Tekno  

Deepfake AI Makin Meyakinkan, Komdigi Dorong Penguatan Deteksi Konten Palsu

Wamenkomdigi Nezar Patria menyoroti pentingnya deteksi deepfake dan penelusuran keaslian konten untuk mengurangi risiko penipuan digital. (Foto: Dok. Komdigi)

SUARAMALANG.COM, JAKARTA – Teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) semakin mampu meniru wajah dan suara manusia. Kemampuan ini membuka peluang inovasi, tetapi juga meningkatkan risiko penyalahgunaan teknologi untuk membuat video palsu yang digunakan dalam penipuan digital.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai penguatan deteksi deepfake perlu menjadi perhatian serius, terutama ketika konten manipulatif mencatut identitas tokoh publik untuk meyakinkan calon korban.

Dalam acara IT Governance, Risk Management, Assurance, and Cybersecurity Summit 2026 di Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2026), Nezar menyebut video palsu berbasis AI telah menipu berbagai kelompok masyarakat, termasuk orang lanjut usia, anak-anak, dan kalangan terpelajar.

Ia mencontohkan sejumlah insiden ketika nama gubernur dicatut dalam video yang mengarahkan masyarakat untuk menyetorkan uang ke rekening tertentu. Menurutnya, praktik tersebut menimbulkan kerugian hingga puluhan juta rupiah.

Jejak Keaslian Konten Jadi Perhatian

Nezar menekankan bahwa upaya mendeteksi deepfake tidak seharusnya hanya dibebankan kepada pengguna. Platform digital dan pengembang AI juga perlu mengambil peran dalam mengenali serta menelusuri keaslian konten yang beredar.

Salah satu pendekatan yang disoroti adalah provenance and authenticity, yakni penelusuran asal-usul dan keaslian konten digital.

Pendekatan ini dapat memanfaatkan informasi teknis atau metadata untuk membantu mengetahui asal-usul suatu konten dan mendeteksi indikasi perubahan. Nezar mencontohkan penggunaan metadata pada foto dari sejumlah perangkat ponsel pintar yang dapat menyimpan informasi terkait konten.

Baca Juga:  Redmi A3, Smartphone Entry-Level Terbaru dari Xiaomi dengan Harga Rp 1 Jutaan

Meski demikian, metadata bukan jaminan mutlak bahwa suatu konten asli. Informasi tersebut dapat hilang atau berubah dalam proses distribusi, sehingga pemeriksaan tetap perlu dilakukan dengan metode lain.

“Jadi, harus ada yang namanya jejak otentisitas dari satu konten yang dihasilkan,” ujar Nezar.

Menurutnya, penguatan teknologi pendeteksi dan penelusuran keaslian perlu disertai tanggung jawab platform digital serta pengembang AI agar masyarakat memiliki cara yang lebih baik untuk membedakan konten asli dan hasil manipulasi.

Cara Masyarakat Menghindari Penipuan Deepfake

Di tengah perkembangan teknologi tersebut, masyarakat juga perlu meningkatkan kecakapan digital. Video yang menampilkan wajah tokoh terkenal atau suara yang terdengar meyakinkan tidak otomatis membuktikan bahwa pesan di dalamnya benar.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan ketika menemukan video atau rekaman mencurigakan.

  • Periksa sumber aslinya. Cari tahu apakah video atau pernyataan serupa juga dipublikasikan melalui kanal resmi orang atau lembaga yang disebut.
  • Waspadai permintaan transfer uang. Jangan langsung menyetorkan dana hanya karena video menampilkan tokoh publik, pejabat, atau figur yang dikenal.
  • Verifikasi melalui saluran lain. Jika sebuah video mengajak berinvestasi atau menjanjikan keuntungan, periksa informasi tersebut melalui sumber resmi dan independen.
  • Jangan terburu-buru menyebarkan konten. Tahan diri untuk tidak meneruskan video yang belum jelas sumber dan kebenarannya.
  • Laporkan dugaan penipuan. Simpan tautan, tangkapan layar, atau bukti komunikasi yang relevan untuk membantu proses pemeriksaan.
Baca Juga:  Palword: Game Viral yang Mengubah Nasib, Penciptanya Menjadi Miliarder dalam Sekejap

Nezar juga menekankan pentingnya keberanian masyarakat untuk melaporkan dugaan kejahatan siber. Laporan tersebut dapat membantu proses analisis dan pendeteksian pola kejahatan digital.

Pesan utamanya, perkembangan AI perlu diimbangi sistem deteksi yang memadai, tanggung jawab penyedia teknologi, dan kemampuan masyarakat memeriksa informasi. Dengan begitu, teknologi dapat dimanfaatkan secara produktif tanpa membuat publik semakin rentan terhadap manipulasi digital.