbagai unsur masyarakat. Akademisi, mahasiswa, komunitas, pelaku budaya, UMKM, tokoh pemuda hingga masyarakat umum dijadwalkan terlibat.

Deklarasi Ngalam Hebak Merawat Malang

Baca Juga:  Bululawang Gelar Festival Tjempluk Kinjut Meriahkan HUT ke-80 RI

Gerakan ini digagas Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi Sukarno. Ketua Pelaksana Ngalam Hebak 2026 Hanan Djalil sebelumnya menegaskan bahwa gerakan tersebut dirancang sebagai ruang bersama untuk merawat Malang.

Deklarasi juga akan diisi pertunjukan seni lintas daerah. Beskalan dan Topeng Malang bertemu dengan Remo Surabaya, Jathilan dan Reog Ponorogo, Gandrung Banyuwangi hingga kesenian Bali.

Setelah deklarasi, rangkaian Ngalam Hebak direncanakan berlanjut melalui sarasehan Boso Walikan pada pertengahan Oktober dan city run pada akhir Oktober 2026.

City run akan membawa peserta menyusuri sejumlah kampung tematik, mulai Kampung Warna-Warni, Kampung Putih, Kampung Celaket, Kampung Biru hingga Kayutangan Heritage.

Dalam konteks kota pendidikan, Ngalam Hebak membawa tantangan yang lebih besar dari sekadar menyelenggarakan festival budaya: ” Bagaimana membuat generasi berikutnya tidak hanya tinggal di Malang, tetapi juga mengenal cerita, nilai dan kebudayaan kota tempat mereka belajar dan bertumbuh, ” tambahnya