Wisata  

Kajoetangan Heritage Malang: Jalan Kaki Dua Jam Menembus Tiga Abad Sejarah Kota

Iklan

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Tiket masuk Kampoeng Heritage Kajoetangan hanya Rp5.000. Pengelola sudah menyediakan peta rute dan postcard bergambar bangunan lawas bernuansa vintage sebagai suvenir. Pengunjung tidak perlu mengikuti jadwal tur tertentu atau mengantre wahana. Kamu cukup berjalan kaki sambil menikmati cerita sejarah yang tersembunyi di setiap sudut kampung.

Kampung heritage ini berada di Jalan Jenderal Basuki Rahmat Gang 4, Kauman, Kecamatan Klojen, tepat di pusat Kota Malang. Dari Alun-Alun Tugu, jaraknya sekitar 1,5 kilometer. Sementara dari Stasiun Malang Kotabaru, pengunjung hanya perlu berjalan kaki sekitar 500 meter. Di balik gang-gang sempit tersebut, Kajoetangan menyimpan jejak sejarah Kota Malang yang masih terasa hidup hingga sekarang.

Iklan

Kampung Heritage yang Tetap Menjadi Permukiman Warga

Kajoetangan menghadirkan suasana berbeda dibandingkan banyak kawasan heritage lain di Indonesia. Warga tidak mengosongkan kampung ini untuk kepentingan wisata. Sekitar 1.500 kepala keluarga masih tinggal dan menjalani aktivitas sehari-hari di tengah bangunan berusia ratusan tahun.

Pengunjung bisa melihat ibu rumah tangga menjemur pakaian di depan rumah kolonial beratap perisai. Di sudut lain, seorang lansia duduk santai di kursi rotan teras Rumah Jengki dengan desain atap asimetris khas era 1960-an. Kehidupan sehari-hari warga itulah yang membuat suasana Kajoetangan terasa autentik dan sulit ditemukan di museum modern.

Deretan Spot Bersejarah yang Wajib Dikunjungi

Rumah 1870

Bangunan ini menjadi rumah tertua di kawasan Kajoetangan. Pemilik pertama mendirikannya sekitar tahun 1870 dengan gaya arsitektur Betawi yang menonjolkan atap perisai, jendela tinggi, dan ventilasi lebar. Saat ini, pemilik rumah masih memanfaatkannya sebagai toko jamu tradisional.

Rumah Jengki

Rumah seluas 160 meter persegi ini memiliki atap miring asimetris yang menjadi ciri khas arsitektur Jengki. Pada masa lalu, keturunan Arab pernah menempati bangunan tersebut. Kini, banyak wisatawan menjadikannya sebagai latar foto favorit.

Rumah Namsin

Bangunan bergaya Nieuwe Bouwen ini berdiri di Jalan Basuki Ahmad No. 31. Van Doorene, warga Belanda, membangun rumah tersebut pada awal abad ke-20. Antara 1924 hingga 1940, bangunan ini berfungsi sebagai toko mesin jahit Singer yang cukup terkenal pada zamannya.

Terowongan Semeru

Warga pribumi memanfaatkan terowongan bawah tanah ini sebagai tempat persembunyian saat Agresi Militer Belanda II berlangsung. Dahulu, jalur bawah tanah tersebut menghubungkan kawasan Kajoetangan dengan area Tugu dan Stasiun Malang. Kini, pengunjung masih bisa masuk dan merasakan suasana lorong yang gelap serta sempit.

Makam Eyang Honggo Kusumo

Setelah Perang Diponegoro berakhir pada 1830, Eyang Honggo Kusumo memilih Malang sebagai tempat pengasingan. Tokoh tersebut kemudian menyebarkan ajaran Islam di kawasan Kajoetangan. Hingga sekarang, masyarakat masih rutin berziarah ke makamnya.

Kali Sukun

Area Kali Sukun menawarkan suasana estetik dengan pagar bergaya Eropa, mural tiga dimensi bernuansa kanal Amsterdam, dan lampu jalan yang romantis. Menjelang sore hari, kawasan ini selalu ramai oleh pengunjung yang ingin berfoto.

Pasar Krempyeng

Pasar Krempyeng Kajoetangan aktif setiap pagi dan menjadi pusat kuliner tradisional warga sekitar. Setelah revitalisasi tahun 2019, pengelola pasar rutin menghadirkan pertunjukan Topeng Malang dan musik keroncong.

Warung Kopi Hamur Mbah Ndut 1923

Warung kopi legendaris ini sudah berdiri sejak 1923. Hingga kini, pengelola masih mempertahankan cara penyajian kopi tradisional yang sederhana dan khas tempo dulu.

Depot Es Taloen

Depot yang berada dekat pintu masuk Jalan A.R. Hakim ini menyajikan es taloon, minuman tradisional berisi dawet, pacar cina, cincau, serutan es, susu kental manis, dan sirup merah. Banyak pengunjung memilih minuman ini untuk melepas dahaga setelah berkeliling kampung.

Galeri AEO dan Studio Foto

Galeri ini menyimpan berbagai koleksi barang antik seperti kamera lawas, furnitur klasik, dan motor tua. Pengunjung juga bisa menggunakan koleksi tersebut sebagai properti foto bernuansa vintage.

Teknologi QR Code Permudah Wisata Sejarah

Pengelola Kajoetangan memasang QR code di sejumlah bangunan bersejarah. Pengunjung cukup memindai kode menggunakan ponsel untuk melihat informasi lengkap tentang sejarah bangunan, pemilik, hingga fungsi bangunan pada masa lampau. Kehadiran fitur ini membuat wisata mandiri tetap terasa informatif tanpa bantuan pemandu.

Informasi Lengkap Kunjungan

Kampoeng Heritage Kajoetangan membuka layanan setiap hari. Pada Senin hingga Jumat, kawasan wisata ini beroperasi pukul 07.00–20.00 WIB. Sementara pada Sabtu dan Minggu, pengelola membuka area wisata mulai pukul 06.00–22.00 WIB.

Harga tiket masuk reguler sebesar Rp5.000 per orang dan sudah termasuk peta rute serta postcard vintage. Pengelola juga menyediakan paket wisata edukasi Rp25.000 untuk minimal 10 peserta. Paket tersebut mencakup welcome drink, snack, dan pendamping wisata. Selain itu, tersedia paket foto pre-wedding dengan biaya Rp200.000.

Biaya parkir motor sebesar Rp3.000, sedangkan mobil Rp5.000. Pengunjung sebaiknya membawa uang tunai karena sebagian besar warung di dalam kawasan belum menyediakan pembayaran digital.

Wisata Sejarah yang Mengubah Cara Pandang tentang Malang

Banyak wisatawan hanya singgah sebentar di Kota Malang sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota Batu. Padahal, Kajoetangan Heritage menawarkan pengalaman berbeda yang tidak sekadar menghadirkan bangunan tua atau spot foto estetik.

Kawasan ini menghadirkan gambaran nyata tentang kehidupan masyarakat Malang pada masa lalu. Pengunjung masih bisa menikmati kopi tradisional sambil melihat aktivitas warga di sekitar rumah-rumah bersejarah.

Waktu terbaik untuk datang yaitu pagi hari saat Pasar Krempyeng mulai ramai dan udara masih sejuk. Bawalah kamera dan luangkan waktu sekitar dua jam agar kamu bisa menikmati seluruh sudut Kajoetangan dengan lebih santai.

Iklan
Iklan
Iklan