Wamendiktisaintek Fauzan Dorong Riset Kampus Berorientasi pada Kebutuhan Masyarakat

Wamendiktisaintek Fauzan saat membuka Living Lab Summit 2026 di Universitas Brawijaya, Malang, Jumat (30/10/2026), yang membahas pengembangan sains dan teknologi berbasis dampak sosial. (Foto: Dok Kemdiktisaintek)

SUARAMALANG.COM, Malang – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendorong perguruan tinggi mengarahkan penelitian dan inovasi untuk menjawab persoalan nyata masyarakat. Kampus diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga menghadirkan solusi yang bisa diterapkan dan memberikan manfaat sosial maupun ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Fauzan saat membuka Seminar Living Lab Summit 2026 bertema “Meretas Masa Depan: Arah Baru Sains dan Teknologi Berbasis Dampak Sosial” di Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jumat (30/10/2026).

Menurut Fauzan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk menghubungkan keunggulan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Berbagai persoalan, mulai dari sektor pertanian hingga pemenuhan kebutuhan air, dinilai membutuhkan keterlibatan kampus dalam mengidentifikasi masalah dan merumuskan solusi berbasis ilmu pengetahuan.

“Semangat utamanya adalah bagaimana membawa perguruan tinggi-perguruan tinggi yang ada di Indonesia mampu mengangkat problem-problem masyarakat untuk dicarikan solusinya dari kampus. Jadi dari kampus untuk masyarakat,” tutur Fauzan.

Living Lab Dekatkan Penelitian dengan Masyarakat

Fauzan menilai pendekatan Living Lab dapat memperkuat hubungan antara kapasitas keilmuan perguruan tinggi dan kebutuhan masyarakat. Melalui pendekatan ini, penelitian diharapkan berangkat dari persoalan yang teridentifikasi di lapangan, dilanjutkan dengan pengembangan solusi dan penerapan yang sesuai dengan kondisi daerah.

Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan Living Lab Summit sebagai forum yang mendorong perguruan tinggi semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkuat peran kampus sebagai pusat peradaban.

Baca Juga:  Empat Delegasi UM Lolos Final Nasional KBGI XVII dan Abdidaya Ormawa 2026

“Kegiatan semacam ini bisa dijadikan sebagai salah satu cara kita untuk mendefinisikan bahwa perguruan tinggi sebagai pusat peradaban,” ujarnya.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, menambahkan bahwa keberhasilan inovasi membutuhkan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Perguruan tinggi memiliki kapasitas keilmuan, sedangkan masyarakat memahami kebutuhan dan potensi wilayahnya. Pemerintah dan dunia usaha juga berperan dalam mendukung penerapan serta memperluas manfaat inovasi.

“Tidak ada satu pihak pun yang dapat membangun ekosistem inovasi secara mandiri,” tegas Najib.

Dana Riset Perlu Menghasilkan Dampak Nyata

Orientasi penelitian terhadap kebutuhan masyarakat juga menjadi perhatian dalam pemanfaatan pendanaan riset. Berdasarkan laporan Direktur Fasilitasi Riset Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), sejak 2021 hingga 2026, LPDP telah menyalurkan lebih dari Rp2,5 triliun untuk lebih dari 4.800 kegiatan penelitian.

Sementara itu, melalui program khusus Bestari Saintek, pendanaan sekitar Rp57,5 miliar telah diberikan kepada 122 peneliti. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi penelitian bagi masyarakat.

Rektor UB, Widodo, turut menekankan pentingnya hilirisasi hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat maupun industri. Namun, ia mengingatkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dasar tetap perlu mendapat dukungan sebagai fondasi kemajuan teknologi di masa mendatang.

Baca Juga:  FKUB Kota Magelang Kolaborasi dengan Magister Sosiologi UMM Perkuat Perilaku Moderasi Beragama Kota

“Riset-riset kita harus juga terhilirasi langsung kepada masyarakat. Ilmu harus bisa dinikmati, mendukung aktivitas masyarakat dan industri di Indonesia. Tapi untuk lompatan teknologi ke depan, ilmu dasar juga harus kita dukung,” ujar Widodo.

Melalui pendekatan Living Lab, Kemdiktisaintek mendorong perguruan tinggi memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat sejak tahap identifikasi masalah hingga penerapan hasil penelitian.

Dengan demikian, riset kampus diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi berkembang menjadi inovasi yang dapat diterapkan dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.