SUARAMALANG.COM, Jakarta – Perayaan HUT ke-44 Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) berlangsung meriah di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan, Sabtu (2/5/2026). Mengusung tema “Omong Kosong”, acara tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus panggung ekspresi musisi jalanan dari berbagai daerah di Indonesia.
Sebelum acara puncak digelar, panitia lebih dahulu mengadakan malam perenungan di Sekretariat KPJ Jakarta pada Jumat (1/5/2026) malam. Kegiatan itu ditandai pemotongan tumpeng oleh Presiden KPJ Indonesia, Anto Baret.
Momentum tersebut menjadi simbol rasa syukur karena KPJ masih bertahan dan tetap solid hingga memasuki usia ke-44 tahun. Sejumlah anggota dan pengurus KPJ turut hadir dalam suasana penuh keakraban.
Diawali Ziarah Tokoh Senior KPJ
Rangkaian HUT KPJ juga diisi kegiatan ziarah ke makam sejumlah tokoh dan senior KPJ. Beberapa di antaranya yakni WS Rendra, Atok Klobot, dan Hendro Sujatmoko.
Kegiatan itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap para tokoh yang dianggap berjasa dalam perjalanan komunitas penyanyi jalanan tersebut. Tradisi itu juga menjadi pengingat nilai solidaritas di tubuh KPJ.
Memasuki acara puncak di Bulungan, suasana semakin semarak saat Anto Baret tampil di atas panggung. Ia menyapa para anggota KPJ dari berbagai daerah yang hadir memeriahkan acara.
“Ulang tahun nih yee,” ucap Anto Baret sebelum membawakan sejumlah lagu.
Beberapa lagu yang dibawakan antara lain Senandung Istri Bromocorah, Kupaksa Untuk Melangkah, Kabar Damai, hingga karya terbaru dari album Sketsa Jalanan.
Musisi Jalanan dari Berbagai Daerah Hadir
Perayaan HUT KPJ ke-44 dihadiri perwakilan KPJ dari berbagai daerah. Mulai dari Pandeglang, Bandung, Rangkasbitung, Surabaya, Serang, Bekasi, Mampang, Tangerang, Sumedang, hingga Makassar.
Ketua Panitia HUT KPJ ke-44, Uluy, menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota dan tamu undangan yang hadir. Ia berharap momentum tersebut semakin mempererat hubungan antaranggota KPJ di seluruh Indonesia.
Menurutnya, KPJ bukan sekadar komunitas seni jalanan. Organisasi itu juga menjadi ruang kebersamaan dan persaudaraan bagi para anggotanya.
Sementara itu, Anto Baret menegaskan panggung HUT KPJ menjadi ruang apresiasi karya bagi musisi jalanan. Ia berharap seluruh anggota tetap istiqomah dalam berkarya.
Anto Baret Kritik Fenomena “Omong Kosong”
Di balik suasana perayaan, Anto Baret turut menyampaikan kritik sosial terkait fenomena “omong kosong” dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, persoalan menjadi serius ketika ucapan pemimpin tidak sejalan dengan realita.
Ia menilai terdapat dua jenis “omong kosong” dalam kehidupan sehari-hari. Pertama adalah gurauan atau obrolan santai yang tidak merugikan orang lain.
Namun, menurutnya, situasi berbeda ketika “omong kosong” keluar dari para pemimpin. Sebab ucapan pemimpin seharusnya dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat.
“Kalau pemimpin omongannya sudah tidak bisa dipegang, harapan rakyat jelata untuk merasakan kemerdekaan yang sebenarnya itu sulit,” ujar Anto Baret.
Ia juga menyoroti sejumlah program yang dinilai dipaksakan meski sudah ada kebijakan lain yang dianggap lebih tepat sasaran. Salah satu yang disinggung ialah soal pendidikan gratis bagi anak.
Pemimpin Diminta Tidak Anti Kritik
Menurut Anto, pemimpin seharusnya tidak anti kritik. Ia menilai kritik masyarakat penting sebagai pengingat terhadap kondisi rakyat kecil dan janji politik yang belum terealisasi.
Anto juga menyinggung pentingnya sinkronisasi kebijakan agar penggunaan anggaran negara tepat sasaran. Ia menilai ketidaktepatan kebijakan dapat berdampak terhadap martabat bangsa.
“Bukan hanya soal reputasi pribadi pemimpin, tetapi martabat bangsa juga dipertaruhkan,” tegasnya.
Di usia ke-44 tahun, KPJ diharapkan tetap menjaga nilai kepedulian, solidaritas, dan persaudaraan antaranggota. Anto menegaskan KPJ tidak harus mengejar prestasi formal besar, tetapi tetap konsisten menjaga semangat kebersamaan.



















