Belajar Rukun Lewat Angklung, Anak TK di Yogyakarta Dilatih Kerja Sama Sejak Dini

Anak-anak TK IT Mekar Insani memainkan angklung dalam kegiatan ekstrakurikuler untuk belajar kerja sama dan kerukunan sejak dini. (Foto: Dok. Dikdasmen)

SUARAMALANG.COM, Yogyakarta – Anak-anak TK IT Mekar Insani, Yogyakarta, belajar membangun kerukunan dan kerja sama melalui kegiatan bermain angklung. Selain mengenalkan musik tradisional Indonesia, kegiatan ini melatih anak untuk bersabar, mendengarkan orang lain, serta menghargai giliran dan peran teman.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak memainkan lagu Padhang Bulan menggunakan angklung. Setiap peserta didik memegang alat musik dengan nada berbeda sehingga mereka perlu mengikuti aba-aba instruktur untuk menghasilkan alunan yang harmonis.

Salah satu peserta yang mengikuti kegiatan itu adalah Bintang, yang berlatih bersama adiknya, Bulan. Keduanya mendapat tugas memainkan angklung bernada si dan tampak antusias ketika tiba giliran mereka membunyikan alat musik tersebut.

“Aku senang sekali,” kata Bintang, yang diamini Bulan.

Angklung Jadi Media Pembelajaran Karakter Anak

Kepala TK IT Mekar Insani, Zenny Savitri, menjelaskan bahwa bermain angklung merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan minat dan bakat anak di bidang seni.

Kegiatan latihan dilaksanakan setiap Kamis bersama instruktur Achmad Miftahur Rochim. Melalui aktivitas tersebut, anak-anak tidak hanya belajar memainkan alat musik, tetapi juga membiasakan diri mengikuti aturan dan bekerja sama dengan teman.

Baca Juga:  Dispendik Kabupaten Malang Rilis Jadwal SPMB 2026/2027 Jenjang TK hingga SMP

“Melalui angklung, anak-anak belajar kolaborasi dan disiplin, sekaligus melatih kesabaran. Mereka harus menunggu giliran sesuai nada yang dimainkan. Dari kebiasaan sederhana ini, kami berharap tumbuh sikap positif yang terbawa dalam keseharian mereka,” ujar Zenny, Kamis (15/10/2026).

Pembelajaran dilakukan melalui permainan, isyarat tangan, dan pendampingan sesuai kemampuan masing-masing anak. Anak yang belum percaya diri juga mendapat dukungan agar berani mencoba tanpa takut melakukan kesalahan.

Belajar Menghargai Perbedaan Melalui Harmoni Musik

Achmad menjelaskan bahwa setiap anak memiliki peran dalam membentuk sebuah lagu. Tidak ada satu anak pun yang dapat menghasilkan harmoni secara mandiri karena permainan angklung membutuhkan perhatian terhadap aba-aba dan bunyi yang dimainkan teman-temannya.

Anak-anak juga belajar mengendalikan keinginan untuk terus membunyikan alat musik. Mereka perlu menunggu saat yang tepat agar nada yang dihasilkan selaras dengan keseluruhan lagu.

“Angklung mengajarkan bahwa keindahan tidak diciptakan oleh satu orang yang hebat, melainkan oleh banyak orang yang mau saling mendengarkan. Tugas kita bukan sekadar mencetak anak yang pandai bermain musik, tetapi membantu mereka belajar menyatukan perbedaan,” tutur Achmad.

Pembelajaran melalui angklung memperlihatkan bagaimana aktivitas seni dapat menjadi sarana untuk mengenalkan nilai kebersamaan sejak usia dini. Kebiasaan menunggu giliran, menghargai kontribusi teman, dan mengikuti aturan menjadi pengalaman sederhana yang dapat diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:  Hari Pertama Sekolah Rakyat di Kota Malang Dimulai, 100 Siswa Jalani Tes Kesehatan

Nilai tersebut sejalan dengan upaya penguatan karakter yang digaungkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Melalui kegiatan yang menyenangkan, pendidikan karakter dapat diperkenalkan lewat pengalaman langsung, bukan hanya melalui penjelasan verbal.

Dari permainan angklung, anak-anak belajar bahwa perbedaan bukan penghalang untuk mencapai tujuan bersama. Ketika setiap anak menghargai peran orang lain dan mengambil bagian sesuai tugasnya, harmoni dapat tercipta, baik dalam musik maupun dalam kehidupan bersama.