Sanctuary at Home: Rumah Bersih dan Rapi, Langkah Sederhana Menjaga Kesehatan Mental

Menjaga kebersihan, merapikan barang, dan memastikan sirkulasi udara yang baik dapat membantu menciptakan rumah yang lebih nyaman sebagai ruang beristirahat dan memulihkan energi. (Foto: Ilustrasi)

SUARAMALANG.COM – Rumah tidak hanya menjadi tempat untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas seharian. Lingkungan tempat tinggal juga dapat memengaruhi kenyamanan, suasana hati, dan kualitas hidup penghuninya. Karena itu, konsep sanctuary at home atau menjadikan rumah sebagai ruang perlindungan dan ketenangan semakin relevan di tengah rutinitas yang padat.

Konsep ini tidak menuntut rumah selalu terlihat sempurna seperti dalam foto dekorasi. Fokusnya justru pada kebiasaan sederhana: menjaga kebersihan, mengurangi tumpukan barang, memperbaiki sirkulasi udara, serta menciptakan ruang tidur dan ruang kerja yang lebih nyaman.

Hubungan antara kondisi rumah dan kesejahteraan mental juga mendapat perhatian dalam penelitian. Studi yang diterbitkan di Journal of Environmental Psychology pada 2025 menemukan adanya hubungan antara kekacauan barang di rumah dan tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih rendah. Namun, penelitian tersebut bersifat observasional sehingga tidak membuktikan bahwa rumah berantakan secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan mental.

Artinya, merapikan rumah bukan pengganti penanganan masalah kesehatan mental. Meski begitu, menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dapat menjadi salah satu langkah praktis untuk mendukung rutinitas harian.

Udara bersih lebih penting daripada sekadar tanaman hias

Salah satu bagian penting dari sanctuary at home adalah menjaga kualitas udara dalam ruangan. Debu, tungau, bulu hewan, partikel dari aktivitas memasak, hingga kelembapan berlebih dapat memengaruhi kondisi udara di rumah. Area yang lembap juga berisiko menjadi tempat tumbuhnya jamur.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menyarankan pengendalian sumber polusi, ventilasi yang memadai, serta pengelolaan kelembapan sebagai langkah penting untuk memperbaiki kualitas udara dalam ruangan. Informasi lebih lanjut dapat dibaca melalui panduan kualitas udara dalam ruangan dari EPA.

Baca Juga:  Penentuan Lebaran 2026 Tunggu Sidang Isbat, Ini Jadwalnya

Di rumah dengan ventilasi alami, membuka jendela dan pintu ketika kondisi udara luar memungkinkan dapat membantu pertukaran udara. Kipas penyedot yang membuang udara ke luar juga berguna di dapur dan kamar mandi. Namun, ketika udara luar sedang tercemar, misalnya akibat asap atau debu, membuka jendela lebar-lebar justru perlu dipertimbangkan kembali.

Tanaman hias seperti snake plant dan peace lily dapat menghadirkan nuansa hijau yang menenangkan. Akan tetapi, jangan mengandalkannya sebagai alat utama pemurni udara. Sejumlah kajian menunjukkan kemampuan tanaman mengurangi polutan dalam eksperimen laboratorium tidak serta-merta menghasilkan dampak berarti di rumah biasa. Ventilasi, pengendalian sumber polusi, dan pembersihan rutin tetap lebih penting.

Decluttering membantu rumah terasa lebih lapang

Langkah berikutnya adalah decluttering, yaitu memilah dan mengurangi barang yang tidak lagi dibutuhkan. Kebiasaan ini dapat dimulai dari area yang paling sering digunakan, seperti meja kerja, tempat tidur, atau sudut ruangan yang menjadi tempat menumpuk pakaian dan dokumen.

Meja yang tidak dipenuhi barang, pakaian yang tersimpan pada tempatnya, serta area tidur yang bebas dari tumpukan benda dapat membuat ruangan terasa lebih tertata. Bagi orang yang bekerja atau belajar dari rumah, membatasi barang di meja juga membantu memisahkan area untuk beraktivitas dari area untuk beristirahat.

Proses merapikan tidak harus dilakukan sekaligus. Menyisihkan waktu 10–15 menit setiap hari untuk mengembalikan barang ke tempatnya bisa menjadi awal yang lebih realistis daripada menunggu sampai seluruh rumah berantakan.

Kebiasaan ini sejalan dengan prinsip hidup lebih sederhana yang juga dibahas dalam artikel Rumah Selalu Berantakan? 5 Kebiasaan Kecil yang Bisa Mengubah Rutinitas Harian di SUARAMALANG.COM.

Pembersih alami tetap perlu digunakan dengan tepat

Keinginan menciptakan rumah yang lebih sehat juga mendorong sebagian orang memilih bahan pembersih sederhana, seperti cuka putih dan baking soda. Keduanya dapat digunakan untuk kebutuhan pembersihan tertentu, tetapi bukan berarti selalu cocok untuk semua permukaan atau mampu menggantikan seluruh fungsi produk pembersih dan disinfektan.

Baca Juga:  Menjelajahi Keindahan Alam Situ Gunung: Dari Viralnya Will Smith hingga Fakta Menarik yang Wajib Diketahui

Cuka bersifat asam sehingga dapat merusak permukaan tertentu, seperti batu alam. Sementara itu, baking soda dapat membantu membersihkan noda pada beberapa permukaan. Pilih bahan berdasarkan kebutuhan, periksa kecocokannya pada permukaan, dan uji terlebih dahulu di area kecil.

Hal yang tidak boleh diabaikan adalah keselamatan. Jangan mencampur bahan pembersih secara sembarangan, terutama cuka dengan pemutih berbahan klorin, karena dapat menghasilkan gas berbahaya. Gunakan ventilasi yang memadai, ikuti petunjuk produk, dan simpan bahan pembersih jauh dari jangkauan anak-anak.

Pada akhirnya, sanctuary at home tidak bergantung pada dekorasi mahal atau rumah yang selalu tampak sempurna. Lingkungan yang bersih, udara yang dikelola dengan baik, barang yang tertata, dan rutinitas perawatan yang realistis dapat menjadi fondasi untuk menciptakan tempat tinggal yang lebih nyaman bagi tubuh dan pikiran.