Mahasiswa Unikama Belajar Topeng Malang dari Ki Soleh, Wujudkan Semangat Ngalam Hebak

SUARAMALANG.COM, KABUPATEN MALANG – Pelestarian budaya lokal tidak cukup hanya dilakukan melalui pertunjukan dan perayaan. Dunia pendidikan juga memiliki peran penting dalam memastikan nilai-nilai budaya tetap dikenal, dipahami, dan diwariskan kepada generasi muda.

Semangat itulah yang melatarbelakangi kegiatan Kuliah Terpadu Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PSP Satrasia), Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), yang diselenggarakan di Padepokan Seni Mangun Dharma, Kabupaten Malang, Sabtu (31/10/2026).

Mengangkat tema “Topeng Malang: Jejak Tradisi, Cermin Identitas, dan Kearifan Lokal”, seniman sekaligus pelestari kesenian Topeng Malang,

Ki Soleh Adi Pramono, tampil sebagai narasumber utama. Mahasiswa angkatan Satrasia mengikuti pembelajaran langsung untuk mengenali kekayaan budaya Malang dari salah seorang pelaku dan pewaris tradisinya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi salah satu bentuk aktualisasi semangat Ngalam Hebak (Malang Kabeh), sebuah gerakan budaya yang mengusung semboyan “Malang untuk Semua, Semua untuk Malang.”

Gerakan Ngalam Hebak diinisiasi oleh Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol. Danang Setiyo Pambudi Sukarno, bersama sejumlah akademisi, budayawan, pegiat media, serta unsur masyarakat lainnya.

Gerakan ini kemudian dideklarasikan dalam Temu Budaya di Sanggar Sasana Krida Budaya, Celaket, Kota Malang, pada 27 September 2026, bersama Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, M.M., dan berbagai elemen masyarakat.

Deklarasi tersebut menjadi titik awal penguatan kolaborasi lintas sektor dalam merawat sejarah, melestarikan kebudayaan, serta membangun identitas Malang yang inklusif.

Melalui semangat Ngalam Hebak, kekayaan budaya lokal diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan simbolis,  juga hadir dalam kegiatan pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Mendekatkan Mahasiswa dengan Akar Budaya

Ketua PSP Satrasia Unikama, Dr. Rahutami, M.Hum., menyampaikan bahwa Kuliah Terpadu merupakan bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Menurutnya, bahasa, sastra, dan budaya merupakan tiga unsur yang saling berkaitan.

Untuk  itu, mahasiswa perlu memperoleh pengalaman belajar yang tidak hanya bersumber dari buku dan ruang kelas, tetapi juga melalui perjumpaan langsung dengan pelaku budaya.

“Topeng Malang merupakan sumber pembelajaran yang sangat kaya. Di dalamnya terdapat cerita, bahasa, simbol, nilai estetika, serta kearifan lokal yang dapat dikaji melalui berbagai perspektif keilmuan. Kami ingin mahasiswa mengenal dan memahami kekayaan tersebut secara langsung,” ujar Rahutami.

Baca Juga:  Inspirasi OOTD dan Warna Keberuntungan Imlek 2026

Ia berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kepekaan mahasiswa terhadap warisan budaya daerah sekaligus mendorong mereka mengembangkan pengetahuan akademik yang berpijak pada realitas sosial dan kebudayaan masyarakat

Ki Soleh: Topeng Malang Bukan Sekadar Pertunjukan

Dalam paparannya, Ki Soleh Adi Pramono mengajak mahasiswa menelusuri sejarah, perkembangan, karakter tokoh, dan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam kesenian Topeng Malang.

Kesenian ini memiliki hubungan erat dengan tradisi cerita Panji yang berkembang dalam kebudayaan Jawa.

Melalui karakter tokoh, warna, bentuk topeng, serta gerak tari, masyarakat mewariskan berbagai nilai kehidupan, seperti kesetiaan, keberanian, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan tanggung jawab.

Setiap unsur dalam kesenian Topeng Malang mengandung makna yang dapat ditafsirkan sebagai representasi pandangan hidup masyarakat pendukungnya.

Untuk itu, Topeng Malang bukan semata-mata hiburan, tetapi juga menjadi media pendidikan budaya dan pewarisan nilai antargenerasi.

Ki Soleh juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlangsungan kesenian tradisional. Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi, kesenian lokal memerlukan ruang untuk terus dipelajari, diapresiasi, dan dikembangkan tanpa kehilangan akar budayanya.

Perjumpaan langsung dengan pelaku budaya diharapkan memberi mahasiswa pemahaman bahwa melestarikan tradisi tidak hanya berarti mempertahankan bentuk pertunjukannya, tetapi juga memahami pengetahuan dan nilai-nilai yang hidup di dalamnya.

Ngalam Hebak dan Tanggung Jawab Generasi Muda

Salah satu penggagas Ngalam Hebak, Ketua Umum Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI), Dr. Wadji, M.Pd., menilai kegiatan Kuliah Terpadu tersebut sebagai contoh konkret bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil bagian dalam gerakan pelestarian budaya.

Menurutnya, semangat Ngalam Hebak tidak seharusnya berhenti pada deklarasi atau slogan, tetapi perlu diwujudkan melalui kegiatan nyata yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk kalangan akademisi dan mahasiswa.

“Dalam Holopes Janji Ngalam Hebak, kita berkomitmen menjaga sejarah, budaya, dan identitas Malang. Bagaimana mungkin kita menjaga sesuatu yang belum kita kenal dan pahami? Oleh karena itu, mengenal Topeng Malang merupakan salah satu langkah nyata untuk menunaikan janji tersebut,” ujar Wadji.

Baca Juga:  Festival Dolanan Hidupkan Kembali Permainan Tradisional 

Ia menegaskan bahwa Ngalam Hebak bukan gerakan untuk membangun kebanggaan kedaerahan yang eksklusif.

Sebaliknya, gerakan tersebut menempatkan kebudayaan Malang sebagai ruang bersama yang terbuka bagi seluruh masyarakat, tanpa membedakan asal-usul maupun latar belakang.

“Malang untuk Semua, Semua untuk Malang mengandung semangat keterbukaan dan kebersamaan. Mahasiswa yang berasal dari Malang maupun daerah lain memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal, mencintai, dan berkontribusi terhadap pelestarian kebudayaan Malang,” katanya.

Wadji menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk menjembatani warisan budaya dengan perkembangan zaman.

Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton kesenian tradisional, tetapi juga mampu mengaji, mendokumentasikan, dan memperkenalkannya melalui berbagai media.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital justru dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperluas jangkauan literasi budaya, sehingga kesenian tradisional tetap dikenal oleh generasi yang hidup dalam lingkungan digital.

Kuliah Terpadu Berlanjut Menjadi Karya

Kegiatan Kuliah Terpadu ini juga dirancang untuk menghasilkan tindak lanjut akademik melalui penugasan sesuai dengan karakteristik mata kuliah yang diikuti mahasiswa.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, seniman, dan masyarakat.

Di tengah derasnya perubahan zaman, perjumpaan generasi muda dengan para penjaga tradisi menjadi salah satu cara penting untuk memastikan warisan budaya tetap memiliki tempat dalam kehidupan masa depan.

Melalui semangat Ngalam Hebak, Topeng Malang diharapkan tidak hanya bertahan sebagai peninggalan sejarah, tetapi terus hidup, dipahami, dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi berikutnya.

Pewarta: *Wadji/Ist