Kabupaten Malang
Berita  

Siswa SD di Pemalang Tak Masuk Sekolah Dua Bulan Usai Orang Tua Kritik MBG, Kepala Sekolah Dilaporkan

Anak Disebut Takut dan Malu Kembali ke Sekolah

Iklan

SUARAMALANG.COM, Pemalang – Nasib memprihatinkan dialami Safarudin Azim, siswa kelas 1 SD Negeri 1 Banjaranyar, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Bocah berusia sekitar 9 tahun itu sudah lebih dari dua bulan tidak masuk sekolah setelah muncul konflik antara orang tuanya dengan pihak sekolah.

Kasus siswa SD di Pemalang tersebut ramai diperbincangkan publik usai viral di media sosial. Persoalan itu kemudian berujung laporan ke Polres Pemalang.

Iklan

Perselisihan bermula ketika ayah Azim, Arsa Tugimin (40), mengunggah kritik mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Februari 2026. Dalam unggahan itu, ia menyoroti menu makanan yang diterima siswa dan menilai nilainya tidak sesuai.

Unggahan tersebut kemudian sampai ke pihak sekolah. Tugimin mengaku dipanggil untuk memberikan klarifikasi terkait postingan tersebut.

Namun, pertemuan itu justru berujung cekcok antara dirinya dengan kepala sekolah. Ia menegaskan tujuan unggahan itu hanya sebagai bentuk kritik dan edukasi.

“Pada intinya tujuan saya hanya ingin mengedukasi. Saya tidak ingin sebuah kebobrokan itu terjadi,” kata Tugimin, Sabtu (2/5/2026).

Menurut Tugimin, dalam perdebatan tersebut dirinya merasa diusir dari sekolah. Ia juga mengklaim anaknya dikeluarkan secara lisan oleh kepala sekolah.

“Mulai besok anak kamu saya keluarkan, tidak usah sekolah di sini,” ujar Tugimin menirukan ucapan yang ia dengar saat itu.

Orang Tua Sebut Anak Trauma Datang ke Sekolah

Setelah kejadian tersebut, Azim sempat kembali masuk sekolah selama beberapa hari. Namun, anak itu disebut merasa takut dan malu untuk datang lagi.

Tugimin mengaku anaknya pernah pulang sambil membawa makanan MBG dan meminta sang ayah tidak lagi mengunggah persoalan sekolah ke media sosial.

“Anak saya bilang, ‘Ayah jangan diposting lagi, takut nanti Azim dimarahin Bu Guru’,” katanya.

Ia juga menyebut Azim merasa malu masuk sekolah karena sering dipanggil menggunakan nama ayahnya oleh kepala sekolah.

Kini, sejak Februari 2026, Azim lebih banyak berada di rumah dan bermain seperti anak seusianya. Meski demikian, Tugimin berharap anaknya tetap bisa kembali bersekolah.

“Sangat ingin sekolah lagi, karena saya ingin anak saya bisa sekolah seperti anak-anak lainnya,” ujarnya.

Tugimin akhirnya melaporkan kepala sekolah ke Polres Pemalang atas dugaan perundungan terhadap anaknya. Kasus tersebut kini masih ditangani kepolisian.

Polisi disebut telah meminta keterangan dari sejumlah pihak terkait laporan dugaan bullying tersebut.

Kepala Sekolah Bantah Keluarkan Siswa

Kepala SD Negeri 1 Banjaranyar, Sri Umbartiningsih, membantah tuduhan telah mengeluarkan Safarudin Azim dari sekolah.

Menurut Sri, persoalan bermula setelah ayah siswa mengunggah kritik mengenai program MBG melalui media sosial. Ia menegaskan program tersebut bukan kewenangan sekolah.

“Kalau mau protes, protesnya langsung saja ke SPPG. Kami hanya penerima manfaat,” kata Sri.

Ia mengatakan suasana sekolah sempat menjadi tidak nyaman setelah unggahan tersebut ramai dibicarakan masyarakat.

Sri menjelaskan Azim terakhir aktif masuk sekolah pada 24 Februari 2026. Sejak saat itu, siswa tersebut tidak kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar.

“Sejak tanggal 24 Februari saat berita ini diunggah ke media dan medsos,” ujarnya.

Meski tidak hadir di sekolah, Sri menegaskan status Azim hingga kini masih tercatat aktif sebagai siswa SDN 1 Banjaranyar.

“Status anak ini sampai detik ini masih aktif. Di absen kami beri keterangan alpha dan Dapodik juga masih aktif,” jelasnya.

Sekolah Klaim Sudah Lakukan Mediasi

Pihak sekolah, lanjut Sri, sudah beberapa kali mendatangi rumah siswa untuk membujuk agar kembali belajar. Bahkan Dinas Pendidikan disebut ikut turun tangan.

“Kami sudah berusaha melakukan kunjungan ke rumah, baik dari sekolah maupun dari dinas,” katanya.

Namun, menurut Sri, pihak keluarga sulit ditemui. Ia menyebut hanya istri Tugimin yang pernah menerima kedatangan guru kelas.

Selain itu, sekolah juga mengaku telah membuka ruang mediasi mulai tingkat sekolah hingga kecamatan. Akan tetapi, tidak seluruh undangan dihadiri pihak orang tua.

“Kami sudah melakukan upaya mediasi, baik tingkat sekolah maupun kecamatan,” ujar Sri.

Mengenai tudingan perundungan, Sri membantah keras telah melakukan bullying terhadap siswa tersebut.

Menurutnya, yang terjadi hanya bentuk pembinaan terhadap siswa karena diduga sempat mengganggu teman-temannya di kelas.

“Itu hanya pembinaan kepada peserta didik supaya tidak mencontohkan lagi ucapan yang kurang baik,” jelasnya.

Sri juga mengaku mendapat panggilan dari Polres Pemalang pada Sabtu siang untuk memberikan keterangan terkait laporan dugaan perundungan tersebut.

Iklan
Iklan
Iklan