SUARAMALANG.COM – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menargetkan revitalisasi sekolah 2027 menyasar 71.744 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah sekitar 6.000 sekolah.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengatakan mekanisme revitalisasi pada 2027 masih menggunakan pola seperti tahun sebelumnya, yakni dilakukan secara swakelola oleh masing-masing satuan pendidikan.
“Insyaallah 71.744, tapi kemungkinan bisa tambah,” kata Abdul Mu’ti saat berada di Kantor Dinas Pendidikan Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (26/9/2026) malam.
Menurut Abdul Mu’ti, pemerintah saat ini masih menghitung potensi penambahan penerima program. “Sekarang kami hitung sudah bisa tambah 6.000,” imbuhnya.
Sekolah Rusak Berat Masuk Skala Prioritas
Pengusulan sekolah penerima revitalisasi tetap mengacu pada skala prioritas. Sekolah yang terdampak bencana, mengalami kerusakan berat, serta berada di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) menjadi kelompok yang diprioritaskan.
Kebijakan tersebut membuka peluang bagi sekolah di Jawa Timur yang hingga kini masih membutuhkan penanganan untuk kembali masuk dalam pengajuan program revitalisasi 2027.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan perhatian pemerintah pusat terhadap kondisi sekolah di Jawa Timur meningkat dalam dua tahun terakhir.
Berdasarkan data Dapodik yang diajukan Jawa Timur pada 2026, terdapat 324 SMA, 208 SMK dan 141 SLB yang mendapat program revitalisasi.
“Artinya bahwa data yang kami kirim berdasarkan hasil dari laporan dari masing-masing kepala sekolah, banyak sekolah-sekolah kita yang memang membutuhkan perhatian, terutama yang rusak berat, mendapatkan perhatian langsung oleh Pak Menteri bersama dengan jajarannya,” ucap Aries.
Jatim Siapkan Pengajuan Lanjutan untuk Sekolah Rusak
Meski sejumlah sekolah telah memperoleh program revitalisasi pada 2026, Aries mengatakan masih terdapat sekolah rusak yang belum mendapatkan alokasi.
Jawa Timur telah menyiapkan pengajuan lanjutan yang mencakup sekitar 24 SMA, lebih dari 100 SMK dan 48 SLB. Berdasarkan pengecekan lapangan, sekolah-sekolah tersebut masih membutuhkan anggaran penanganan.
“Karena ada rusak sekolah kelasnya yang tidak bisa lagi dipakai, sehingga membutuhkan kelas-kelas baru yang dibangun oleh pemerintah,” tutur Aries.
Sekolah yang membutuhkan penanganan tersebut tersebar di berbagai wilayah Jawa Timur, termasuk daerah pelosok yang menurut Aries belum banyak mendapat alokasi anggaran.
Aries berharap sekolah yang belum mendapatkan revitalisasi pada 2026 dapat kembali diusulkan untuk program 2027, terutama satuan pendidikan yang masuk kategori rusak berat.
“Tahun ini diprioritaskan memang oleh Pak Presiden melalui kementerian bahwa tidak boleh lagi ada sekolah yang rusak berat. Semua harus segera ditangani, baik diprioritaskan di tahun kedua beliau maupun di tahun yang ketiga ini nanti. Jadi insyaallah di tahun ketiga ini, apabila 2026 tidak dapat, 2027 diutamakan,” pungkasnya.
Informasi mengenai sistem pendidikan di Indonesia dapat menjadi konteks tambahan bagi pembaca melalui pendidikan di Indonesia.














