Tekno  

Bahkan Pengguna AI Setiap Hari di AS Masih Khawatir, Ini Alasannya

Ilustrasi penggunaan kecerdasan buatan dalam aktivitas sehari-hari di tengah meningkatnya perhatian terhadap dampak dan keamanannya

SUARAMALANG.COM – Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin masuk ke aktivitas sehari-hari, mulai dari mencari resep, mengerjakan tugas, melakukan riset pekerjaan, hingga membuat presentasi.

Namun, semakin sering seseorang menggunakan AI ternyata tidak otomatis membuat mereka merasa nyaman dengan dampak teknologi tersebut. Survei global terbaru Gallup menunjukkan adanya jarak antara penggunaan, kepercayaan, dan kekhawatiran terhadap AI.

Di Amerika Serikat, misalnya, 68 persen orang yang menggunakan AI setiap hari mengatakan mereka khawatir terhadap teknologi tersebut. Angka ini memang lebih rendah dibandingkan pengguna yang memakai AI lebih jarang, tetapi tetap menunjukkan bahwa penggunaan rutin tidak menghapus kekhawatiran.

Temuan tersebut merupakan bagian dari penelitian Gallup bersama Microsoft yang saat ini mencakup 37 negara. Pengumpulan data dilakukan antara April dan Juli 2026 dengan sekitar 1.000 responden di masing-masing negara.

Pengguna AI Setiap Hari Belum Tentu Merasa Aman

Temuan Gallup memperlihatkan pola yang menarik. Orang yang lebih sering menggunakan AI cenderung lebih percaya terhadap akurasi hasilnya dibandingkan mereka yang jarang atau belum pernah menggunakannya.

Di AS, 45 persen pengguna AI setiap hari mengatakan mereka sangat atau cukup percaya bahwa AI dapat memberikan informasi yang akurat. Angka tersebut turun menjadi 26 persen pada pengguna mingguan, 15 persen pada pengguna yang menggunakannya kurang dari seminggu sekali, dan hanya 8 persen pada mereka yang belum pernah menggunakan AI.

Namun, hubungan antara penggunaan dan kekhawatiran bergerak ke arah yang berbeda. Sebanyak 68 persen pengguna harian di AS mengatakan AI membuat mereka khawatir. Pada pengguna yang lebih jarang, angkanya mencapai 80 persen, sedangkan 74 persen orang yang belum pernah menggunakan AI juga menyatakan kekhawatiran.

Artinya, pengalaman menggunakan AI tampaknya berkaitan dengan meningkatnya kepercayaan sekaligus menurunnya tingkat kekhawatiran, tetapi bukan berarti pengguna rutin otomatis sepenuhnya percaya atau nyaman.

Amerika Serikat Menjadi Salah Satu Negara Paling Khawatir

Jika melihat seluruh responden yang mengetahui AI, AS berada di antara negara dengan tingkat kekhawatiran tertinggi dalam survei tersebut.

Sebanyak 74 persen warga AS yang mengetahui AI mengatakan teknologi tersebut membuat mereka khawatir. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Kanada sebesar 64 persen, Inggris 63 persen, Selandia Baru 61 persen, Irlandia 60 persen, dan Malta 57 persen.

Gallup mencatat negara-negara Barat berpendapatan tinggi dalam survei cenderung memiliki kombinasi yang menarik: penggunaan AI relatif tinggi, tetapi kekhawatiran terhadap dampaknya juga tinggi.

Di tujuh negara Barat berpendapatan tinggi yang masuk penelitian, median penggunaan AI setiap hari mencapai 29 persen. Sementara itu, median di 30 negara lainnya hanya 17 persen.

Paradoks AI: Sering Dipakai, Tetap Dicemaskan

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tingkat adopsi AI tidak dapat digunakan sebagai ukuran sederhana untuk mengetahui apakah masyarakat menerima teknologi tersebut.

Seseorang dapat menggunakan AI setiap hari karena teknologi tersebut membantu menyelesaikan pekerjaan, menghemat waktu, atau mempermudah pencarian informasi. Pada saat yang sama, orang tersebut tetap dapat mencemaskan dampaknya terhadap pekerjaan, privasi, keamanan, pendidikan, atau kehidupan sosial.

Gallup menyebut sikap masyarakat terhadap AI bersifat multidimensional. Seseorang dapat penasaran terhadap AI, memperkirakan teknologi tersebut akan bermanfaat, dan menggunakannya secara rutin sambil tetap merasa khawatir.

Dengan kata lain, menggunakan AI bukan berarti mempercayai AI sepenuhnya.

Negara dengan Adopsi Tinggi Justru Menunjukkan Optimisme

Gambaran tersebut berbeda ketika melihat beberapa negara di luar Barat.

Singapura memiliki proporsi pengguna AI harian tertinggi dalam 37 negara yang disurvei, yakni 46 persen. Di negara tersebut, 77 persen responden yang mengetahui AI memperkirakan teknologi tersebut akan membantu negaranya.

Di China, 35 persen responden mengatakan menggunakan AI setiap hari, sementara 93 persen orang yang mengetahui AI memperkirakan teknologi tersebut akan membantu negaranya.

Baca Juga:  OpenAI Melesat: Kini Bernilai Rp 1.240 Triliun dengan Kemampuan Ubah Teks Jadi Video

Israel juga menunjukkan tingkat optimisme yang relatif tinggi. Gallup menemukan bahwa harapan terhadap manfaat AI di sejumlah negara tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat penggunaan aktual.

Di Vietnam, misalnya, 91 persen responden yang mengetahui AI memperkirakan teknologi tersebut akan membantu negaranya, meskipun hanya 43 persen yang pernah menggunakan AI.

Optimisme Tidak Sama dengan Percaya Hasil AI

Hal yang tidak kalah menarik adalah perbedaan antara optimisme dan kepercayaan terhadap akurasi.

Secara global, median hanya 36 persen responden yang mengetahui AI mengatakan mereka sangat atau cukup percaya bahwa teknologi tersebut memberikan informasi akurat.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan tingkat optimisme terhadap dampak AI. Di 35 dari 37 negara, lebih banyak orang yang memperkirakan AI akan membantu negaranya dibandingkan orang yang benar-benar mempercayai akurasi hasil AI.

Ini menunjukkan bahwa masyarakat dapat melihat potensi AI tanpa menganggap setiap jawaban yang dihasilkan teknologi tersebut sebagai sesuatu yang dapat dipercaya begitu saja.

Mengapa Kepercayaan Tetap Menjadi Masalah?

AI generatif bekerja dengan menghasilkan respons berdasarkan pola yang dipelajari dari data. Dalam praktiknya, sistem dapat memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi tetap keliru.

Risiko tersebut menjadi lebih besar ketika AI digunakan untuk kebutuhan yang membutuhkan akurasi tinggi, seperti informasi kesehatan, keputusan finansial, pekerjaan, pendidikan, atau analisis profesional.

Karena itu, peningkatan penggunaan AI juga menuntut peningkatan kemampuan pengguna dalam memeriksa hasilnya.

Gallup sendiri tidak menyimpulkan apakah penggunaan AI yang lebih sering menyebabkan seseorang menjadi lebih percaya atau justru orang yang sudah lebih percaya memang lebih sering menggunakan AI. Hubungan tersebut terlihat jelas dalam data, tetapi survei tidak dapat menentukan hubungan sebab-akibatnya.

Kekhawatiran Tidak Hanya Soal Jawaban AI

Perdebatan mengenai AI kini juga meluas dari akurasi jawaban ke dampak yang lebih besar.

Pengguna dan masyarakat menghadapi pertanyaan mengenai masa depan pekerjaan, privasi data, keamanan siber, kepemilikan konten, dampak lingkungan, hingga penggunaan AI dalam bidang seperti perekrutan, kesehatan, pendidikan, dan pemerintahan.

Perkembangan agentic AI bahkan membawa persoalan tambahan karena sistem AI mulai dirancang bukan hanya untuk menjawab pertanyaan, tetapi juga menjalankan tindakan menggunakan berbagai perangkat lunak dan layanan digital.

Semakin besar kemampuan AI untuk bertindak, semakin penting pula pembatasan akses, pengawasan manusia, dan mekanisme untuk memeriksa keputusan sistem.

AI Tidak Selalu Membuat Orang Takut

Meski kekhawatiran tinggi di sejumlah negara, hasil survei Gallup secara keseluruhan tidak menggambarkan masyarakat dunia sebagai kelompok yang dominan negatif terhadap AI.

Di 34 dari 37 negara yang diteliti, emosi positif terhadap AI lebih banyak dibandingkan emosi negatif. Median 72 persen responden yang mengetahui AI melaporkan setidaknya satu emosi positif, sementara 41 persen melaporkan setidaknya satu emosi negatif.

Rasa penasaran menjadi respons positif yang paling umum. Secara median, 64 persen responden mengatakan AI membuat mereka penasaran.

Sementara itu, rasa khawatir menjadi emosi negatif yang paling banyak muncul di 35 dari 37 negara. Secara median, 32 persen responden mengatakan AI membuat mereka khawatir.

Kenapa Penggunaan AI Tidak Menghapus Kekhawatiran?

Salah satu penjelasannya adalah bahwa pengalaman menggunakan AI membuat masyarakat melihat manfaat sekaligus keterbatasannya secara langsung.

Pengguna yang hanya melihat AI dari luar mungkin membayangkan teknologi tersebut sebagai sesuatu yang sepenuhnya otomatis dan sangat canggih. Sebaliknya, pengguna rutin dapat mengetahui bahwa AI memang membantu, tetapi tetap dapat membuat kesalahan, menghasilkan informasi yang perlu diperiksa, atau menimbulkan persoalan baru ketika terhubung dengan data dan sistem lain.

Karena itu, pengalaman tidak selalu menghasilkan penerimaan tanpa syarat. Penggunaan dapat membuat seseorang lebih memahami manfaat AI sekaligus lebih sadar terhadap risikonya.

Indonesia Perlu Melihat AI dari Dua Sisi

Temuan global tersebut relevan bagi negara yang sedang memperluas pemanfaatan AI, termasuk Indonesia.

Baca Juga:  Resesi Populasi Mengancam: Jepang di Ambang Kepunahan?

Perdebatan mengenai AI sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan berapa banyak orang yang menggunakan chatbot atau aplikasi AI. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apakah pengguna memahami keterbatasan teknologi, apakah mereka dapat memeriksa informasi yang dihasilkan, dan apakah mereka mengetahui bagaimana data pribadi digunakan.

Dalam konteks pekerjaan dan pendidikan, kemampuan menggunakan AI juga perlu berjalan bersama kemampuan mengevaluasi hasilnya. Semakin mudah AI menghasilkan jawaban, semakin penting kemampuan manusia untuk menentukan apakah jawaban tersebut benar, relevan, dan layak digunakan.

Adopsi AI Bukan Berarti Kepercayaan Penuh

Survei Gallup memperlihatkan satu hal yang penting dalam memahami perkembangan AI: adopsi, optimisme, kepercayaan, dan kekhawatiran dapat muncul secara bersamaan.

Di AS, mayoritas pengguna AI setiap hari masih merasa khawatir. Namun, kelompok pengguna rutin tersebut juga lebih percaya pada akurasi AI dibandingkan mereka yang jarang menggunakannya.

Di negara lain, masyarakat dapat sangat optimistis terhadap manfaat AI meskipun tingkat penggunaannya belum setinggi negara-negara Barat.

Dengan demikian, keberhasilan AI tidak cukup diukur dari jumlah pengguna atau seberapa sering teknologi tersebut dipakai. Kepercayaan terhadap akurasi, pemahaman terhadap risiko, transparansi, dan kemampuan manusia untuk tetap mengendalikan penggunaan teknologi juga akan menjadi bagian penting dari perkembangan AI berikutnya.

AI mungkin semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tetapi data Gallup menunjukkan bahwa semakin dekat dengan teknologi tidak selalu berarti semakin percaya sepenuhnya. Bagi masyarakat, tantangannya bukan sekadar belajar menggunakan AI, melainkan juga belajar kapan harus mempercayainya dan kapan harus memeriksa kembali hasilnya.

FAQ

Berapa persen pengguna AI harian di AS yang masih khawatir?

Sekitar 68 persen pengguna AI setiap hari di AS mengatakan mereka khawatir terhadap AI. Angka tersebut berasal dari pertanyaan mengenai emosi terhadap AI dan berbeda dari angka 74 persen yang berlaku untuk seluruh responden AS yang mengetahui AI.

Apakah pengguna AI harian lebih percaya terhadap hasil AI?

Dalam survei Gallup, pengguna yang lebih sering menggunakan AI cenderung lebih percaya pada akurasi hasilnya. Di AS, 45 persen pengguna harian sangat atau cukup percaya pada akurasi AI.

Negara mana yang paling banyak menggunakan AI setiap hari?

Dalam 37 negara yang dilaporkan Gallup, Singapura memiliki proporsi penggunaan AI harian tertinggi, yaitu 46 persen.

Apakah masyarakat dunia secara umum takut terhadap AI?

Tidak. Gallup menemukan emosi positif terhadap AI lebih banyak daripada emosi negatif di 34 dari 37 negara. Rasa penasaran merupakan salah satu respons yang paling umum.

Apakah semakin sering menggunakan AI membuat orang semakin percaya?

Data menunjukkan hubungan antara frekuensi penggunaan dan tingkat kepercayaan terhadap akurasi AI. Namun, survei tersebut tidak dapat menentukan apakah penggunaan menyebabkan kepercayaan meningkat atau orang yang lebih percaya memang cenderung menggunakan AI lebih sering.

Mengapa orang tetap khawatir meski menggunakan AI setiap hari?

Kekhawatiran dapat berkaitan dengan berbagai persoalan, termasuk pekerjaan, privasi, keamanan, akurasi informasi, kepemilikan konten, dan dampak sosial AI. Penggunaan rutin tidak otomatis menghilangkan persoalan tersebut.

source: https://techcrunch.com