SUARAMALANG.COM – Membentuk kebiasaan hidup sehat pada remaja tidak cukup dengan meminta anak rajin belajar, makan sayur, atau tidur lebih awal. Di tengah derasnya informasi dari media sosial, orang tua perlu membantu anak membangun rutinitas yang sehat sekaligus memahami informasi kesehatan yang mereka temui setiap hari.
Persoalan tersebut semakin relevan di Malang. Pada September 2026, Pemerintah Kota Malang menjalankan Aksi Bergizi di Sekolah Bikin Tambah Ceria (AGISTA) di 306 sekolah dengan sasaran 48.625 siswa SMP hingga SMA sederajat.
Program tersebut mendorong kebiasaan sarapan sehat, konsumsi makanan bergizi seimbang, aktivitas fisik, serta konsumsi Tablet Tambah Darah bagi remaja putri. Pemkot Malang juga mencatat masih adanya persoalan seperti kebiasaan tidak sarapan, pola konsumsi yang belum seimbang, jajanan kurang sehat, dan kurangnya aktivitas fisik pada usia sekolah.
Masa Remaja Menjadi Waktu Penting Membentuk Kebiasaan
Masa remaja bukan sekadar fase menuju dewasa. Pada periode ini terjadi perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang dapat memengaruhi kebiasaan seseorang hingga usia berikutnya.
Kementerian Kesehatan menempatkan gizi, aktivitas fisik, kesehatan jiwa, pencegahan penyakit, serta perkembangan positif sebagai bagian penting dari upaya kesehatan remaja. Karena itu, kebiasaan yang terbentuk di rumah dan sekolah memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan mereka.
WHO juga menempatkan keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar sebagai bagian penting dalam mendukung kesejahteraan remaja. Lingkungan yang aman dan suportif membantu remaja mengembangkan keterampilan sosial, mengelola emosi, menjaga kesehatan fisik, dan mencari pertolongan ketika menghadapi masalah.
Karena itu, orang tua tidak harus menjadi “polisi kesehatan” di rumah. Peran yang lebih penting adalah menjadi contoh dan teman berdiskusi bagi anak.
Mulai dari Tiga Kebiasaan: Tidur, Makan, dan Bergerak
Kebiasaan sehat tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Justru rutinitas sederhana yang dilakukan konsisten lebih mudah diterapkan dalam kehidupan remaja.
Pertama, perbaiki pola tidur. Jadwal sekolah, pekerjaan rumah, aktivitas tambahan, hingga penggunaan gawai sering membuat waktu tidur remaja mundur. Kementerian Kesehatan menyebut remaja membutuhkan sekitar 8–9 jam tidur setiap hari untuk mendukung kesehatan, kesejahteraan emosional, dan aktivitas belajar.
Orang tua dapat memulainya dengan membuat waktu tidur dan bangun yang relatif konsisten. Kebiasaan menggunakan ponsel menjelang tidur juga dapat dikurangi secara bertahap, bukan dengan mengambil gawai secara tiba-tiba tanpa menjelaskan alasannya.
Kedua, perhatikan isi piring. Remaja membutuhkan makanan yang beragam dan seimbang, bukan diet ketat untuk mengejar bentuk tubuh tertentu.
Biasakan anak mengenal sumber karbohidrat, protein, sayur, buah, dan air putih. Orang tua juga dapat mengajak anak membaca label makanan atau minuman sehingga mereka tidak hanya mengikuti tren kuliner yang muncul di media sosial.
Ketiga, biasakan bergerak. Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa olahraga di pusat kebugaran. Jalan kaki, bersepeda, bermain olahraga bersama teman, atau melakukan aktivitas fisik lain dapat menjadi bagian dari rutinitas.
Di Kota Malang, pentingnya kebiasaan tersebut juga tercermin dalam AGISTA 2026 yang menggabungkan edukasi makanan sehat dan aktivitas fisik sebagai bagian dari pembentukan perilaku hidup sehat di sekolah.
Jangan Abaikan Kesehatan Mental Remaja
Kebiasaan sehat bukan hanya soal berat badan, makanan, atau kebugaran. Kesehatan mental juga perlu menjadi bagian dari percakapan keluarga.
WHO menyebut masa remaja sebagai periode penting dalam pembentukan kebiasaan sosial dan emosional. Tekanan dari teman sebaya, pencarian identitas, pengalaman buruk, masalah keluarga, hingga tekanan sosial dapat memengaruhi kesehatan mental remaja.
Karena itu, pertanyaan orang tua sebaiknya tidak selalu berpusat pada nilai sekolah. Sesekali, tanyakan bagaimana perasaan anak, apa yang membuatnya lelah, siapa teman yang membuatnya nyaman, atau apakah ada sesuatu yang sedang membuatnya khawatir.
Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya hubungan emosional yang dekat antara orang tua dan anak. Memberikan perhatian, menghargai pendapat anak, menyediakan waktu bersama, serta menciptakan ruang agar anak dapat bercerita menjadi bagian dari dukungan kesehatan mental.
Sekolah yang Aman Sama Pentingnya dengan Menu Sehat
Kebiasaan hidup sehat tidak akan tumbuh optimal jika lingkungan anak justru membuat mereka merasa tidak aman.
Perundungan, tekanan pertemanan, kekerasan, diskriminasi, atau rasa takut datang ke sekolah dapat memengaruhi kesejahteraan remaja. Karena itu, kesehatan sekolah perlu dipahami secara lebih luas daripada sekadar kebersihan toilet, kantin, atau halaman sekolah.
WHO menekankan bahwa sekolah memiliki peran penting dalam memberikan pendidikan kesehatan dan keterampilan hidup, mendorong aktivitas fisik, menyediakan lingkungan yang mendukung, serta membantu remaja memperoleh akses terhadap layanan kesehatan.
Dalam konteks Malang, pendekatan tersebut juga sejalan dengan penguatan kegiatan kesehatan di sekolah. AGISTA 2026 diintegrasikan dengan Trias UKS yang mencakup pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sehat.
Anak Perlu Belajar Menyaring Informasi Kesehatan
Masalah lain yang semakin penting adalah informasi kesehatan di media sosial. Remaja dapat menemukan berbagai konten tentang diet, olahraga, suplemen, kesehatan mental, hingga bentuk tubuh hanya dalam beberapa menit.
Tidak semua informasi tersebut memiliki dasar ilmiah. Konten yang terlihat meyakinkan juga belum tentu cocok untuk kebutuhan setiap anak.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya mengatakan “jangan percaya TikTok”. Ajarkan anak cara memeriksa sumber informasi, melihat siapa yang membuat konten, mencari rujukan dari lembaga kesehatan resmi, dan membandingkan klaim dengan sumber lain.
Orang tua juga dapat memperkenalkan sumber kesehatan yang kredibel seperti informasi kesehatan remaja Kementerian Kesehatan agar anak terbiasa mencari informasi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan Jadikan Hidup Sehat Sebagai Hukuman
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menjadikan pola hidup sehat sebagai bentuk hukuman. Anak dimarahi karena makan makanan tertentu, dibandingkan dengan teman yang lebih kurus, atau dipaksa berolahraga karena berat badannya meningkat.
Pendekatan tersebut justru dapat membuat kesehatan menjadi sumber tekanan. Anak perlu memahami bahwa makan bergizi, tidur cukup, dan bergerak merupakan cara merawat tubuh, bukan hukuman karena bentuk tubuh dianggap tidak ideal.
Hal yang sama berlaku untuk kesehatan mental. Ketika anak terlihat murung atau kehilangan semangat, respons pertama sebaiknya bukan langsung menyebutnya malas atau kurang bersyukur.
Dengarkan terlebih dahulu. Jika perubahan perilaku berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sekolah, hubungan sosial, tidur, makan, atau kesehariannya, orang tua dapat mempertimbangkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Lima Kebiasaan yang Bisa Dimulai Keluarga Malang
Membangun gaya hidup sehat tidak harus membutuhkan biaya besar. Keluarga dapat memulainya dari kebiasaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
- Tetapkan jam tidur yang konsisten dan kurangi penggunaan gawai menjelang tidur.
- Sediakan sarapan sederhana dengan kombinasi makanan yang beragam sesuai kebutuhan anak.
- Ajak anak bergerak setiap hari, misalnya berjalan kaki, bersepeda, atau melakukan olahraga yang mereka sukai.
- Sediakan waktu ngobrol tanpa menghakimi, termasuk membicarakan sekolah, pertemanan, media sosial, dan masalah yang sedang dihadapi.
- Ajarkan literasi kesehatan digital dengan membiasakan anak memeriksa sumber sebelum mengikuti tren diet, olahraga, suplemen, atau informasi kesehatan mental.
Kebiasaan tersebut tidak perlu diterapkan sekaligus. Pilih satu atau dua perubahan terlebih dahulu, kemudian jadikan bagian dari rutinitas keluarga.
Generasi Sehat Dimulai dari Rumah dan Sekolah
Upaya membentuk generasi sehat tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah, orang tua, atau fasilitas kesehatan. Remaja membutuhkan lingkungan yang saling mendukung agar kebiasaan baik dapat bertahan.
Penelitian Universitas Negeri Malang pada 2026 juga menyoroti hubungan antara gaya hidup remaja perempuan, kualitas tidur, aktivitas fisik, dan kondisi fisiologis. Penelitian tersebut menjadi salah satu contoh bahwa kebiasaan sehari-hari remaja perlu dipahami sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif, bukan baru diperhatikan ketika muncul masalah kesehatan.
Pada akhirnya, membesarkan remaja yang sehat bukan berarti membuat mereka mengikuti daftar aturan yang panjang. Yang lebih penting adalah membantu mereka memahami tubuhnya, mengenali emosinya, membuat pilihan yang lebih sehat, dan tahu kepada siapa harus meminta bantuan ketika menghadapi masalah.
Bagi keluarga di Malang, kebiasaan itu dapat dimulai dari hal yang sangat sederhana: sarapan sebelum sekolah, tidur lebih teratur, bergerak setiap hari, berbicara tanpa menghakimi, dan belajar bersama memilah informasi kesehatan di dunia digital.
Karena generasi sehat tidak dibentuk dalam satu kegiatan atau satu kampanye. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang, di rumah, di sekolah, dan dalam kehidupan sehari-hari.














