Tol Malang–Kepanjen Berpotensi Tingkatkan LHR Pansela dan Pariwisata Selatan

SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Rencana pembangunan jalan tol Malang–Kepanjen mulai menunjukkan perkembangan positif setelah Pemerintah Kabupaten Malang memaparkan potensi proyek tersebut ke Kementerian Pekerjaan Umum, dengan fokus utama mendorong peningkatan lalu lintas menuju kawasan Pantai Selatan (Pansela).

Paparan tersebut menitikberatkan pada efek lanjutan pembangunan tol terhadap konektivitas wilayah, khususnya jika akses keluar tol diarahkan untuk terhubung dengan jalur menuju kawasan wisata selatan Malang.

Dorong Konektivitas dan LHR Pansela

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Kabupaten Malang Khairul Isnaidi Kusuma menjelaskan, saat ini rencana titik keluar (exit tol) masih mengarah ke wilayah Pakisaji, Gondanglegi, dan Kromengan, meski keputusan final tetap berada di tangan pemerintah pusat.

Menurutnya, arah konektivitas ke Gondanglegi menjadi krusial karena dapat terhubung langsung dengan jalur Gondanglegi–Balekambang yang selama ini menjadi akses utama menuju kawasan Pansela.

“Tapi yang penting mengarah ke Gondanglegi agar terkoneksi dengan jalan Gondanglegi-Balekambang supaya bisa menghidupkan Pansela, agar Pansela itu LHR nya tinggi. Karena sudah berapa anggaran yang dikeluarkan oleh kementerian untuk menghidupkan Pansela, tetapi LHR nya masih rendah,” ungkapnya, Kamis (2/4/2026).

Upaya ini dinilai strategis mengingat peningkatan Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) menjadi indikator penting dalam menilai kelayakan ekonomi dan keberlanjutan investasi infrastruktur jalan.

Kajian Ulang dan Skema Pembiayaan

Secara teknis, proyek jalan tol Malang–Kepanjen diperkirakan memiliki panjang sekitar 30 kilometer dengan kebutuhan anggaran mencapai Rp 10,04 triliun.

Namun demikian, pemerintah daerah bersama Kementerian PUPR tengah mengupayakan efisiensi biaya melalui kajian ulang studi kelayakan (feasibility study/FS) dan desain dasar proyek.

Proses review tersebut dijadwalkan dimulai pada April hingga Mei 2026 dan ditargetkan rampung pada akhir tahun.

“Kebutuhan anggarannya Rp 10,04 triliun. Tapi itu diupayakan untuk ditekan. Makanya review FS itu selain teknis, sosial, dampak ekonomi, termasuk pembiayaan,” jelasnya.

Penyesuaian jumlah exit tol menjadi salah satu variabel penting dalam pengendalian biaya, tanpa mengurangi manfaat utama konektivitas wilayah.

Optimisme Realisasi dan Tantangan Global

Pemerintah Kabupaten Malang tetap optimistis proyek ini dapat memasuki tahap persiapan pembangunan pada 2027, meskipun sejumlah faktor eksternal masih menjadi perhatian.

Pengalaman tertundanya proyek akibat pandemi Covid-19 serta dinamika geopolitik global menjadi catatan penting dalam menjaga keberlanjutan rencana pembangunan.

Di sisi lain, dukungan dari pemerintah pusat dinilai cukup kuat, terutama setelah adanya respons positif terhadap paparan yang disampaikan oleh Pemkab Malang.

Dengan posisi strategis sebagai penghubung kawasan ekonomi dan pariwisata, jalan tol Malang–Kepanjen diharapkan tidak hanya mempercepat mobilitas, tetapi juga mendorong pertumbuhan kawasan selatan yang selama ini belum optimal.

Pada akhirnya, keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, serta kemampuan menjaga keseimbangan antara efisiensi biaya dan dampak ekonomi jangka panjang bagi masyarakat.

Exit mobile version