Investasi Pariwisata Tumbuh 16,64 Persen, Peluang Usaha Daerah Makin Terbuka

Pemerintah mendorong investasi, konektivitas, dan inovasi produk untuk memperkuat daya saing pariwisata Indonesia. (Foto: Dok. ekon.go.id)

SUARAMALANG.COM, JAKARTA – Investasi sektor pariwisata Indonesia tumbuh 16,64 persen pada 2026, lebih dari dua kali lipat laju pertumbuhan investasi nasional. Capaian ini memperkuat peluang pengembangan destinasi, usaha pendukung wisata, serta penciptaan lapangan kerja di berbagai daerah.

Pemerintah menilai pariwisata menjadi salah satu penggerak strategis pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Peluang tersebut didukung oleh meningkatnya perjalanan wisatawan domestik, pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara, serta kebijakan untuk memperkuat konektivitas dan daya saing destinasi.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menyampaikan hal itu saat membacakan keynote speech Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Jakarta Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2026 di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

“Bagi sektor pariwisata, stabilitas ekonomi sangat penting karena daya beli masyarakat yang lebih kuat mendorong perjalanan domestik, sementara investasi mendukung pembangunan infrastruktur, akomodasi, dan peningkatan layanan,” ujar Dradjad.

Investasi Tumbuh, Perjalanan Wisata Domestik Menguat

Berdasarkan siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, investasi sektor pariwisata mencapai Rp73,55 triliun sepanjang 2025. Pada 2026, pertumbuhannya tercatat sebesar 16,64 persen.

Kinerja tersebut berjalan seiring dengan tingginya mobilitas wisatawan domestik. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 842,15 juta perjalanan, meningkat 4,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga:  Korban Keracunan MBG di Bandung Barat Tembus 345 Orang, Pemda Belum Tetapkan KLB

Sementara itu, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 10,58 juta kunjungan pada periode Januari–Agustus 2026. Angka ini tumbuh 5,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pemerintah juga mencatat devisa pariwisata sebesar 8,43 miliar dolar AS pada semester I 2026. Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 sektor ini menghasilkan devisa 18,28 miliar dolar AS dan mendukung 25,91 juta lapangan kerja.

Data tersebut memperlihatkan besarnya aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan perjalanan wisata. Dampaknya tidak hanya menyentuh hotel dan destinasi, tetapi juga berpotensi menjangkau usaha kuliner, transportasi, produk kreatif, jasa pemandu, hingga UMKM yang memasok kebutuhan wisatawan.

Pemerintah Siapkan Stimulus dan Penguatan Kualitas Wisata

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun yang mencakup diskon transportasi dan insentif perpajakan guna mendorong perjalanan wisata domestik.

Dukungan lainnya meliputi keringanan PPh bagi 552.000 pekerja sektor perhotelan, pengembangan keterampilan bagi 400.000 tenaga kerja pariwisata setiap tahun, serta perluasan akses visa dan konektivitas udara.

Pemerintah juga mendorong inovasi produk wisata dengan harga kompetitif. Pengembangan acara yang memadukan pariwisata dengan olahraga, musik, dan industri kreatif menjadi salah satu cara untuk menjangkau segmen wisatawan yang lebih luas.

Penguatan industri Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) turut menjadi perhatian, terutama melalui upaya menarik lebih banyak acara bisnis internasional dan menghubungkan penyelenggara dengan pelaku usaha lokal.

Baca Juga:  Daftar 28 Perusahaan Dicabut Izinnya, LIRA Soroti Tata Kelola Lingkungan

Bagi daerah tujuan wisata seperti Malang Raya, arah kebijakan tersebut dapat menjadi peluang untuk mengembangkan paket wisata, memperkuat promosi destinasi, serta memperluas keterlibatan UMKM dan pekerja lokal. Namun, besarnya manfaat yang diterima daerah akan bergantung pada kesiapan infrastruktur, kualitas layanan, inovasi produk, dan kemampuan pelaku usaha memanfaatkan permintaan wisata.

“Visi kita sangat jelas. Pariwisata perlu menciptakan lapangan kerja berkualitas, memberdayakan masyarakat lokal, menarik investasi berkelanjutan, serta memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global,” pungkas Dradjad.

Pada 2026, pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 16 juta hingga 17,6 juta kunjungan dan kontribusi sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto sebesar 4,5–4,7 persen.